Pagi itu, udara Jakarta belum terlalu panas. Nara duduk di teras belakang rumah, lembar tugas sejarah masih kosong di pangkuannya. Di sebelahnya, Kakek sedang menyeruput teh sambil membaca koran lama yang penuh kliping sejarah.
“Kek,” tanya Nara sambil mendesah, “Tugas sejarahku tentang tokoh lokal. Teman-teman banyak yang ambil pahlawan nasional. Tapi aku pengin yang beda. Yang khas Jakarta gitu.”
Kakek menurunkan kacamatanya, tersenyum.
“Kenapa nggak nulis soal Si Pitung?”
“Itu… yang jago silat dan katanya kebal peluru? Emang dia beneran ada, Kek?”
Kakek tertawa pelan. “Nah, ini yang menarik. Dia itu legenda Betawi. Nyata, tapi penuh cerita rakyat. Bukan cuma soal silat—tapi juga soal keberanian dan keadilan.”
Kakek mulai bercerita. Suaranya tenang, tapi penuh semangat, seolah membawa Raka ke masa lalu.
“Pitung itu nama panggilan. Aslinya sih, Salihun. Karena anak ketujuh, orang-orang manggil dia Pitung, dari kata pitu—bahasa Jawa untuk angka tujuh. Dia lahir di Rawa Belong, daerah yang sekarang udah padat dan rame. Tapi dulu? Rawa, sawah, dan ilalang.”
“Jadi dia orang kampung banget, ya?” potong Nara.
“Betul. Tapi jangan salah, dia anak pesantren. Belajar agama dan silat dari guru bernama Haji Naipin. Dari situ dia bukan cuma kuat fisik, tapi juga punya hati buat bela rakyat kecil.”
Nara mulai mencatat di bukunya. Tapi matanya tetap menatap Kakek dengan penasaran.
“Tapi kenapa dia dianggap penjahat juga, Kek?”
Pitung dikenal karena keberaniannya dalam melawan sistem kolonial yang menindas rakyat. Ia mencuri dari tuan tanah dan pedagang kaya yang bekerjasama dengan Belanda. Tindakan ini bukanlah sekadar perampokan, melainkan sebuah bentuk perlawanan terhadap ketidakadilan yang merajalela. Dalam pandangan kolonial, Pitung adalah ancaman yang harus dihadapi; namun, bagi rakyat, ia adalah pahlawan yang membawa harapan baru.
Kakek meletakkan tehnya, lalu berkata pelan.
“Karena dia melawan sistem kolonial. Pitung mencuri dari tuan tanah dan pedagang kaya yang bekerjasama dengan Belanda—lalu hasilnya dibagi ke rakyat miskin. Bagi Belanda, dia ancaman. Tapi bagi rakyat, dia pahlawan.”
“Mirip Robin Hood, ya…” gumam Nara.
Kakek mengangguk. “Tapi versi Betawi. Dan lebih banyak jalan kaki daripada naik kuda,” candanya, disambut tawa Nara.
“Trus gimana akhirnya, Kek? Dia ditangkap?”
“Ya. Setelah lama diburu, Belanda dapat celah. Katanya, kelemahan Pitung ada pada sarungnya sendiri. Jadi, peluru baru bisa tembus kalau dibungkus kain milik Pitung. Nah, suatu hari, sarung itu diambil diam-diam. Di situlah akhir hidupnya.”
“Wah, jadi bagaimana bisa sarung itu sampai di tangan Belanda?” Nara bertanya dengan penasaran.
“Begini ceritanya, suatu hari ketika Pitung lengah, sarung tersebut diambil diam-diam oleh mata-mata Belanda. Di situlah titik baliknya. Karena tanpa sarung itu, Pitung menjadi rentan dan akhirnya tertembak dalam suatu penyergapan. Itulah akhir hidupnya yang tragis,” jelas Kakek dengan nada suara serius.
Nara terdiam sesaat.
“Tapi rakyat tetap kenang dia, ya?”
“Sampai sekarang,” ujar Kakek. “Namanya hidup di cerita, film, sinetron. Tapi yang lebih penting: semangatnya. Pitung itu lambang keberanian melawan ketidakadilan. Dan itu masih relevan sekarang.”
Nara menutup bukunya pelan sambil merenung, “Jadi, kalau sekarang nggak ada penjajah, kita masih bisa jadi ‘Pitung’, nggak sih?”
Dia melanjutkan pemikirannya, “Meskipun zaman sudah berubah,”kayaknya semangat perjuangannya masih bisa kita tiru juga di zaman sekarang, ya, Kek?”. Menjadi Pitung sekarang mungkin nggak berarti mencuri dari orang kaya untuk dibagikan kepada yang miskin, tapi lebih kepada berjuang untuk keadilan sosial dan melawan segala bentuk penindasan yang masih ada di sekitar kita. Contohnya, kita bisa menyuarakan keadilan lewat berbagai media, membantu sesama dengan kegiatan sosial, atau meningkatkan pendidikan dan kesadaran. Bahkan, dengan bergabung dalam komunitas yang fokus pada perubahan sosial, kita bisa berkontribusi dalam memperjuangkan keadilan dan kesetaraan.”
Nara tersenyum, “Dengan cara-cara ini, siapa pun bisa jadi ‘Pitung’ di era modern. Kita bisa jadi seseorang yang berani dan berkomitmen untuk melawan ketidakadilan dan memperjuangkan kebaikan bersama. Semangat juang Pitung tetap hidup dalam setiap tindakan kecil kita untuk menciptakan dunia yang lebih adil dan sejahtera.”
Eh… tapi maksud Nara, bukan jadi pencuri beneran ya, Kek!”
“Benar sekali Nara. Kita bisa melakukannya dalam bentuk yang lain. Sekarang, kita lawan kemalasan, kebodohan, dan sikap cuek. Kita bantu sesama, berani bersuara untuk yang benar. Pitung bukan cuma soal golok—tapi soal hati yang bersih dan berani.”
“Kalau gitu, Nara mau jadi Pitung zaman sekarang.”
“Asal jangan bawa golok ke sekolah, ya,” kata Kakek sambil terkekeh. Mereka pun tertawa bersama.
“Zaman boleh berubah. Tapi keberanian melawan ketidakadilan dan kepedulian pada sesama tetap abadi. Seperti Si Pitung, kita bisa jadi pahlawan—dengan cara kita sendiri.” (*)
Oleh Naura Fathya Haya