Tentang Tradisi Bulusan di Kudus

Tradisi Bulusan di Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, muncul dari cerita nenek moyang yang terkait asal muasal munculnya hewan air yang bernama bulus atau labi-labi jenis kura-kura yang memiliki tempurung lunak yang diyakini merupakan jelmaan dari dua manusia bernama Kumoro dan Komari, murid dari Kiai Dudo. Mbah Dudo seorang alim ulama penyebar agama Islam. Dia mempunyai murid bernama Kumara dan Komari. 

Dalam perjalanannya menyebarkan agama Islam dia berniat untuk mendirikan sebuah pesantren. Sesuai keyakinan, peristiwa tersebut terjadi pada malam 17 Ramadan ketika ada peringatan Nuzulul Quran di Desa Hadipolo yang dilaksanakan selesai Salat Tarawih. Pada kesempatan tersebut hadir Sunan Muria, namun saat acara berlangsung dua murid Kiai Dudo, Kumoro dan Komari mengeluarkan suara gaduh karena sedang mengambil benih padi. Sunan Muria berhenti sejenak dan berkata, “Lo, malam Nuzulul Quran kok tidak baca Al-Qur’an, malah di sawah berendam di air seperti bulus saja!”

Lantas kedua orang tersebut dikira bulus, setelah dilihat keduanya menjadi bulus. Lalu Sunan Muria dan diikuti kumoro dan komari pergi ke tempat Mbah Dudo untuk meminta maaf karena kekhilafan berucap menjadikan santri Mbah Dudo menjadi bulus, Sunan Muria kemudian menancapkan tongkatnya ke tanah yang diinjaknya, keluarlah mata air atausumber dari tempat tongkat ditancapkan, sehingga diberilah nama tempat itu dengan nama Dukuh Sumber. Kejadian selanjutnya, tongkat berubah menjadi pohon yang diberi nama pohon “tombo ati” (obat hati). Sebelum meninggalkan tempat itu, Sunan Muria berkata, “Besok anak cucu kalian akan menghormatimu setiap seminggu setelah har raya bulan Syawal. Tepatnya pada saat Bada Kupat, alias kupatan.” 

Setelah itu, Sunan Muria kembali bersabda dan memerintahkan Mbah Dudo berserta para santrinya untuk menjaga daerah tersebut dan menjanjikan bahwa akan ada orang yang memberi makan pada mereka, khususnya pada waktu syawalan. Di tempat tersebutlah tradisi Bulusan dilaksanakan sampai hari ini. Warga sekitar juga sangat percaya dan menghormati tradisi caos dhahar (memberi makan kepada “bulus” melalui Ibu Sudasih yang sebagai Juru Kunci terhadap bulus-bulus yang ada di sungai saat mempunyai hajat agar terhindar dari balak. 

Sekarang bulus itu berada di sebelah barat makam Mbah Dudo. hingga saat ini masih ada yang mengunjungi desa sumber hanya untuk berkunjung ke Sendang Mbah Dudo. Dan biasanya orang yang akan mempunyai hajat datang ke sini. 

Meskipun telah berubah menjadi bulus, nantinya setiap 8 Syawal akan diperingati oleh anak cucunya tanpa harus diundang. “Akhirnya, warga secara turun temurun melestarikan tradisi tersebut dengan merayakannya tradisi bulan Syawal dengan sebutan tradisi bulusan,” kata Ketua Panitia Perayaan Tradisi Bulusan Desa  Hadipolo. 

Perayaan tradisi bulusan diperkirakan berlangsung sudah lama, yakni sejak puluhan tahun ketika Sunan Muria masih menjalankan syiar agama Islam di daerah tersebut. Karena pelaksanaannya juga bertepatan dengan bulan Syawal, maka tradisi itu dimaknai pula sebagai ajang untuk bersilaturahmi dan saling memaafkan antarsesama, setelah sebelumnya menjalankan puasa sebulan penuh.  

Sebelumnya tradisi Bulusan digelar sederhana, yakni dilakukan doa bersama kemudian dilanjutkan dengan pemberian makan terhadap sejumlah bulus yang kala itu masih berada di aliran sungai berupa ketupat dan lepet. Kini bulus yang sudah berkembang biak menjadi belasan ekor itu ditempatkan di kolam khusus. Seiring animo masyarakat yang begitu besar untuk melihat tradisi bulusan, akhirnya dimeriahkan dengan aneka rangkaian kegiatan. 

Di antara aneka kegiatan itu, ada kirab gunungan hasil bumi dari warga sekitar dengan rute di jalan perkampungan hingga berakhir di tempat bulus tersebut berada. Kemudian hasil bumi tersebut diperebutkan warga yang mereka yakini bisa mendatangkan berkah karena sudah mendapatkan doa dari ulama setempat. Acara dilanjutkan dengan penyerahan kupat dan lepet kepada juru kunci bulusan, lantas diberikan kepada bulus sebagai makanannya. Pada malam harinya, dilanjutkan dengan pementasan wayang kulit sekaligus ikut melestarikan kebudayaan lokal terkait wayang kulit yang saat ini mulai ditinggalkan generasi muda, salah satunya karena mereka lebih kenal dengan permainan yang tersaji dari gawai.(*) 

Oleh Tanuna Revandea