Di Kelurahan Jatimakmur, Bekasi, pernah berdiri sebuah rumah tua yang lama ditinggalkan. Letaknya di ujung jalan, agak tersembunyi di balik deretan pohon dan pagar yang sudah hampir runtuh. Warga sekitar menyebutnya “Rumah Bungkuk”, karena di belakang rumah itu tumbuh pohon tua besar yang batangnya melengkung seperti punggung orang tua yang renta. Meski bentuknya aneh, tak ada yang berani menebangnya. Bukan karena nilai sejarah atau lingkungan, tapi karena keyakinan diam-diam bahwa pohon itu menyimpan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan..
Rumah tersebut dulunya milik keluarga Pak Mahmud, seorang pria yang dikenal pendiam dan agak tertutup. “Oh rumah itu dulunya punya keluarganya Pak Mahmud, cuman sayangnya orangnya udah dipanggil sama yang maha kuasa,” ujar Ibu Dewayani, seorang nenek tetangga yang sudah tinggal di kompleks itu sejak tahun 90-an. Menurutnya, setelah Pak Mahmud meninggal, keluarganya—terutama anaknya yang bernama Arif—tidak sanggup lagi tinggal di rumah itu. “Katanya sih si Arif trauma tinggal di sana karena selalu keinget sama almarhum bapaknya,” lanjutnya, sambil menurunkan nada suara, seolah tak ingin mengungkit sesuatu yang kelam.
Apa sebenarnya yang menyebabkan trauma itu? Apakah karena sosok Pak Mahmud yang dikenal keras dan disiplin? Atau karena Arif begitu dekat dengannya hingga kepergian sang ayah meninggalkan luka yang terlalu dalam? Tak ada yang tahu pasti. Yang jelas, setelah kepergian Pak Mahmud, keluarganya menghilang begitu saja dari lingkungan itu. Mereka pindah ke Sumatra, meninggalkan rumah itu dalam kondisi kosong dan tak terurus. Waktu berlalu, dan rumah itu mulai berubah. Dindingnya berlumut, atapnya rusak, dan pekarangan belakangnya dipenuhi semak liar. Namun, yang paling mencolok adalah hawa yang menyelimuti tempat itu—dingin, sunyi, dan membuat siapa pun yang melewati depannya enggan menoleh. Beberapa warga mulai bercerita tentang kejadian-kejadian aneh, walau kebanyakan hanya dibisikkan di warung kopi atau obrolan selepas maghrib.
Salah satu yang pernah mengalami kejadian aneh adalah Galuh, teman masa kecil saya yang tinggal tak jauh dari rumah tersebut. “Yang paling aku inget itu dulu pas habis kita tarawihan kan kita lewat pohon bungkuk ya? Dulu aku pernah kesandung di depan rumah itu,” katanya sambil tertawa kecil—entah karena malu atau masih merasa merinding. “Pas aku bangun, kayaknya aku ngeliat ada yang nyala-nyala deh dari dalam rumahnya.” Apakah itu cahaya lampu? Banaspati? Atau hanya hewan yang terpantul cahaya bulan? Galuh sendiri tak tahu. Dia kabur secepat mungkin, dan sejak itu, tak pernah mau melewati rumah itu lagi sendirian.
Cerita lain datang dari Pak Daman, seorang peternak ayam yang tinggal dua gang dari rumah tersebut. Ia kehilangan seekor ayam jantannya selama tiga hari. Lalu pada hari keempat, ayam itu ditemukan mati tepat di depan pohon bungkuk—bersama seekor musang yang juga mati, dan sebuah kelapa tua yang pecah. “Mungkin kelapanya jatuh pas musangnya lagi nyerang ayam saya,” ujarnya sambil menggeleng. Namun yang membuatnya heran, bagaimana bisa ayam yang dikurung di kandang jauh dari situ bisa muncul di depan rumah kosong itu? “Jauh, loh, dua gang! Aneh banget.” Sungguh, alam bekerja dengan cara yang misterius.
“Saya inget banget waktu itu,” ujar Pak Surya, hansip yang sudah puluhan tahun berjaga di lingkungan sekitar rumah bungkuk. “Sekitar jam delapan malam, saya lagi muter ronda, eh ada ojol berhenti depan rumah kosong itu. Saya tanya, ‘Mas, ngapain di situ? Itu rumah udah kosong lama loh.’” Ojol itu tampak kebingungan, masih pegang HP sambil nelpon. “Ini, Pak… saya dapet orderan makan ke alamat sini. Katanya suruh taruh depan pagar.” Saya langsung merinding. Rumah itu udah belasan tahun kosong, siapa yang bisa pesan makanan? Tapi si ojol tetap nurut, dia taruh makanannya di depan pagar berkarat yang udah dipeluk tanaman rambat. Baru aja dia mau balik ke motor, HP-nya bunyi—pesanan diterima. “Loh, kok bisa?” katanya kaget sambil nengok ke belakang. Makanan yang tadi masih ada di tanah itu… udah gak ada. “Pak, sumpah barusan masih ada,” katanya ke saya. Saya gak jawab. Kami berdua cuma saling pandang, lalu pelan-pelan mundur dari sana.”
Selama bertahun-tahun, rumah itu terus berdiri tanpa penghuni. Rumput liar tumbuh setinggi lutut, dan pohon bungkuk makin besar batangnya, seakan makin membungkuk ke arah rumah. Beberapa warga mengusulkan untuk merobohkan rumah itu, tapi selalu ada alasan untuk menundanya—biaya, izin, bahkan rasa enggan yang tidak bisa dijelaskan. Satu-dua kali anak muda mencoba masuk ke rumah itu untuk uji nyali, tapi selalu keluar dengan wajah pucat dan enggan berbicara.
Namun, pada tahun 2020, rumah tersebut resmi digusur atas arahan ketua RT yang baru. Prosesnya berlangsung cepat, dan tanpa banyak perlawanan. Pohon bungkuk pun ikut ditebang—langkah yang sempat membuat beberapa warga ragu. Namun, tanah itu sudah dijual ke sebuah yayasan pendidikan yang berencana membangun SMP swasta di atasnya,menyisakan kenangan dan kisah kepada warga daerah Jatimakmur.
Hingga saat ini, bangunan sekolah yang telah dibangun berdiri kokoh menempati lahan yang dulunya angker dan memiliki banyak kejanggalan, kini menjadi salah satu kelas dimana siswa dan siswi SMP swasta tersebut menimba ilmu, mungkin ada salah satu siswa atau siswi yang menakut – nakuti teman kelasnya dengan bercerita bahwa dulu kelas yang mereka tempati saat ini dulunya adalah rumah yang memiliki banyak keanehan.
Mungkin itu hanya cerita anak-anak. Atau mungkin, sebagian dari sejarah tempat itu memang masih tertinggal, menempel di dinding-dinding yang baru dibangun. Rumah Bungkuk memang sudah tak ada, begitu juga pohon yang jadi penandanya. Tapi seperti halnya semua tempat dengan masa lalu yang kelam, kisahnya terus hidup—dibisikkan dari mulut ke mulut, dari generasi ke generasi. Dan siapa tahu, mungkin saat ini, ada seseorang di kelas itu yang tanpa sadar sedang duduk di tempat yang dulunya jadi saksi bisu sebuah misteri.(*)
Oleh Ahmad Hisyam Ammar