Tugas kuliah yang menumpuk, presentasi beruntun, dan tekanan akademik yang terus datang bisa membuat banyak mahasiswa merasa stres. Tidak jarang, tubuh ikut bereaksi dengan rasa panas di dada, perut perih, atau mulut terasa asam saat pikiran tegang. Jika kamu pernah mengalaminya, bisa jadi itu bukan sekadar efek lapar, melainkan tanda dari penyakit Gastroesophageal Reflux Disease (GERD), gangguan lambung yang berkaitan juga dengan kecemasan.
Secara medis, ketika seseorang merasa cemas, tubuh akan melepaskan hormon stres seperti kortisol. Hormon ini meningkatkan produksi asam lambung dan melemahkan otot katup bawah kerongkongan (Lower Esophageal Sphincter) yang berfungsi menahan asam agar tidak naik ke tenggorokan. Akibatnya, muncul sensasi tidak nyaman seperti dada terbakar atau heartburn. Beberapa penelitian di Indonesia juga membuktikan adanya hubungan ini. Studi dari Universitas Pendidikan Indonesia menunjukkan bahwa sekitar 42,3% mahasiswa mengalami gejala GERD dengan stres akademik sebagai faktor utamanya. Hasil serupa ditemukan dalam penelitian di Universitas Jambi yang menjelaskan bahwa mahasiswa dengan tingkat stres tinggi berisiko sebelas kali lebih besar mengalami GERD, terutama pada mereka yang sering menunda makan atau mengonsumsi kopi secara berlebihan.
Kondisi ini sering menciptakan lingkaran yang sulit diputus. Saat kecemasan meningkat, asam lambung ikut naik, dan ketika gejala muncul, kecemasan justru bertambah. Dalam jangka panjang, hal ini dapat memengaruhi kualitas hidup mahasiswa, mulai dari gangguan tidur, sulit fokus belajar, hingga berkurangnya nafsu makan. Meski begitu, gangguan ini bisa dikendalikan dengan perubahan kecil dalam kebiasaan sehari-hari. Mengatur waktu makan dengan teratur, mengurangi konsumsi makanan pedas dan kafein, serta memberi jeda sebelum tidur setelah makan dapat membantu mengurangi gejala.
Beberapa mahasiswa yang mulai rutin bermeditasi atau melakukan praktik mindfulness juga mengaku mengalami perbaikan pada keluhan lambung mereka. Penelitian acak terkendali menunjukkan bahwa metode Mindfulness-Based Stress Reduction (MBSR) mampu menurunkan kecemasan sekaligus memperbaiki kualitas hidup penderita GERD. Selain itu, praktik mindfulness membantu menstabilkan sistem saraf parasimpatis yang berperan penting dalam menjaga fungsi pencernaan.
Jika akhir-akhir ini kamu sering merasa perut tidak nyaman saat sedang cemas, jangan abaikan. Tubuhmu mungkin sedang memberi tanda bahwa ada beban yang perlu kamu kelola. Menjaga pikiran tetap tenang tidak hanya baik untuk mental, tetapi juga untuk kesehatan pencernaanmu.(*)
Oleh Zahwa Ivena Aurellia