Jagakarsa adalah nama kecamatan di pinggir Jakarta Selatan. Letaknya berbatasan langsung dengan kota Depok yang merupakan bagian dari provinsi Jawa Barat. Jagakarsa menyimpan banyak sejarah kebudayaan Betawi dan perjuangan rakyat melawan kolonialisme. Salah satu tempat tersohor di Jagakarsa adalah Setu Babakan yang diketahui sebagai pusat budaya Betawi. Nama Jagakarsa juga dikenal berkat adanya rumah mendiang presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid atau akrab disapa Gus Dur.
Asal-usul nama wilayah ini berasal dari seorang panglima utusan dari Raja Mataram yang dikirim ke Sunda Kelapa pada tahun 1505 atas permintaan Sunan Gunung Jati. Beliau adalah Raden Tubagus Jagakarsa Surobinangun yang memiliki keturunan langsung dari Raden Patah. Beliau diutus dengan tujuan melindungi Sunda Kelapa dari serangan Portugis dan untuk mengislamkan wilayah utara jawa yang merupakan jalur Pelabuhan yang strategis.
Pangeran Jagakarsa menikahi seorang putri dari Kerajaan Pajajaran yang bernama Nyimas Ratulajaya. Beliau dianugerahi empat orang anak, yaitu Raden Mas Mohammad Kahfi yang mendapatkan gelar Syeikh Datuk Kahfi, Raden Arya Kemang Yudhanegara, Raden Sukma Jaya, dan Raden Panji Sukma.
Pada 1550 Masehi, Raden Mas Mohammad Kahfi diangkat menjadi adipati dan memimpin wilayah dari Kampung Kandang hingga Tanah Baru, Depok. Konon, Moh. Kahfi memiliki singgasana di daerah pinggiran Srengseng Sawah, atau di daerah hutan Universitas Indonesia. Namun, saat pembangunan Universitas Indonesia, tidak ditemukan jejak peninggalannya. Sedangkan Kampung Kandang yang pada masa itu merupakan
sebuah dataran padang rumput yang dialiri oleh dua sungai, yaitu Kali Baru dan Kali Krukut, dijadikan tempat atau kandang untuk ribuan kuda perang mereka.
Tidak seperti pusat Jakarta yang banyak gedung-gedung tinggi, Jagakarsa sebaliknya. Jagakarsa adalah rumah bagi banyak warga, tempat pulang dan istirahat. Jagakarsa masih banyak memiliki kebun-kebun lebat. Saya lahir di Jakarta Timur dan tumbuh besar di daerah ini. Banyak pengalaman hidup dan cerita yang masih melekat dalam ingatan.
Di Jagakarsa ada jalan raya bernama Muhammad Kahfi 1 dan Muhammad Kahfi 2. Jalan ini sering saya lewati ketika ingin berangkat sekolah atau bepergian ke arah Utara Jakarta. Sering bertanya-tanya siapakah orang yang namanya dijadikan nama jalan ini. Pamanku, om Riski namanya pernah bercerita Ketika saya sedang berkunjung ke rumahnya, “Raden Muhammad Kahfi itu anaknya Jagakarsa. Dia ini yang mengembangkan wilayah perkampungan di Jagakarsa jadi sebuah kadipaten. Jadi dulu Raden Jagakarsa ke Batavia buat nyerang Belanda. Itu sekitar tahun 1600an, udah lama haha.”
Ketika sore, saya terkadang suka main di Setu Babakan. Suasananya yang asri, area datar yang luas, cocok untuk menikmati waktu luang. Salah seorang penghuni Setu Babakan pernah bercerita, “Setu ini dulu gak kayak gini. Dulu masih banyak pohon-pohon tinggi. Jadi warga kita sering jadiin tempat buat sembunyi pas perang dulu ama Belanda.” Pada masa penjajahan, Setu menjadi tempat berkumpul dan bersembunyi bagi para pejuang kemerdekaan. Kealamian lingkungannya, memberikan tempat berlindung dari kejaran penjajah.
Setelah kemerdekaan, seiring dengan pesatnya pembangunan Jakarta, keberadaan Setu Babakan sempat terancam. Namun, berkat kegigihan para tokoh masyarakat Betawi, kawasan ini berhasil dipertahankan daBn ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya. Kini,
Setu Babakan bukan hanya sekadar danau biasa. Ia telah bertransformasi menjadi pusat pelestarian budaya Betawi.
Om Riski lanjut bercerita, “Kalo kata orang-orang yak, raden Jagakarsa itu dulu kan kalah nyerang Belanda. Jadi dia mungkin malu atau apa ya buat pulang ke Mataram sono. Menetap dah dia disini, trus nikah. Nah dia ni bukan cuma komandan perang, tapi juga ulama. Tujuan dating kesini kan juga buat islamisasi. Makamnya ada di sono noh gang keramat. Belom lama kemaren abis direnov.”
“Terus tentang anaknya gimana, Om?” tanyaku.
“Muhammad Kahfi maksudnya?”
“Iya, Om.”
Dia ni ada orang bilang dulu punya keraton, di daerah UI sono. Ga tau dah bener apa kagak”.
“Kala makamnya di mana? Gang Keramat juga?”
Om Riski menjawab, “Kagak, kalau Kahfi tuh di Poltangan sono.”
Tidak terasa matahari mulai menghilang dari langit. Aku memang suka main ke rumah Om Riski. Disamping rumahnya yang dekat dengan Setu Babakan, Om Riski suka membelikan jajan. Namanya juga anak-anak hehe. Dari kisah ini, kita dapat mengetahui bahwa Jagakarsa memiliki sejarah yang sangat menarik, tetapi belum banyak orang yang tahu. Semoga sejarah ini terus hidup dan tidak tergerus perubahan zaman.(*)
Oleh Aysarusied Rayyan Wasa