Pada suatu masa yang jauh sebelum Ayah dan Ibu lahir, bahkan sebelum Kakek dan Nenek lahir, terdapat sebuah desa yang bernama Ngasem. Desa Ngasem merupakan desa yang para penduduknya bermata pencaharian sebagai petani. Desa ini bisa dibilang sebagai “Kesayangan Tuhan” karena desa ini dipenuhi dengan berkah seperti tanah yang subur. Bahkan setiap tanaman bisa tumbuh sehat di daerah tersebut, orang-orang sering menyebutnya dengan istilah gemah ripah loh jinawi.
Desa ini memiliki seorang pemimpin hebat yang arif dan bijaksana. Di bawah kepemimpinan beliau Desa Ngasem menjadi lebih makmur, aman, dan sejahtera. Beliau Bernama Ki Sela Gondang. Seperti warga desa lain, Ki Sela Gondang juga bermata pencaharian sebagai seorang petani. Setiap hari beliau bekerja dengan penuh semangat menggarap sawah dan kebun. “Pemimpin Harapan Rakyat” mungkin tidak heran jika sebutan tersebut dilimpahkan kepadanya.
Ki Sela Gondang selalu memosisikan diri sebagai pemimpin yang melayani rakyat, bukan pemimpin yang dilayani rakyat. Ki Sela Gondang memiliki istri yang juga sebanding dengannya. Nyi Mentik Bestari atau yang lebih akrab dipanggil Nyai Sela Gondang. Beliau adalah seorang wanita tangguh yang sangat mengayomi warganya. Seperti sosok ibu yang selalu menyayangi warganya, Nyai Selo Gondang memiliki sifat yang penuh dengan kasih dan sering sekali membantu para ibu ibu muda yang sedang mengalami kesulitan.
Endang Sawitri, nama dari dua pasangan hebat tersebut. Endang Sawitri merupakan seorang Wanita muda yang hidup ditaman bunga yang indah. Seorang dara kebanggaan Desa Ngasem, mawar merah yang memikat hati para pemuda yang melihat paras eloknya. Wanita inilah yang kelak akan mengukir suatu kisah yang luar biasa hebatnya, mengalahkan kisah orang tuanya.
Suatu ketika Desa Ngasem ingin mengadakan acara merti desa. Semua warga sibuk mempersiapkan acara tersebut. Para gadis berlatih untuk menunjukkan tarian elok mereka. Para ibu ibu sibuk meyiapkan beraneka macam masakan yang tak terhitung jumlahnya. Para pemuda dan bapak-bapak sedang asik menyiapkan tempat dan menghias panggung dengan janur yang dibentuk dengan unik dan penuh kehati-hatian.
Di sisi lain Ki Sela Gondang Tengah mengumpulkan para tetua desa dan mengadakan rapat dipendopo rumahnya. Menurut kebiasaan desa, diperlukan sarana tolak bala berupa sesaji dan pusaka sakti milik seorang resi. Untuk mendapatkan hal tersebut Ki Sela Gondang mengutus putrinya untuk menemui sahabatnya yang bernama Ki Hajar Salokantara seorang pemilik sebuah padepokan dilereng gunung Telomoyo.
Setibanya di padepokan Endang Sawitri disambut dengan hangat oleh para murid disana. Mereka menyuguhkan teh hangat dan camilan manis untuk tamu Istimewa tersebut. Singkat cerita Ki Hajar Salokantara memberikan sebuah pusaka keris sakti dan memberikan wejangan kepada Endang Sawitri untuk tidak meletakkan keris sakti tersebut dipangkuannya. Setelah mendapatkan keris sakti tersebut Endang Sawitri pun berpamitan untuk meninggalan padepokan Ki Hajar Salokantara.
Perjalanan menuju Desa Ngasem terasa sangat panjang bagi Endang Sawitri. Dia pun berhenti sejenak dan beristirahat dibawah pohon yang rimbun. Angin sepoi-sepoi yang menyapu wajahnya dengan lembut mulai membuatnya tertidur lelap. Suasana yang damai itu membuatnya lalai dengan wejangan yang dia terima dari Ki Hajar Salokantara. Endang Sawitri tak sadar telah memangku keris sakti pemberian Ki Hajar Salokantara. Keris itupun seketika lenyap tak bersisa.
Endang Sawitri yang panik pun bergegas menuju kediamannya di Desa Ngasem. Setibanya disana, semua orang menganga keheranan melihat Endang Sawitri yang wajahnya pucat seperti telah melihat hantu. Ayah ibunya bertanya dengan penuh cemas, dan Endang pun menjelaskan dengan kalimat yang terbata-bata. Mendengar kisah anaknya, Ki Sela Gondang memberikan pengumuman kepada warganya agar membatalkan kegiatan merti desa dan bergegas menghubungi Ki Hajar Salokantara untuk menanyakan keanehan tersebut.
Tak lama kemudian Ki Hajar Salokantara pun tiba dan mulai memahami situasi dengan cepat. Dia menjelaskan bahwa sebenarnya keris pusaka itu tidak hilang, namun tertanam dalam rahim Endang Sawitri dan suatu saat akan lahir dari rahimnya. Mendengar hal itu keluarga sempurna Ki Selo Gondang mulai runtuh. Seorang gadis muda yang hamil tanpa diketahui asal usul kandungannya akan mendapat pandangan buruk dari warga sekitar.
Setelah berdiskusi lama, akhirnya Ki Selo Gondang dan Ki Hajar Salokantara mencapai suatu keputusan. Ki Hajar Salokantara akan bertapa digua gunung Telomoyo untuk mematahkan kutukan yang menimpa Endang Sawitri. Endang Sawitri pun hanya bisa menunggu dan menunggu sambil meratapi kelalaiannya.
Waktu terus berlalu dengan kejam, kini kandungan Endang Sawitri sudah siap untuk melahirkan anak. Prosesi kelahiran yang melelahkan membuat keluarga Ki Selo Gondang tambah tercengang karena ternyata bayi yang dilahirkan oleh Endang Sawitri berwujud sebagai ular naga. Anak mungil itu diberi nama Baru Klinthing.
Melihat sosok anak Endang Sawitri yang berwujud ular naga membuat perlakuan warga semakin dingin dan kejam kepada ibu dan anak tersebut. Seiring bertambahnya usia, kini Baru Klinthing beranjak remaja, dia mulai mempertanyakan eksistensi ayahnya. Endang Sawitri pun menjawab dengan nada penuh penyesalan dan kesedihan bahwa ayah Baru Klinthing sedang melakukan pertapaan digunung Telomoyo.
Setelah mendengar penjelasan dari ibunya Baru Klinthing mulai bertekad untuk mencari ayahnya digunung Telomoyo. Dia pun meminta restu dari ibunya, walapun ada sedikit drama dalam perijinan tersebut, akhirnya Baru Klinthing diperbolehkan untuk pergi mencari ayahnya. Endang Sawitri memberikan bekal kalung berupa klintingan yang diberikan oleh ayahnya sebelum pergi bertapa, dengan harapan agar Ki Hajar Salokantara akan mengenali Baru Klinthing melalui kalung tersebut.
Oleh Fariz Jovian Zulkarnaen