Nyadran merupakan suatu adat syukuran untuk menyambut datangnya bulan Ramadan dengan tata cara adat Jawa. Nyadran ini sebagian dilakukan oleh para penganut kepercayaan Kejawen. Kejawen merupakan masyarakat yang masih menganut sistem kepercayaan Jawa kuno, sehingga terjadinya akulturasi antara ajaran Islam dengan adat Jawa kuno. Nyadran ini biasa dilakukan oleh masyarakat Kalikudi, Cilacap, Jawa Tengah.
Kepercayaan tersebut masih sangat kental melekat dan dilestarikan oleh ketua adat kasepuhan atau yang dikenal sebagai anak putu. Nyadran ini berasal dari kata Sadran yang artinya mengunjungi makam atau tempat keramat pada bulan Ruwah untuk memberikan doa kepada leluhur. Kegiatan pengiriman doa kepada leluhur biasanya dilakukan di Pasemuan yang berada di beberapa titik lokasi yang berada di desa Kalikudi. Pasemuan secara filosofis, bermakna tempat untuk mendapatkan kejelasan tentang hal-hal yang semu (tidak terlalu jelas). Penjelasan diberikan oleh kunci Pasemuan. Kata Pasemuan juga mengacu pada pendekatan “pasemon” dalam menyampaikan petuah leluhur. Pasemuan di desa Kalikudi dibagi menjadi dua, yaitu Pasemuan lor dan Pasemuan kidul dengan masing-masing “kunci” yang berbeda.
Penentuan pelaksanaan adat Nyadran ditentukan melalui beberapa perhitungan berdasarkan kalender Aboge yang biasa digunakan masyarakat Kejawen Kalikudi untuk menentukan kegiatan-kegiatan tertentu.
“Ana perhitungan tanggale, sing ngitung tanggale kuwe biasane bagiane kasepuhan. Ana petugase dewek sing biasa ngitungi. pas penentuan kuwe wonge pada dikumpulna dadi siji terus ditidokna kapan tanggal pas Nyadrane” jelas ibu Rasmi, salah satu penganut Kejawen Kalikudi
Maksud dari perkataan beliau adalah untuk menentukan kapan tepatnya pelaksanaan adat Nyadran, para pemangku adat akan mengadakan pertemuan di Pasemuan yang nantinya akan dimumumkan kapan tibanya Nyadran tersebut sesuai dengan perhitungan yang telah dilakukan oleh para pemangku adat. Biasanya kegiatan Nyadran ini dilakukan sebelum puasa bulan Ramadan pada hari Jumat terakhir bulan Sadran/Ruwah/Sya’ban. Adat dilakukan dengan beberapa prosesi kegiatan dimana sebelum ke acara utama para penganut Islam Kejawen akan mengadakan prosesi bekten Makam Eyang Ditakreta di Adiraja, dilanjutkan resik kubur di makam leluhur masing-masing yang dipimpin Kyai kunci Pasemuan Lor.
Pada malam harinya anak putu melakukan zikiran di Pasemuan masing-masing dipimpin kyai Kunci.
Ibu Rasmi mengatakan, “Sing dilakukan biasane kendurenan atau kepungan para penganut kepercayaan Kejawen”
Kegiatan utama Nyadran yang biasa dilakukan masyarkat Kalikudi adalah kendurenan yang akan dilaksakanan di Pasemuan masing-masing pada pagi harinya dan dipimpin oleh juru kunci Pasemuan masing-masing. Kegiatan kendurenan tersebut menurut Ibu Rasmi adalah sebagai bentuk rasa syukur telah diberi kesempatan untuk bertemu dengan bulan Ramadan kembali di tahun tersebut.
Sebenarnya sebelum melakukan acara adat Nyadran ini, masyarakat Kejawen di Kalikudi dan di beberapa daerah di Cilacap akan melakukan prosesi adat yang biasa disebut Punggahan. Punggahan ini juga biasa dilakukan oleh umat muslim biasa lainnya untuk melakukan bersih-bersih makam kerabat yang sudah tiada sebelum puasa Ramadan. Namun, ada sedikit perbedaan dengan yang dilakukan oleh penganut Islam Kejawen di Kalikudi dan sekitarnya. Punggahan menurut tradisi anak putu Kalikudi adalah dengan melakukan ziarah ke Makam Mbah Bonokeling yang berada di Desa Pekuncen, Kecamatan Jatilawang, Banyumas dengan cara berjalan kaki. Biasanya kegiatan tersebut dilakukan pada hari Jumat dalam sepuluh hari terakhir bulan Sadran yang dihitung berdasarkan perhitungan Aboge.
Prosesi Punggahan ini dilakukan dengan berjalan sejauh kurang lebih 35 kilometer menuju Makam Mbah Bonokeling. Anak putu Kalikudi akan menjalankan rangkaian persiapan pelaksanaan ritual Punggahan selama lima hari. Mulai di hari pertama yaitu di hari Selasa anak putu mempersiapkan ubo rampe Punggahan dan perbekalan selama perjalanan tersebut. Di masing-masing Pasemuan akan mempersiapkan perbekalan seperti jenang, ketan, dan wajik. Persiapan ubo rampe tersebut akan berlanjut sampai hari kedua yaitu di hari Rabu dimana dilanjut dengan pembuatan keranjang sebagai tempat untuk membawa ubo rampe, bahan makanan (beras putih, sayuran telur ayam, bebek, tempe, dan kelapa), bumbu masak, hewan (ayam, kambing), penganan (jenang, ketan, wajik, ampyang, lemper), buah (pisang atau lainnya).
Pada hari ke-3 anak putu Kalikudi akan mulai melakukan keberangkatan diawali dengan berpamitan kepada kunci masing-masing Pasemuan kemudian baru bisa mulai melakukan perjalanannya. Dalam perjalanan tersebut biasanya masyarakat Kalikudi menggunakan baju yang seragam atau yang bernuansa adat Jawa.
Ibu rasmi berucap, “wong Kejawen biasane identik karo baju ireng atau bisa juga pake sarung batik, jas jasan plus nganggo blangkon nek lanang. Nek wedon nganggo kebaya, atau nganggo jaritan”
Dalam melakukan perjalanan tersebut tidak ada larangan atau peraturan yang harus dipatuhi oleh setiap penganut Islam Kejawen yang mengikuti rangkaian acara tersebut. Ibu Rasmi menambahkan bahwa jika seorang perempuan yang sedang datang bulan maka, dilarang mengikuti rangkaian acara tersebut.
Sesuai adat, sepanjang perjalan, anak putu akan berhenti sebanyak lima kali di beberapa titik yang sudah ditentukan.
Titik pemberhentian :
1) Pasar Kesugihan – menunggu anak putu Daun Lumbung Kel. Tambakreja, Kec. Cilacap Selatan – Kota Cilacap. Kemudian melanjutkan perjalanan, anak putu Kalikudi berada dibelakang anak putu daun lumbung.
2) Pasar Keleng, Kesugihan – hanya istirahat
3) Sebelah utara jembatan kali irigasi – hanya istirahat
4) Di “duren” – hanya istirahat
5) Di Mengger, wilayah kec jatilawang – istirahat dan ritual serah terima ubo rampe slametan kepada anak putu desa Pakuncen.
Ketika anak putu sudah sampai di Pasemuan Pekuncen, mereka akan melaksanakan ritual bekten kepada kunci dan kasepuhan Pasemuan Pekuncen.
“Pas teka iya rikat tempate, terus soan karo rikat makam leluhur, terus masak masak go kepungan slametan” jelas Ibu Rasmi.
Untuk rangkaian acara selanjutnya merka akan mengadakan dzikir pada malam harinya ynag akan dipimpin oleh Kyai kunci Pasemuan. Pada Hari ke-4 anak putu dari luar pekuncen yang akan melakukan kegiatan resik kubur di makam mbah Bonokeling, sementara yang lain mempersiapkan Ubo rampe untuk slametan di siang harinya yang kemudian akan dilanjut ritual dan doa bersama di makam Mbah Bonokeling.
Pada hari terakhir seluruh rangkaian ritual sudah berakhir dengan ditandai dengan berpamitan kepada kyai kunci dan kasepuhan Pekuncen, kemudian anak putu Kalikudi bisa kembali pulang dengan berjalan kaki kembali menuju Pasemuan Kalikudi. Perjalanan pulang juga harus berhenti di empat lokasi yang telah ditentukan, yakni di (1) Mengger (2) Pasar Keleng, Desa Pesanggrahan, Kec. Kesugihan, dimana rombongan Anak putu dari Daun Lumbung berpisah dengan anak putu Kalikudi (3) Pasar Kesugihan (4) Pasar Pahing, Maos.
“Nek mlaku kuwe ana munggahan sing berarti arep ngarepna wulan puasa, terus udunan sing berarti bar lebaran” tambah Ibu Rasmi.
Artinya dalam rangkaian ritual acara di bulan Ramadan selain ada Punggahan yang dilaksanakan di awal bulan puasa maka, ana prosesi ritual yang bernama Pudunan yang dilakukan setelah idul Fitri. Biasanya prosesi ini dilaksanakan setelah lewat 7 hari dari Hari Raya Idul Fitri berdasarkan perhitungan Aboge.
“Kuwe wis ditentukna nang kuncine sapa sing meng Cilacap terus sapa sing meng banyumas. Misal kaya nek wulan syawalan kan ana unggahan karo udunan, nah unggahan kuwe kabeh anggota pada meng pekuncen, nah nek udunan kuwe wonge dibagi loro ana sing perwakilan meng pekuncen ana sing aring Cilacap”
Pada prosesi adat Pudunan anggota penganut Kejawen akan dibagi menjadi dua kelompok, dimana mereka akan melakukan proses Pudunan di dua tempat yang berbeda yaitu di Panembahan Daun Lumbung di Kelurahan Tambakreja, Cilacap Selatan dan yang lain akan ke Pekuncen, Banyumas lagi. Pembagian tersebut akan dilakukan oleh kasepuhan anak putu Kalikudi lewat acar pertemuan di Pasemuan.(*)
Oleh Syafira Maulidya