Sejarah Tembalang Kota Semarang

Tembalang merupakan salah satu kecamatan di Kota Semarang yang kini dikenal sebagai kawasan pendidikan dan permukiman yang dinamis. Namun, dibalik kesibukan dan kemajuan yang terlihat, Tembalang menyimpan kisah sejarah dan legenda menarik mengenai asal-usul namanya.

Menurut cerita rakyat yang berkembang di masyarakat, nama “Tembalang” berasal dari istilah “tambal ilang”, yang berarti “menambal dan hilang”. Legenda ini berkaitan erat dengan Ki Ageng Pandan Arang, sosok penting dalam sejarah Semarang yang dikenal sebagai bupati pertama Semarang pada masa Kesultanan Demak pada abad ke-16.

Konon, pada suatu ketika, Ki Ageng Pandan Arang melakukan perjalanan ke selatan bersama para santri dan abdi Dalem. Mereka beristirahat di sebuah perkampungan subur di mana sebagian besar penduduknya merupakan petani. Di daerah ini, terdapat sembilan mata air yang dikenal dengan nama “Tuk Sanga” (tuk berarti mata air, dan sanga berarti sembilan dalam bahasa Jawa).

Awalnya, sembilan mata air tersebut sangat berguna bagi warga untuk kebutuhan sehari-hari dan untuk mengairi sawah. Namun, seiring berjalannya waktu, air dari mata air tersebut semakin melimpah, sehingga menggenangi permukiman dan membentuk sebuah danau. Upaya warga untuk menutup lubang-lubang mata air dengan batu besar pun selalu gagal, karena batu-batu tersebut tenggelam dan air tetap meluap.

Dalam situasi yang semakin putus asa, warga meminta bantuan Ki Ageng Pandan Arang. Beliau mengambil air wudu, melaksanakan salat, dan berdoa. Setelah itu, Ki Ageng Pandan Arang mengucapkan, “Setelah aku pergi dari desa ini, insya Allah mata air itu akan berhenti mengeluarkan air, kecuali satu yang bisa kalian gunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Jagalah kebersihan mata air

tersebut dan berikanlah nama desa ini Tambalang, dari kata ‘tambal’ dan ‘ilang’, karena setiap kali kalian menambal lubang mata air, selalu hilang. ”

Benar saja, setelah kepergian beliau, genangan air mulai surut, dan hanya tersisa satu mata air kecil yang sekarang dikenal sebagai Tuk Songo. Sejak saat itu, daerah tersebut dinamakan Tambalang, yang kemudian berubah pengucapannya menjadi Tembalang.

Saat ini, Tembalang telah berkembang menjadi salah satu kawasan penting di Kota Semarang, terutama setelah berdirinya Universitas Diponegoro dan berbagai kampus lainnya, menjadikannya sebagai pusat pendidikan dan aktivitas mahasiswa.

Cerita ini bukan hanya menjelaskan asal-usul nama Tembalang, tetapi juga menyampaikan pesan moral tentang pentingnya menjaga keseimbangan alam dan mensyukuri sumber daya yang ada.(*)

Oleh Hafizh Didan Tirtana