Misteri Lahan Kosong di Desa Rejosari Demak

Rejosari merupakan salah satu desa di Kecamatan Karangawen, Kabupaten Demak, Provinsi Jawa Tengah. Setiap desa tentunya memiliki cerita turun temurun dari mulut ke mulut dan dari generasi ke generasi berikutnya, seperti di Desa Rejosari, lebih tepatnya di Dusun Boweh yang juga memiliki cerita turun temurun dari zaman dahulu.

Di Dusun Boweh, ada lahan kosong yang berdampingan dengan sawah yang juga berdekatan dengan pemukiman warga. Dulunya lahan kosong yang kini menjadi tanah kapling tersebut juga merupakan tanah sawah. Banyak warga di dusun ini sendiri yang menilai bahwa lahan tersebut terbilang cukup angker. Tentu saja mereka tidak begitu saja mencap bahwa lahan itu angker, sudah banyak kejadian-kejadian aneh yang telah mereka akui ada sangkut pautnya dengan ‘para penghuni’ lahan itu sendiri.

Lahan tersebut dulunya juga sawah yang tentunya dimiliki seseorang, pemilik tersebut sedang menggarap sawahnya setiap hari seperti layaknya petani lainnya. Namun, tiba-tiba pemilik tersebut ditemukan tak sadarkan diri oleh warga lain yang juga sedang menggarap sawahnya. Katanya, pemiliknya jatuh sakit cukup lama setelah itu dan sudah beberapa kali ditangani oleh pihak medis tetap tak kunjung sembuh. 

Pada akhirnya, pihak keluarga terpaksa harus menyangkutpautkan “orang pintar” dalam hal ini agar tahu apa yang terjadi kepada sang pemilik lahan tersebut. Lalu, tak jarang juga warga yang bercerita, terutama bapak-bapak yang khusus nya sering nongkrong atau ngopi hingga tengah malam yang tempatnya tidak jauh dari lahan itu sering melihat sosok bayangan putih yang datang dan pergi secepat kilat di jalanan di selingi dengan aroma bunga mawar yang juga tercium tiba-tiba. 

Belum lagi cerita dari seorang pemilik rumah yang letaknya berjejeran dengan lahan kosong tersebut bercerita bahwa setiap malam, beliau selalu rutin pergi ke belakang rumahnya untuk memberi makan hewan kambing peliharaannya. Kandang kambing itu terletak di belakang rumah beliau, di mana belakang rumah beliau itu adalah lahan kosong tersebut. Beliau bercerita bahwa tak jarang beliau mendengar suara tangisan anak-anak di belakang rumahnya, di atas pohon-pohon besar yang menjulang tinggi di tanah tersebut. 

Terakhir, para pemuda Dusun Boweh rutin melakukan halalbihalal setiap selesai merayakan Hari Raya Idulfitri, mereka sedang musyawarah untuk penempatan di mana acara halalbihalal berlangsung, karena mereka membutuhkan lahan yang luas untuk mendirikan tenda dan panggung untuk acara itu. Salah satu pemuda akhirnya memberi saran agar acara halalbihalal dilangsungkan di lahan kosong itu karena tempatnya luas dan akan lebih dari cukup untuk mendirikan tenda dan panggung di sana nantinya atas izin pemilik. 

Namun, para sepuh atau para orang tua di Dusun Boweh melarang mereka menyelenggarakan halalbihalal di sana sebab sudah banyak kejadian-kejadian aneh yang terjadi. Mereka tak mau “merusak rumah mereka” sebab pendirian tenda dan panggung sudah diperkirakan akan membutuhkan penebangan beberapa pohon di sana yang diyakini sebagai “tempat tinggal mereka” yang warga khawatirkan akan merugikan acara tersebut jika sesuatu terjadi. 

Intinya, percaya atau tidaknya dengan hal-hal mistis seperti ini adalah masalah individu setiap manusia. Yang dapat kita lakukan hanyalah saling menghargai pendapat satu sama lain, apalagi perihal cerita yang sudah sejak lama dikisahkan.(*)

Oleh Inez Farisatul Al Buchori