Asal-usul Kota Pemalang

Pada zaman dulu, ketika Pulau Jawa belum dibelah jalan raya dan mobil, ketika sungai-sungai adalah urat nadi kehidupan, hiduplah sebuah wilayah yang sekarang kita kenal dengan Pemalang. Waktu itu orang-orang dari berbagai suku dan budaya sudah tinggal di sana, di pesisir utara Jawa Tengah, dekat laut, di dataran rendah, dan juga di kaki-kaki bukit. Mereka hidup dari bertani, menangkap ikan, bercocok tanam, menanam padi di sawah yang tergenang air, dan menjaga hubungan baik dengan alam, sungai, dan hujan.

Suatu hari, penduduk di wilayah ini menyaksikan bahwa banyak sungai mengalir melintang dari timur ke barat, memotong jalan mereka, persawahan mereka, dan desa-desa kecil mereka. Sungai-sungai itu menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan mereka. Tetapi sungai-sungai itu juga menimbulkan tantangan: banjir ketika musim hujan, rute dan transportasi yang susah ketika air meluap, dan medan sulit bagi mereka yang ingin melintasi wilayah itu. Kondisi geografis ini membuat masyarakat merasakan ada suatu batas, suatu halangan (halangan fisik maupun sosial) yang harus ditembus, diatur, dipahami.

Pada masa kemudian, muncul pemimpin lokal yang bijaksana. Ada sebutan-sebutan seperti Ki Buyut Jiwandono (atau Ki Buyut Banjaransari) yang dipandang penduduk sebagai pemuka masyarakat, tokoh yang menjaga ketertiban, memimpin dalam soal adat dan hukum lokal. Tetapi zaman berubah, dan apabila datang pengaruh kekuasaan lebih besar baik kekuasaan kerajaan Islam yang mulai berkembang, maupun kekuasaan politik local maka pemimpin lama pun, dalam beberapa cerita, menyerahkan atau melimpahkan kekuasaan kepada sosok yang kemudian populer dalam legenda sebagai Raden Joko Malang (kadang juga disebut Raden Sambungyudha).

Legenda mengatakan bahwa Raden Joko Malang memerintah wilayah tersebut bukan hanya sebagai kepala desa, tetapi sebagai pemimpin yang punya kewibawaan: ia dianggap mampu menjaga wilayah yang secara geografis penuh tantangan itu, menerobos rintangan-rintangan alam dan sosial. Nama “Malang” dalam legenda sering dikaitkan dengan sungai yang “melintang” atau arus yang susah, atau dengan keadaan yang penuh cobaan.

Seiring waktu, masyarakat mulai mulai menyebut daerah itu dengan nama baru. Dahulu, beberapa sumber menyebutnya “Babatan”, suatu nama kuno yang dipakai penduduk setempat sebelum muncul nama Pemalang. Tetapi sekitar tahun 1575, nama Pemalang mulai digunakan secara resmi, ketika wilayah itu diakui secara administratif sebagai entitas politik yang lebih kuat. Pemerintah daerah sekarang bahkan menetapkan 24 Januari 1575 sebagai hari jadi Pemalang.

Menurut cerita rakyat yang diwariskan dari generasi ke generasi, nama “Pemalang” sendiri muncul dari gabungan dua kata dalam bahasa Jawa: pepalang dan malang. “Pepalang” bermakna rintangan, halangan, atau pembatas sesuatu yang menghalangi atau menjadi tantangan. Sungai-sungai yang melintang dianggap sebagai halangan-halangan alam dari timur ke barat, sehingga masyarakat memandang wilayah itu sebagai “penghalang” alamiah terhadap aliran air, atau perjalanan. Sedangkan “malang” dalam konteks ini kadang diartikan sebagai “melintang” (sungai-yang melintang) atau bisa juga mempunyai konotasi “malang” dalam arti cobaan, kesusahan, tantangan. 

Ada pula yang mengaitkan pergantian kekuasaan agama dan budaya: dari tradisi lama (yang mungkin dipengaruhi agama Hindu-Buddha dan kepercayaan lokal) menuju Islam. Di tengah perubahan zaman itu, nama Pemalang dianggap menjadi simbol pemisah atau ‘palang’ antara zaman lama dan zaman baru. Dengan demikian nama tersebut bukan sekadar nama geografis, tetapi punya nilai filosofis: rintangan terhadap penjajah, terhadap kekuasaan yang tak adil, pembatas antara tradisi lama dan baru. 

Walau demikian, bagian-legenda sering bercampur dengan kenyataan sejarah. Tidak ada dokumen kuno yang secara pasti menyebutkan semua detail legenda tentang Raden Joko Malang, atau secara definitif menyebutkan bahwa ia benar-benar ada dengan semua kisah yang sekarang diceritakan. Tapi apa yang jelas adalah bahwa masyarakat menganggap sebagian cerita ini sebagai bagian identitas mereka: bahwa Pemalang lahir bukan dari tanah yang mudah, tetapi dari perjuangan melawan rintangan alam, masyarakat yang harus bersatu, dan pemimpin yang dihormati. Bukti-bukti berupa artefak, makam kuno, punden, toponim-toponim lama (nama-nama desa lama) juga mendukung bahwa wilayah Pemalang memang memiliki sejarah panjang yang berakar sejak zaman dulu. 

Akhirnya, Pemalang tumbuh. Dari sebuah wilayah dengan banyak sungai yang melintang, dengan petani-petani, nelayan, dan masyarakat desa yang menyusun kehidupan mereka di antara sawah dan sungai, Pemalang menjadi kabupaten dengan pemerintahan, dengan hukum, dan dengan budaya lokal yang khas. Pemalang menjadi bukan hanya nama tempat, tetapi lambang bahwa di tengah rintangan, masyarakat bisa hidup, bertahan, dan membangun peradaban kecil mereka sendiri.

Demikianlah asal-usul Pemalang menurut cerita rakyat dan sejarah lisan yang berkibar di hati Masyarakat sebuah kisah tentang halangan, perubahan, pemimpin, dan identitas.(*)

Oleh Muhamad Aufa Ulinuha