Ragam Cerita tentang Kaliwungu

Langit siang itu sedikit mendung saat bel pulang sekolah berbunyi. Siswa-siswi SMAN 1 Kaliwungu pun berhamburan keluar dari kelas, termasuk empat sahabat: Ani, Daru, Jaga, dan Siti. Mereka baru saja menerima tugas kelompok dari Bu Sulis, guru sejarah yang dikenal tegas namun sangat menyenangkan.

”Tugas kita nyari cerita sejarah tentang Kaliwungu, terus harus ada Sunan Katong-nya juga,” kata Ani sambil merapikan bukunya.

”Kayaknya seru sih. Tapi aku belum pernah dengar nama Sunan Katong sebelumnya,” ujar Siti penasaran.

”Ayo ke rumahku aja! Kita bisa cari bareng,” ajak Ani.

Tanpa ragu, keempat sahabat itu pun bersepeda menuju rumah Ani yang tak jauh dari sekolah. Sesampainya di sana, mereka langsung menuju ruang tengah dan menyalakan laptop.

”Aku mulai dari cari tentang Kaliwungu dulu, ya,” kata Jaga sambil mengetik.

Beberapa menit kemudian, Daru berseru, “Eh, kalian tahu nggak, ternyata nama Kaliwungu itu ada dua versi asal-usulnya?”

”Serius? Coba jelasin,” sahut Ani antusias.

”Nah, versi pertama itu cukup mistis. Jadi, waktu Sunan Katong datang ke sini, beliau istirahat di bawah pohon dengan bunga berwarna ungu yang sangat mencolok. Warna ungu itu katanya memancar sampai ke sungai kecil di dekat situ, sehingga air sungainya pun tampak keunguan saat terkena sinar matahari sore. Dari situlah muncul nama ‘Kali’ artinya sungai, dan ‘Wungu’ artinya ungu,” jelas Daru sambil membaca keras-keras dari layar laptop.

”Wah, puitis banget. Tapi aneh juga ya, pohon apa yang bunganya bisa memancarkan cahaya ungu?” gumam Siti sambil mencatat di bukunya.

”Ada juga versi lain,” lanjut Daru. “Konon, saat Sunan Katong bertarung melawan Empu Paku Wojo — seorang empu dari Majapahit yang menolak dakwahnya — terjadi duel hebat di pinggir sungai. Saat mereka terluka, darah keduanya jatuh ke sungai dan membuat air berubah warna jadi keunguan. Penduduk menyebutnya sebagai tanda sakral, lalu menamai tempat itu Kaliwungu.”

”Sama-sama mistisnya sih,” komentar Jaga. “Tapi itu bikin ceritanya makin hidup.”

Sementara itu, Ani sibuk mencari info tentang Sunan Katong.

”Dengar-dengar, Sunan Katong ini keturunan Prabu Brawijaya V, lho,” kata Ani.

”Iya, bener,” sahut Siti. “Dia awalnya seorang bangsawan Majapahit. Tapi setelah kerajaan runtuh, beliau memilih meninggalkan kekuasaan dan belajar agama Islam di Pulau Tirang dari Ki Pandan Arang.”

”Setelah cukup ilmu, dia disuruh sang guru berdakwah ke barat. Nah, perjalanan itulah yang membawanya ke daerah ini. Waktu itu masih hutan lebat dan belum banyak penduduk,” tambah Ani.

Mereka pun saling melengkapi cerita yang telah dikumpulkan. Ani menulis, Siti menggambar peta kecil Kaliwungu, sementara Jaga dan Daru membuat daftar peristiwa penting.

”Aku juga baca, katanya setelah tinggal di sini, Sunan Katong membangun masjid dan mulai mengajar Islam. Beliau juga dikenal sebagai tokoh yang memperkenalkan sistem pondok pesantren di daerah ini,” kata Jaga.

”Terus makamnya masih ada, kan? Di bukit kecil di Kaliwungu sana,” tambah Siti. “Banyak yang ziarah ke sana, katanya keramat.”

”Tugas ini makin seru kalau kita bisa kunjungan langsung,” ujar Daru semangat.

Ani tersenyum puas melihat teman-temannya begitu aktif. “Gimana kalau kita selesaikan naskah cerita ini malam ini, terus besok akhir pekan kita ke makam Sunan Katong bareng?”

Semua setuju. Hari itu, bukan hanya sebuah tugas sekolah yang diselesaikan, tapi juga kisah sejarah lokal yang tumbuh kembali dalam benak generasi muda tentang seorang tokoh bijak, tentang sungai yang memancarkan warna ungu, dan tentang kota kecil yang menyimpan sejarah besar.(*)

Oleh Arini Nur Febriyanti