Bendungan Pintu Air 10 di Tangerang

Bendungan Pintu Air 10, yang juga dikenal sebagai Bendungan Pasar Baru atau Bendungan Sangego, merupakan salah satu warisan kolonial Belanda yang terletak di Kelurahan Koang Jaya, Kecamatan Karawaci, Kota Tangerang, Provinsi Banten. Meskipun sering dikaitkan dengan Tangerang Selatan, bendungan ini sebenarnya berada di Kota Tangerang.

Setelah Indonesia merdeka, bendungan ini diambil alih oleh pemerintah Indonesia dan dikelola oleh Perum Jasa Tirta II. Pada tahun 1989, bendungan ini mengalami renovasi besar-besaran yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia bersama-sama dengan Bank Dunia untuk meningkatkan kapasitas air dan pengendalian banjir.

Dengan usianya yang hampir satu abad, Bendungan Pintu Air 10 tidak hanya menjadi saksi bisu perjalanan panjang Kota Tangerang, tetapi juga simbol kemajuan teknologi dan pengelolaan sumber daya air di Indonesia.

Bendungan Pintu Air 10 di Kota Tangerang tidak hanya dikenal sebagai infrastruktur penting, tetapi juga menyimpan berbagai kisah mistis dan desas-desus yang telah menjadi bagian dari cerita rakyat setempat. Penjaga bendungan mengungkapkan bahwa hampir setiap tahun mereka menemukan mayat yang tersangkut di pintu air. Beberapa di antaranya adalah korban tenggelam atau bunuh diri. Penemuan ini menambah kesan angker dan mistis di sekitar bendungan .

Setiap pagi, sebelum matahari sepenuhnya menyinari langit Tangerang, petugas bendungan Pintu Air 10 memulai tugas mereka. Salah satunya adalah Bapak Haryono (Nama Samaran), pria berusia lima puluhan yang sudah lebih dari dua dekade bekerja menjaga aliran Sungai Cisadane.

Pagi itu, sekitar pukul 05.30 WIB, saat sedang melakukan pengecekan rutin pada volume debit air, Pak Haryono melihat sesuatu yang tidak biasa. Di sela-sela jeruji pintu air keempat, terdapat benda besar yang tersangkut dan menghalangi aliran kecil di sisi selatan.

Ia segera memanggil rekannya untuk membantu mengamankan lokasi. Setelah mendekat, keduanya menyadari bahwa benda tersebut adalah sesosok tubuh manusia. Tubuh itu terombang-ambing pelan, dalam posisi telungkup, dengan pakaian yang sudah tidak utuh akibat terbawa arus.

Petugas langsung melaporkan temuan tersebut ke kepolisian dan tim Basarnas. Tak lama kemudian, proses evakuasi dilakukan dengan hati-hati, mengingat arus air masih cukup deras. Setelah diangkat, mayat tersebut dibawa ke RSUD Kabupaten Tangerang untuk diidentifikasi.

Menurut catatan internal pengelola bendungan, penemuan jenazah di sekitar Pintu Air 10 bukanlah hal yang luar biasa. Sungai Cisadane yang membentang sepanjang lebih dari 100 kilometer sering kali menjadi jalur air dari berbagai wilayah di Bogor, Kabupaten Tangerang, hingga ke Teluk Jakarta.

“Biasanya korban hanyut karena kecelakaan di hulu, atau dalam beberapa kasus… karena alasan pribadi,” ujar Pak Haryono, dengan nada tenang namun berat. Ia mengaku, setiap tahun rata-rata dua hingga tiga jenazah ditemukan tersangkut di pintu air.

Setelah proses identifikasi, pihak kepolisian biasanya akan menghubungi keluarga korban—jika identitas berhasil dikenali. Jika tidak, jenazah akan dimakamkan oleh dinas sosial sesuai prosedur.

Sungai Cisadane mengalir dari daerah hulu seperti Bogor dan Kabupaten Tangerang, melewati banyak pemukiman, jembatan, dan jalur pejalan kaki. Karena sifatnya yang panjang dan terbuka, siapa pun yang jatuh, hanyut, atau melompat ke sungai di hulu berpotensi terbawa arus hingga ke hilir dan pintu air menjadi titik di mana tubuh atau benda besar sering tersangkut. Kebanyakan yang menjadi korban seperti Orang yang terpeleset saat memancing atau mencuci, Anak-anak yang bermain di tepian Sungai bahkan Pengendara motor atau pejalan kaki yang kehilangan kendali di jembatan tanpa pembatas aman.

Karena pintu air berfungsi mengatur aliran dan memiliki jeruji logam besar untuk menyaring sampah atau benda besar, banyak benda termasuk tubuh manusia yang akhirnya tersangkut di sana. Oleh karena itu, penjaga bendungan sering menjadi pihak pertama yang menemukan korban hanyut atau tidak dikenal.(*)

Oleh Hanina Azri Elianti