Pada zaman dahulu, sebelum suara manusia memenuhi udara dan jejak kaki membentuk jalan, wilayah yang kini dikenal sebagai Desa Kenconowungu hanyalah hamparan belantara liar. Pohon-pohon besar menjulang ke langit, akar-akar merayap menembus tanah basah, dan rawa-rawa lebat mengelilingi hampir setiap sudutnya. Sungai panjang dengan aliran deras mengular di tepiannya, membawa aroma tanah basah dan suara gemuruh air yang tak pernah berhenti.
Di tengah kerasnya alam itu, tumbuhlah seorang bocah kecil bernama Mayang, yang kelak dikenal sebagai Mbah Mayang. Sejak kecil, Mayang tidak takut akan lebatnya hutan atau derasnya sungai. Ia justru menganggap semuanya sebagai sahabatnya. Ia berlari-lari di antara ilalang tinggi, mendengarkan bisikan angin, dan menatap burung-burung yang melintas di antara dedaunan.
Setiap malam, di bawah cahaya temaram obor dan suara serangga malam, ayahnya sering mengisahkan tentang seorang pahlawan pewayangan bernama Damarwulan.
“Mayang, dengarkan baik-baik,” ujar ayahnya suatu malam sambil membelai kepala anaknya. “Damarwulan itu bukan hanya kuat, ia juga bijaksana. Ia menembus rawa dan hutan, bertarung bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk kebaikan semua orang.”
Mayang kecil menatap kagum, membayangkan dirinya menjadi pahlawan yang gagah berani seperti dalam cerita ayahnya.
“Aku ingin menjadi seperti Damarwulan, Bapak,” katanya dengan semangat.
Ayahnya tersenyum. “Kelak, Nak. Dengan kesabaran, kerja keras, dan hati yang bersih, kau bisa menjadi apa saja.”
Tahun demi tahun berlalu. Mayang tumbuh menjadi sosok yang dihormati, bukan hanya karena usianya yang semakin renta, tetapi juga karena kebijaksanaannya yang luas. Masyarakat mulai berdatangan, membuka hutan, mengolah tanah, dan membangun rumah-rumah sederhana dari kayu dan anyaman bambu. Namun, sampai saat itu, tempat tersebut belum memiliki nama resmi.
Suatu hari, saat senja mewarnai langit dengan semburat jingga, sekelompok warga muda berkumpul di dekat rumah Mbah Mayang. Mereka mendekatinya yang sedang duduk santai di bale-bale bambu, mengunyah sirih pinang.
“Mbah Mayang,” sapa salah satu pemuda, yang menyuarakan pertanyaan para warga desa tersebut, “desa kita sudah ramai. Banyak ladang dan rumah baru berdiri. Tapi, mengapa sampai sekarang belum ada nama, Mbah?”
Mbah Mayang mengangguk pelan. Matanya yang keriput memandang jauh ke arah sungai.
“Nama itu bukan sekadar sebutan, Nak,” jawabnya perlahan. “Nama adalah jiwa. Ia harus menggambarkan siapa kita, dari mana kita berasal, dan ke mana kita akan melangkah.”
Warga lain, seorang ibu paruh baya bernama Sari, menimpali, “Kalau begitu, bagaimana kita menemukan nama yang cocok, Mbah?”
Mbah Mayang tersenyum bijak. “Biarkan malam ini aku bermeditasi. Alam akan membisikkan jawabannya.”
Malam itu, saat seluruh desa terlelap dalam dinginnya kabut rawa, Mbah Mayang duduk bersila di tepi sungai. Ia menutup mata, mendengarkan suara gemercik air, merasakan hembusan angin yang membawa aroma lumpur dan dedaunan. Dalam keheningan itu, bayangan Damarwulan kembali hadir dalam pikirannya—pahlawan yang gigih, yang menembus segala rintangan untuk membawa kebaikan.
Dalam hatinya, Mbah Mayang tahu, desa ini tidak hanya tentang tanah dan sungai, tetapi juga tentang perjuangan. Ia pun menemukan nama itu, Kenconowungu.
Pagi harinya, ketika kabut masih melayang rendah, warga berkumpul di alun-alun kecil yang baru dibuka. Anak-anak berlarian, ayam-ayam berkokok, dan suara riuh rendah memenuhi udara.
Mbah Mayang berdiri di tengah kerumunan, didampingi oleh para tetua desa.
“Warga Kenconowungu,” panggil Mbah Mayang dengan suara lantang. “Hari ini, kita akan memberi jiwa pada tanah ini.”
Semua mata memandangnya penuh antusias.
“Nama desa kita adalah Kenconowungu!” serunya.
Beberapa orang mengangguk-angguk, namun ada juga yang bertanya penasaran.
“Apa arti Kenconowungu, Mbah?” tanya seorang pemuda.
“Kencono berarti emas, lambang kemuliaan dan keindahan. Wungu berarti ungu, warna keteguhan dan kebijaksanaan. Kenconowungu adalah desa yang subur, mulia, dan penuh perjuangan,” jelas Mbah Mayang.
Seorang anak kecil berseru, “Indah sekali, Mbah!”
Tawa riang terdengar di antara warga. Beberapa perempuan menaburkan beras kuning sebagai tanda syukur. Sejak saat itu, Desa Kenconowungu diresmikan, menjadi rumah bagi semangat juang yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Namun, kisah Mbah Mayang tidak berhenti di situ. Ia juga mengusulkan nama-nama untuk desa-desa tetangga.
Di satu pertemuan desa lain, seseorang bertanya, “Mbah Mayang, bagaimana dengan desa kita yang terletak di hulu sungai ini?”
Mbah Mayang tersenyum. “Desa kalian akan dinamakan Damarwulan, untuk menghormati pahlawan pemberani.”
Dan kepada desa lain yang lebih tenang, penuh dengan kebun bunga, ia berkata, “Desa ini layak disebut Anajasmara, mengabadikan nama wanita bijaksana yang membawa kedamaian.”
Hubungan antar desa pun menjadi erat. Mereka saling membantu dalam panen, berbagi air saat kemarau, dan berkumpul dalam festival rakyat yang meriah.
Anak-anak kecil tumbuh dengan cerita tentang Damarwulan dan semangat Kenconowungu. Setiap malam, mereka berkerumun di beranda rumah Mbah Mayang, mendengarkan kisah-kisah lama.
“Mbah, apakah kami bisa sehebat Damarwulan suatu hari nanti?” tanya seorang anak laki-laki, matanya berbinar.
Mbah Mayang menatap anak itu dengan penuh harapan.
“Tentu bisa, Nak,” jawabnya sambil tersenyum. “Asal kalian berani berjuang, tidak mudah menyerah, dan selalu menjaga tanah ini seperti menjaga jiwa kalian sendiri.”
Tahun berganti tahun. Walau tubuh Mbah Mayang melemah dimakan usia, semangatnya tetap menyala. Nama Kenconowungu terus hidup, mengalir dalam darah warganya. Sungai tetap bergemuruh, pohon-pohon tetap berbisik dalam angin, dan rawa-rawa berbunga dalam musim hujan.
Kini, ketika orang-orang datang dan bertanya, “Mengapa desa ini dinamakan Kenconowungu?”, warga akan dengan bangga menjawab,
“Karena di sinilah, keberanian, kebijaksanaan, dan cinta terhadap tanah air bertemu. Semua berawal dari Mbah Mayang dan kisah seorang pahlawan bernama Damarwulan.”(*)
Oleh Wanda Aulia Choirunnisa