Saat itu di siang hari yang terik ketika aku dan ketiga temanku pulang sekolah. Hari itu kami memutuskan untuk bermain sebentar ke Taman Patih Sampun, taman yang selalu Kuta datangi saat kami ingin bermain sejenak melepaskan lelah setelah bersekolah. Ketika sampai disana, tidak tahu kenapa hari itu aku penasaran dengan penamaan taman ini. Mengapa dinamakan Taman Patih Sampun? apakah memang dulunya ada Patih yang bernama Sampun atau itu adalah sebutan julukan untuk Patih tersebut.
Lalu saat kami menyantap jajanan yang saat itu sudah kami beli aku pun bertanya kepada temanku. “Kenapa taman ini dinamakan Patih Sampun? Apakah dulu ada Patih yang bernama Sampun? Tanyaku. Salah satu temanku yang bernama Nindi menjawab “Oh memang dahulu ada Patih yang mempunyai nama Sampun tapi itu hanya julukannya saja”. Temanku yang lain yang bernama Dina juga berkata “Benar, dulu kata guru sejarah aku juga memang benar ada Patih yang bernama Sampun”. Aku pun menjawab mereka “Lalu mengapa nama Patih itu Sampun?. Ketiga temanku berpikir dan teringat cerita asal nama Patih tersebut. “Oh aku ingat! “ kata temanku yang bernama Gendhis. Akhirnya mereka menceritakan asal-usul nama tersebut.
Dahulu ada seseorang utusan dari Kerajaan Pasundan yang akan menuju Kerajaan Majapahit. Di tengah perjalanannya beliau sampai di Pemalang, namun ternyata ia terjebak oleh akar pohon menyebabkannya tidak bisa keluar dan hanya berputar-putar di wilayah Kabupaten Pemalang selama beberapa hari. “Sepertinya saya harus pergi menemui penguasa Pemalang ini untuk meminta pertolongan” kata utusan tersebut. Akhirnya beliau mencari penguasa Pemalang dan menemukan bahwa penguasa Pemalang bernama Ki Sembung.
Saat mereka bertemu, Ki Sembung tertarik dengan kemampuan yang dimiliki oleh utusan tersebut. “Engkau memiliki potensi yang besar dalam dirimu menjadi seorang Patih disini, aku akan mengangkat engkau sebagai Patih”. Ki Sembung pun mengangkat utusan tersebut sebagai Patih dengan julukan Jiwonegoro. Saat menjabat sebagai Patih, beliau dibawah pimpinan berada di bawah kekuasaan Pangeran Benowo.
Saat menjadi Patih, Pangeran Benowo memerintahkan Patih Jiwonegoro untuk membangun jembatan agar dapat memperlancar kegiatan antar wilayah di Pemalang. “Patih Jiwonegoro, tolong buatkan dua jembatan di Sungai Banger dan Sungai Srengseng” kata Pangeran Benowo. “Baik, akan saya kerjakan secepatnya “ ujar Patih Jiwonegoro. Setelah itu Patih Jiwonegoro melaksanakan apa yang diperintahkannya.
Tidak lama waktu berlalu, Patih Jiwonegoro memberitahukan kepada Pangeran Benowo bahwa kedua Jembatan tersebut sudah dibangun. “Saya Patih Jiwonegoro ingin menyampaikan bahwa kedua jembatan tersebut sampun dados Pangeran “. Pangeran Benowo tidak percaya dengan perkataan nya “Jangan berbohong kau Patih!”. Patih Jiwonegoro dengan percaya diri mengatakan bahwa dia tidak berbohong kepada pangeran Benowo. Pangeran Benowo yang masih tidak percaya akhirnya datang ke Sungai Banger dan Sungai Srengseng untuk memastikannya.
Pangeran Benowo sangat tercengang karena apa yang dikatakan oleh Patih Jiwonegoro ternyata benar adanya – kedua jembatan tersebut memang sudah selesai dibangun dan siap digunakan. Kejadian ini membuat Pangeran Benowo semakin yakin dengan kemampuan, pengabdian, dan dedikasi yang dimiliki oleh Patih Jiwonegoro. Kepercayaan Pangeran Benowo pada Patih Sampun semakin bertambah, sehingga ia tidak ragu untuk memberinya tugas-tugas lainnya.
Hari-hari berikut Patih Jiwonegoro banyak diperintahkan untuk memperbaiki infrastruktur Pemalang termasuk juga jembatan jembatan. Saat diberikan perintah untuk membuat jembatan di dua sungai lainnya, Patih Jiwonegoro kembali mengatakan jembatan sampun dados kepada pangeran Benowo. Pangeran Benowo yang sudah memiliki kepercayaan pada Patih Jiwonegoro, tidak lagi memeriksa kebenaran jembatan yang sudah dibangun dan mempercayai perkataan sang Patih.
Pada hari-hari berikutnya pun ketika Patih Jiwonegoro diberikan tugas yang lain beliau selalu berkata sampun dados secara tepat waktu. Apapun tugas yang diberikan akan selalu dijawab oleh Patih Jiwonegoro dengan kata sampun dados. Dikarenakan hal tersebut Patih Jiwonegoro telah banyak membangun jembatan jembatan di kota Pemalang untuk mengubungkan aktivitas antar dua wilayah.
“Nah setahuku aku gitu ceritanya, karena Patih Jiwonegoro selalu bilang sampun dados yang artinya itu sudah selesai secara terus menerus saat diberikan tugas, akhirnya orang orang beri dia julukan Patih Sampun dan dipanggil Patih Sampun deh” ujar Gendhis. “Ohh, ternyata itu alasannya mengapa nama Patih tersebut Patih Sampun. Baiklah, terima kasih teman-teman,” ujarku. Lalu setelah itu kami lanjutkan memakan jajanan kami dan bercerita banyak hal sampai waktu sore pun datang.
Oleh Jauzeya Azmeena Rekha