Mitos Situ Cipanten

Kabut senja di tepi danau, tersembunyi sebuah permata alam bernama Situ Cipanten. Airnya yang tenang memantulkan birunya langit dan hijaunya pepohonan di sekelilingnya bagai cermin raksasa yang tak pernah lelah bercermin. Namun, di balik ketenangannya, tersimpan sebuah legenda yang telah diwariskan. Sebuah cerita yang berbisik tentang pengorbanan dan kekuatan alam yang tak terduga.

Pada zaman dahulu kala, kabut pagi yang lembut perlahan turun di lembah kaki Gunung Ciremai. Embun yang berayun di ujung dedaunan bagao permata yang berserakan, memantulkan cahaya mentari yang mulai merangkak naik. Konon, Terdapat sepasang suami istri yang tinggal di sebuah gubuk sederhana di tengah hutan yang rimbun, tak jauh dari mata air yang jernih. 

Matahari membakar ubun ubun bumi, mengirimkan sengatan panasnya bagai ribuan tombak. Langit membentang biru dan memancarkan cahaya sang surya. Sawah sawah yang dulunya menari riang kini hanya menyisakan lumpur yang retak. Tanah yang dulunya subur kini berubah menjadi padang tandus yang kejam, menolak segala kehidupan. Begitulah kondisi di musim kemarau saat itu. 

Di tengah kesulitan itu, sepasang suami istri tetap berusaha bertahan. Dengan kondisi yang terpuruk seoarang suami mencoba memenuhi sedikit demi sedikit kebutuhannya dengan mencari jalan keluar, keduanya selalu berdoa akan keberlangsungan hidupnya. Merenung di sebuah meja makan dengan napas yang berat dan tertahan. 

“Betapa beratnya musim ini, “ keluh salah satunya, suara serak ditelan dahaga.

“Kita harus tetap kuat,” jawab sang suami, menggenggam erat tangan pasangannya. “Alam sedang menguji kita.” 

“Aku yakin kekuatan doa bisa mengubah semua keadaan kita sekarang,” kalimat penenang terlontarkan dari sang istri.

Menyambut mentari pagi dengan sinarnya yang sayu, tak lagi sehangat biasanya, merayap masuk melalui celah dinding gubuk yang mulai retak. Udara terasa kering kerontang, membawa serta debu halus yang menyesakkan napas. Bangun dari tidur yang nyenyak, tubuh terasa lemas bagai ranting kayu yang patah. Suara kokok ayam pun terdengar lirik, seolah ikut merasakan kepediham alam yang dilanda kemarau panjang.

“Pagi ini adakah harapan untuk hujan?” tanya sang istri kepada suaminya.

“Sudah tidak mau berharap lagi, sudah berbulan bulan sawah kita mengering. Jangankan untung, modal bibit saja rasanya tak akan kembali “ jawab sang suami dengan putus asa.

Sang istri menghela napas panjang, ia pun menghampiri sawahnya, matanya menerawang jauh memandang hamparan sawah yang cokelat dan retak. Suaminya mengikuti langkah demi langkah istrinya.

“Sawah ini satu satunya harapan kita, “ lirih sang istri mulai membasahi pipinya. “Kalau sawah ini mati, kita mau makan apa?”

Sang suami merangkul bahu istrinya dan meyakinkannya. “Kita akan mencari cara lain, Berdoalah dan berjuang bersa,a. Ingatlah, kita pernah melewati masa masa sulit sebelumnya, dan kita selalu berhasil melewatinya. Badai pasti berlalu.”

Keesokan harinya menyapa dengan secangkir kopi sebelum senja. Duduk di beranda kayu menghadap ke arah perbukitan, pemandangan terhampar bagai lukisan alam yang memukau. Dengan harapan penuh menunggu datangnya hujan. Tiba tiba terusik oleh langkah kaki yang mendekat, suaminya keluar dari pintu rumah melengkapi percakapan percakapan sore itu. 

Belum sempat memperpanjang obrolan, keheningan senja pecah oleh gemuruh warga. Deru air turun dari 7 bukit. Pandangan mata tertuju ke arah tujuh bukit yang menjulang gagah di kejauhan. Keajaiban tak pernah terbayangkan terjadi di depan mata mereka. Dari lereng lereng bukit, bagai air mata bumi yang tercurah, memancar aliran aliran air yang jernih dan deras. Semua warga dengan gemuruhnya tersontak kaget dan bersyukur melihat keajaiban alam. 

“Lihatlah ini seperti permata air dari langit,” sahut seorang petani tua dengan nada haru.

“Inilah berkah kesabaran kita selama ini!” timpal seorang pemuda dengan mata berbinar.

“Tanah kita akan kembali subur” 

“Ini adalah air suci”

”Air telah membawa kehidupan kembali”

”Mari kira jaga sumber air ini baik baik,” sahut warga.

Harapan sepasang suami istri yang hampir putus asa dan warga lain yang merasakan kesengsaraan yang sama sangat takjub dan bersyukur melihat keajaiban tersebut.

Langit yang dihiasi semburat jingga perlahan tertutup oleh gumpalan awan hitam pekat yang bergerak cepat. Angin bertiup kencang, membawa serta bau tanah basah dan hawa dingin yang menusuk tulang. Butiran butiran air hujan mulai jatuh, semakin lama semakin deras, menghantam atap atap rumah dan dedaunan.

Hujan yang awalnya deras tak terkendali itu mereda. Air dari tujuh bukit terus mengalir tanpa henti, bertemu dan menyatu di lembah, membentuk sebuah genangan air yang semakin luas. Dalam waktu singkat, genangan air itu menjelma menjadi sebuah danau yang tenang dan indah dibawah pohon beringin, yang disebut Situ Cipanten.

Maka demikianlah, Situ Cipanten hadir sebagai jawaban atas doa dan harapan yang sempat redup di tengah kemarau yang panjang. Dinamai Situ Cipanten, mengenang pohon beringin yang menjadi saksi bisu awal mula keajaiban permata air dari tujuh bukit itu.(*)

Oleh Alifa Azkia