Serpihan Cerita dari Cepokomulyo

Pada tahun 1629 M, Tanah Jawa dilanda semangat perjuangan besar. Sultan Agung, raja Kesultanan Mataram, memimpin pasukannya menuju Batavia untuk mengusir penjajahan VOC Belanda. Perjalanan itu berat dan penuh pengorbanan. Tak semua pasukan kembali pulang. Sebagian dari mereka memilih menetap di daerah-daerah yang mereka lalui dalam perjalanan pulang yang panjang.

Di tengah hamparan tanah subur wilayah yang kini dikenal sebagai Kecamatan Gemuh, sekelompok prajurit yang lelah dan terluka berhenti. Mereka adalah sisa-sisa pasukan Mataram yang tak sanggup kembali ke pusat kerajaan. Dalam kelompok itu, terdapat orang-orang bijak, petani tangguh, serta santri yang kelak menjadi cikal bakal pemuka masyarakat.

Salah satu tempat yang mereka pilih untuk bermukim adalah sebuah dataran yang masih liar namun memiliki sumber air bersih, pohon-pohon rindang, dan tanah yang subur. Di sinilah mereka mendirikan pemukiman baru. Mereka menamainya “Cepokomulyo”—gabungan kata “Cepoko” (diyakini berasal dari nama pohon cempaka yang untuk berteduh) dan “Mulyo” yang berarti mulia dan sejahtera. Nama itu mengandung doa agar desa ini menjadi tempat yang damai dan penuh keberkahan.

Seiring waktu, Cepokomulyo berkembang. Warganya hidup dari bertani, berdagang, dan menjunjung tinggi nilai gotong royong. Tradisi Mataram masih terasa dalam kehidupan sehari-hari: dari cara mereka bermusyawarah, berpakaian, hingga memuliakan tamu dan guru. Bahkan, ajaran ulama besar seperti KH. Ahmad Rifa’i—yang berasal dari Kendal—ikut memberi warna pada kehidupan spiritual masyarakat desa.

Kini, setelah ratusan tahun berlalu, Desa Cepokomulyo tetap berdiri kokoh. Usianya yang lebih dari 390 tahun menjadi bukti keteguhan dan keuletan para pendirinya. Di balik setiap jengkal tanahnya, tersimpan kisah perjuangan, harapan, dan doa dari mereka yang pernah memilih menetap untuk membangun masa depan.

Namun bagi saya pribadi, Cepokomulyo bukan hanya tentang sejarah pasukan Mataram. Ada satu sisi yang jarang diketahui orang, bahkan warga desa sendiri pun mungkin tak menyadarinya. Ada sebuah makam tua yang diyakini sebagai makam seorang panglima Majapahit.

Makam itu terletak di dalam kompleks pemakaman umum, bukan di petilasan atau tempat keramat. Dipagari bambu serta dinaungi genteng seadanya. Bukan hal yang mencolok, tapi cukup bagi orang yang peka untuk menyadari: ini bukan makam biasa.

Saya tahu tentang makam itu dari ayah saya sendiri. Suatu waktu, saat kami hendak ziarah ke makam kakek dan nenek. Saya melihat ada makam yang di beri pagar  bambu dan di beri genteng, Lalu saya bertanya, Ayah, itu makam siapa yang diberi pagar warna hijau?”

“Itu makam panglima Majapahit,” jawab Ayah.

“Ayah tahu dari mana kalau itu makam panglima?” tanyaku tidak percaya.

“Dulu, Pakwo-mu saja yang tahu kalau ini makam panglima. Dialah yang rawat, dia yang bangun pagarnya, dia yang pasangi genteng, dibantu oleh saudara laki-lakinya.”

Waktu itu saya bertanya, “Memangnya Pakwo tahu dari mana kalau itu makam panglima?”

Ayah saya hanya menggeleng pelan.

“Ayah juga tidak tahu. Pakwo-mu gak pernah cerita darimana Pakwo tahu. Tapi Pakwo selalu jaga makam itu, seolah itu bagian dari tugasnya.”

Menurut saya, kakek (Pakwo) saya adalah sosok yang tidak biasa. Sebelum beliau jatuh sakit di masa tuanya, beliau dikenal sebagai sosok yang rapi dan karismatik. Selalu mengenakan jas putih, mengayuh sepeda ontel setiap sore, berkeliling desa. Bukan sekadar berkeliling, beliau “menyembuhkan” orang-orang sakit. Entah sakit secara jasmani, batin, atau mungkin keduanya. Banyak warga desa menyegani beliau, bahkan saat saya masih kecil, nama beliau selalu disebut dengan hormat.

Saya mulai berpikir, mungkin beliau memang bukan orang sembarangan. Dan mungkin juga, beliau tahu sesuatu yang tidak diketahui orang lain—termasuk soal makam panglima itu.

Kini, setelah kakek tiada, ayah saya yang melanjutkan merawat makam itu, walau dalam diam. Tak ada peringatan khusus, tak ada sesajen atau doa berlebih. Hanya keheningan dan hormat, seperti menjaga sesuatu yang tidak boleh hilang dari ingatan.

Warga desa mungkin berjalan melewati makam itu setiap kali mereka ke sarean, tapi mereka tak tahu apa-apa. Mungkin juga tak peduli. Tapi saya percaya, makam itu adalah pengingat sunyi, bahwa Desa Cepokomulyo menyimpan sejarah yang jauh lebih dalam dari yang tampak di permukaan.(*)

Oleh Dimas Iqbal Mubarik