Cerita Seram Kerumput

Banyumas merupakan wilayah yang sudah lama ada sebelum masuknya zaman penjajahan Bangsa Belanda, Banyumas pada zaman dahulu dipimpin yang bernama Raden Joko Kahiman, beliau ditunjuk langsung untuk menjadi seorang Adipati Warga Utama II oleh Sultan Hadiwijaya dari Kesultanan Pajang. Raden Joko Kahiman memiliki sebuah julukan gelar sebagai Adipati Mrapat karena usahanya dalam membagi wilayahnya menjadi empat bagian yaitu  Banjar Petambakan,  Merden, Wirasaba, dan Kejawar. Pada saat itu hingga masa penjajahan Bangsa Belanda pusat dari wilayah Banyumas sendiri berada di Kejawar karena letak wilayahnya yang menurut beliau cukup strategis. Akan tetapi seiring dengan berjalannya waktu dan efek-efek yang diberikan terhadap masuknya kolonial belanda seperti adanya pembangunan infrastruktur dan pemetaan wilayah membuat Banyumas mulai terlihat perubahannya seperti contoh dibuatkannya jalan besar yang menghubungkan wilayah Banyumas ke arah selatan ataupun wilayah Cilacap dan jalan tersebut dinamai dengan jalan Buntu-Banyumas.

Mungkin untuk sebagian besar orang-orang pendatang tidak tahu mengenai jalan ini, sebuah jalan yang membelah hutan pohon karet ini mungkin jika dilihat dengan visual akan sangat rindang dan terasa sangat nyaman untuk dilalui. Tetapi siapa sangka, jalan ini yang lebih terkenal dengan Jalan Kerumput menyimpan banyak misteri-misteri dan cerita yang menyeramkan. Jalan ini tergolong jalan yang sangat rawan sekali insiden kecelakaan karena letak wilayahnya yang melewati perbukitan menyebabkan kondisi jalan yang berkelok-kelok menyebabkan para pengendara yang tidak fokus akan mengalami kecelakaan. Uniknya jalan ini membelah hutan karet yang menyebabkan tidak adanya pemukiman warga di sekitar tetapi ketika siang maupun malam jalan ini sangat ramai akan warga yang sedang duduk di pinggir jalan. Tidak tanpa alasan mereka duduk di sepanjang jalan tersebut tetapi mereka menunggu para pengendara untuk melemparkan uang ketika melintas jalan tersebut dengan tujuan agar mendapatkan keselamatan dalam melewati wilayah tersebut.

Tidak heran hal seperti ini terjadi, karena di setiap jalan yang dianggap sakral oleh masyarakat sekitar pasti akan melakukan hal yang serupa seperti membuang koin uang maupun membunyikan klakson mereka untuk meminta izin agar mendapatkan keselamatan dalam melintas. Di Krumput sendiri dahulunya merupakan daerah perkebunan yang digunakan oleh para penjajah dalam menaikan perekonomian mereka, dengan adanya jalan yang sudah dibuat oleh para penjajah membuat pemerintahan mereka di Banyumas sangat stabil. Pada masa kemerdekaan para bangsa pribumi yang melawan bangsa penjajah tidak luput masyarakat Banyumas juga ikut serta dalam melawan penajajah, jadi dulu ada sebuah cerita mengenai sekelompok Laskar Belanda yang sedang melintas di Krumput dengan menggunakan truk mereka, akan tetapi ketika melewati Jalan Krumput yang dahulunya masih sangat sepi dan tertutup oleh banyaknya pohon karet membuat situasi jalan tersebut terlihat aman-aman saja untuk di lewati. Tetapi siapa sangka, para masyarakat setempat sudah bersembunyi untuk menjalankan strategi penyerangan mendadak kepada para penjajah. 

Laskar penjajah yang tidak siap akan serangan mendadak tersebut akhirnya dapat terbunuh semua tanpa ada yang selamat, tidak hanya cerita ini saja yang membuat jalan ini sangat menyeramkan tetapi masih ada banyak cerita-cerita seperti sosok-sosok penunggu yang ada di wilayah Krumput. Konon, kisah yang paling sering diceritakan adalah tentang seorang wanita muda yang menjadi korban keganasan serdadu. Arwahnya, dipercaya bergentayangan mencari keadilan, sering menampakkan diri di malam-malam sunyi. Suara lolongan anjing liar yang memecah keheningan malam semakin menambah kesan mencekam. 

Beberapa pengendara motor mengaku pernah melihat sosok bayangan putih melintas secepat kilat, membuat bulu kuduk berdiri. Suatu malam, saat seorang pengendara yang melewati tikungan tajam, tiba-tiba muncul sesosok kakek renta berjalan tertatih di tengah jalan. Pengendara yang terkejut langsung mengerem mendadak, namun anehnya begitu ia menoleh kembali sosok itu menghilang tanpa jejak. Padahal, tidak ada jalan setapak atau area persawahan di sekitar tempat itu yang memungkinkan seseorang menghilang secepat itu.

Kisah lain datang dari sekelompok pemuda yang nekat berkemah di dekat Jalan Kerumput. Tengah malam, saat api unggun mulai meredup, mereka dikejutkan oleh suara gamelan sayup-sayup yang berasal dari arah hutan. Padahal, tidak ada perkampungan atau acara kesenian di sekitar sana. Rasa penasaran bercampur takut membuat mereka memutuskan untuk membubarkan diri dan kembali ke rumah masing-masing.

Tidak hanya penampakan dan suara-suara aneh, beberapa kejadian mistis juga sering dialami oleh para pengguna jalan. Ada yang tiba-tiba merasa motornya menjadi sangat berat, padahal tidak membawa beban berlebih. Ada pula yang mengaku melihat bola-bola api beterbangan di atas pepohonan. Fenomena-fenomena ini semakin menguatkan kepercayaan warga akan keangkeran Jalan Kerumput.

Seiring berjalannya waktu, cerita-cerita horor tentang Jalan Kerumput semakin melegenda. Meskipun demikian, jalan ini tetap menjadi jalur utama bagi banyak orang. Mereka yang terpaksa melintas di malam hari biasanya akan membaca doa-doa dalam hati, berharap agar terhindar dari gangguan makhluk halus. Beberapa upaya sudah dilakukan seperti melakukan penerangan jalan, namun aura mistis seolah tak pernah pudar.

Jalan Kerumput tetap menjadi sebuah misteri yang belum terpecahkan, sebuah tempat di mana dunia nyata dan alam gaib beririsan tipis. Mungkin bagi para petualang yang mencari sensasi, Jalan Kerumput mungkin menjadi daya tarik tersendiri. Namun, bagi penduduk lokal, jalan ini adalah pengingat akan masa lalu yang kelam, sebuah jalur yang sebaiknya dihindari saat malam menjelang. Keangkerannya bukan sekadar cerita, melainkan sebuah kenyataan yang mereka rasakan dalam setiap perjalanan.

Pada malam-malam tertentu, saat bulan purnama bersinar redup di antara pepohonan, konon aroma mistis Jalan Kerumput akan semakin kuat, seolah arwah-arwah penasaran kembali bangkit dari peraduannya, siap untuk menyapa siapa saja yang berani melintas di wilayah kekuasaan mereka. Namun selain kita mempercayai hal goib, kita juga harus tetap percaya akan keselamatan yang diberikan Tuhan kepada kita. Tidak ada tempat yang aman dari makhluk halus, semua tempat pasti terdapat makhluk halus entah itu yang memiliki aura positif maupun aura negatif. Jadi alangkah baiknya kita untuk selalu menjaga etika dimana saja, dan semua itu hanyalah cerita kalau kebenarannya hanya Tuhan yang tahu.(*)

Oleh Leondra Abiyu Abhinaya