Desa Rambeanak atau Perempuan yang Menolak Menikahi Putranya Sendiri

Pada zaman dahulu, hiduplah sebuah keluarga yang tenteram dan damai. Keluarga ini hanya terdiri dari dua orang, yaitu seorang ibu bernama Suminten dan anaknya. Suminten dikenal sebagai gadis tercantik di desanya meskipun sudah memiliki anak. Anak Suminten juga dikenal sebagai anak yang berbakti kepada orang tuanya. Sejak kehamilannya hingga saat ini, Suminten telah lama ditinggalkan oleh suaminya. Suaminya dikutuk menjadi ular di sawah karena melanggar janji.

Pada suatu hari, anak Suminten yang bernama Rendheng meminta izin kepada ibunya untuk bermain bersama teman-temannya. “Bu, saya ingin meminta izin untuk pergi bermain dengan teman-teman,” katanya. 

“Mau ke mana, Nak?” tanya ibunya. 

“Ke sawah, Bu,” jawabnya. 

“Jangan terlalu lama bermain karena hari sudah sore,” pinta Suminten. 

“Baik, Bu,” jawabnya. Rendheng menambahkan, “Sebelum magrib saya sudah pulang, kok.” “Baiklah, hati-hati di jalan,” pesan ibunya.

Tak lama setelah itu, Rendheng sampai di sawah. Ia dan teman-temannya mencari ikan di sana. Tiba-tiba, ia melihat seekor ikan mas besar dan segera mengejarnya untuk ditangkap. Tanpa disadari, hari mulai gelap dan sudah masuk waktu magrib. Ibunya pun menyusulnya ke sawah. Saat Rendheng hendak menangkap ikan itu, tiba-tiba muncul seekor ular besar mendekatinya. Rendheng langsung mengambil batu untuk dilemparkan ke ular tersebut.

Melihat kejadian itu, ibunya berteriak, “Nak, jangan lempar batu itu!” Ibunya menambahkan, “Ular itu adalah ayahmu!” 

Namun, Rendheng tidak menghiraukan perkataan ibunya dan tetap ingin melempar. “Tidak, Bu. Saya tetap akan melempar ular itu karena ia hampir memakan saya!” katanya. 

“Tidak, Nak. Ular itu muncul hanya untuk menyuruhmu segera pulang karena hari sudah magrib,” jawab ibunya. 

Meskipun demikian, Rendheng tetap tidak mendengarkan ibunya dan bersikeras ingin melempar batu. Karena marah, ibunya ikut mengambil batu dan melemparkannya ke kepala Rendheng hingga berdarah. “Aduh… sakit, Bu!” teriak Rendheng kesakitan. 

“Itu akibatmu! Sudah diberi tahu, tapi tidak mau menurut!” Ibunya sangat marah. “Sekarang pergilah dari desa ini! Aku tidak ingin melihatmu lagi!” lanjut ibunya. 

Rendheng tidak berani membantah dan pergi ke arah yang tidak diketahui sambil menangis. Karena kelelahan, ia akhirnya pingsan.

Di Desa Tirto, Rendheng ditemukan oleh seorang pria bernama Pak Sastra yang merawatnya selama 15 tahun. Pak Sastra menceritakan semua kejadian yang menimpa Rendheng sejak ia ditemukan. Setelah berusia 20 tahun, Rendheng merasa ingin bertemu kembali dengan ibunya. “Aku harus bertemu ibuku!” tekadnya. 

Keesokan harinya, ia meminta izin kepada Pak Sastra untuk pergi mencari ibunya. “Pak, saya ingin berpamitan, saya akan mencari ibu saya,” katanya. 

“Baiklah, Nak. Memang sudah waktunya kamu mencari ibumu,” jawab Pak Sastra. 

“Baik, Pak. Saya berangkat dulu,” pamitnya. 

“Hati-hati, Nak,” balas Pak Sastra.

Dengan tekad kuat, Rendheng berusaha menemukan ibunya. Selama sepuluh hari dan sepuluh malam, ia terus berjalan tanpa hasil. Saat sedang melewati hutan, ia mendengar suara teriakan, “Tolong… tolong!” 

Ia segera mendekati suara itu dan menolong seorang wanita desa yang terpeleset. “Wah, wanita ini cantik sekali!” pikirnya. 

Wanita yang ditolongnya berkata, “Terima kasih, Kak.” 

Sejak saat itu, mereka mulai berkenalan dan saling jatuh cinta.

Sementara itu, pada suatu hari, Suminten pergi ke hutan untuk mengambil caping, tetapi ia bertemu dengan seekor ular besar. Ular itu bukanlah jelmaan suaminya karena ular itu ingin memakannya. Suminten berteriak, “Tolong… tolong!” 

Mendengar suara itu, Rendheng segera datang dan menolongnya. Ia mengambil batu dan melemparkannya ke ular tersebut. Suminten yang melihat kejadian itu tiba-tiba teringat anaknya yang dulu ia usir. Ia mulai menyadari bahwa pria yang disukainya sekarang sebenarnya adalah anaknya sendiri. Setelah menyadari hal itu, ia tidak pernah menemui pria tersebut lagi. Namun, karena sudah terlanjur jatuh cinta, Rendheng tetap mendatangi rumah Suminten setiap hari.

Pada suatu hari, ia datang dan berkata di depan rumah Suminten, “Suminten, apa salahku sampai kamu tidak mau menemuiku? Apakah kamu sudah tidak mencintaiku?” Ia melanjutkan, “Aku ingin menikahimu!” 

Suminten pun menjawab, “Rendheng, kamu adalah anakku yang dulu kuusir, jadi aku tidak bisa menikah denganmu!” 

Rendheng membantah, “Aku tidak percaya! Yang penting aku tetap mencintaimu!” 

Suminten kembali menjawab, “Jika kamu memang tetap ingin menikahiku, aku punya satu syarat. Aku hanya mau menikah denganmu jika kamu bisa membuat desa ini menjadi subur, tenteram, dan tidak turun hujan selama tiga hari ke depan.” Kemudian ia bertanya, “Apakah kamu sanggup?” 

“Ya, aku sanggup!” jawabnya dengan penuh keyakinan.

Selama tiga hari itu, Rendheng berusaha memenuhi syarat yang diajukan Suminten. Namun, di sisi lain, Suminten terus berdoa kepada Tuhan agar permintaan Rendheng tidak terkabul. Pada hari ketiga, doanya terkabul. Hujan deras turun, tanaman petani dimakan tikus, dan banyak yang mati. Rendheng merasa sangat kecewa dan patah hati. 

Di depan rumah Suminten, ia berkata, “Apakah kamu senang melihatku gagal memenuhi permintaanmu?” 

Suminten pun menjawab, “Tahukah kamu alasannya? Karena aku tidak ingin menikah dengan anakku sendiri.”Dari perkataan Suminten tersebut, masyarakat desa akhirnya menamai desa itu Rambeanak (rabi ambe anak atau menikah dengan anak sendiri). Cerita ini dipercaya oleh masyarakat hingga saat ini.

Oleh Karimatunnisa