Konon ceritanya, pada zaman dahulu terdapat sebuah wilayah yang sangat luas dan dipenuhi oleh rawa-rawa. Lokasi ini terletak jauh dari pemukiman warga dan dikelilingi oleh perbukitan. Tak seorang pun tinggal di tempat tersebut. Rawa-rawa itu dipenuhi oleh bunga teratai yang sangat cantik dan berwarna-warni, seperti putih, merah muda, biru, dan ungu. Di dalam rawa itu juga tumbuh berbagai macam tanaman air yang terlihat jelas karena air rawa itu jernih. Ikan-ikan di dalam rawa terebut juga kerap terlihat, jumlahnya banyak dan besar-besar. Namun, meskipun terlihat indah, tidak ada satu pun penduduk yang berani kesana dan menagkapnya karena tempat itu telah dianggap angker dan keramat.
Pada zaman itu tinggalah petani miskin, sebut saja namanya Pak Joko, bersama istri dan putri semata wayangnya, Risma. Suatu hari, Risma merengek meminta selendang baru karena malu melihat teman-temannya memakai selendang cantik. Meski sedang musim paceklik, Pak Joko tidak tahan melihat anaknya sedih. Ia akhirnya berjanji akan mencarikannya. Dalam keputusasaannya, ia nekat pergi ke rawa keramat untuk menangkap ikan dan menjualnya, meski istrinya telah melarang. Diam-diam, Pak Joko berangkat pada pagi buta. Namun, ia tak pernah kembali. Penduduk menduga ia menjadi korban Manuk Gurda, sang penjaga rawa. Istri dan anaknya sangat terpukul. Risma menyesali keegoisannya dan merasa bersalah atas kepergian ayahnya.
Sejak itu, warga desa semakin takut pada rawa tersebut. Untuk mencegah korban lebih banyak, warga rutin mengadakan ritual sesaji dan kepala kerbau agar Manuk Gurda tidak murka. Manuk Gurda diyakini sebagai penjelmaan pendekar sakti dari negeri seberang yang dikutuk menjadi burung elang karena kesombongan dan keserakahannya. Burung siluman itu sering mengeluarkan suaranya yang menciap-ciap sangat keras. Lama kelamaan bunyi itu diucapkan menjadi “cap-cap-cap” yang sering terdengar dari rawa, menjadi cikal bakal nama “Cilacap”, yang bermakna peringatan untuk tidak berbuat jahat.
Pada zaman yang sama pula, hiduplah seorang santri yang saleh, suka menolong, dan rajin beribadah bernama Jaya. Semua penduduk sangat suka pada Jaya karena tingkah lakunya yang sopan. Namun, suatu ketika, Jaya diberi cobaan oleh Tuhan untuk menguji ketaatan dan ketabahan hatinya. Ia terkena penyakit kulit parah – gudig –, yang membuat tubuhnya bernanah dan bau, sehingga dijauhi oleh teman-temannya dan penduduk setempat. Karena merasa takut dan terganggu dengan bau serta penampilan Jaya, penduduk desa akhirnya mengasingkan Jaya ke daerah rawa yang terpencil dan keramat, dan sejak terkena penyakit itu ia dikenal sebagai Santri Gudig.
Di tempat pengasingan, Santri Gudig hidup sebatang kara dengan membangun gubuk kecil di tepi rawa. Ia bertahan hidup dengan mencari ikan dan berburu binatang. Meskipun hidup sendiri, dan dalam keadaan yang memprihatinkan, Santri Gudig tetap rajin beribadah. Suatu hari, saat ia sedang beristirahat dibawah pohon klepu, tiba-tiba seekor elang raksasa penunggu rawa menyerangnya untuk memangsanya. Santri Gudig berhasil menghindar, ia mengambil keris pusaka pemberian gurunya dan menyerang Elang tersebut. Dengan keris itu pula Santri Gudig berhasil membunuh elang tersebut dengan menusuknya tepat dijantung si elang dan…Aaaaaaaakkk! Burung itu terjatuh ditanah, daun-daun klepu kering beterbangan dan menutupi tubuh si elang. Tak lama kemudian elang itu mati terbakar, api-nya menymbar ke pohon-pohon sekitar, butuh tiga hari untuk padam. Kemudian daerah itu diberi nama dengan sebutan Rawa Panggang.
Hari-hari berlalu menjadi minggu, minggu pun menjelma bulan, dan bulan akhirnya berganti tahun—semua berjalan tanpa henti, mengikuti arus waktu yang tak pernah menunggu. Suatu hari di dalam tidurnya, Santri Gudig bermimpi aneh. Ia bertemu kakek tua yang sekarat. Ia menolong kakek itu dan memberinya satu-satunya buah mundu yang dimilikinya. Sebagai balasan, kakek tersebut memberinya tiga biji buah mundu dan tongkat bambu bertuah, yang katanya kelak akan membantunya menghadapi cobaan. Setelah bangun dari mimpi, Santri Gudig trekejut menemukan tongkat dan biji itu benar-benar ada. Ia menyimpan benda tersebut dan melanjutkan hidup seperti biasa.
Suatu hari, ketika ia sedang menusukkan tongkat ke tanah untuk membantunya berjalan di atas rawa, tiba-tiba belut keluar terus menerus dari bekas lubang tusukan tongkatnya. Santri Gudig terkejut melihat kejadian itu, dan berusaha menutup lubang-lubang tersebut. Namun, semua upayanya tidak membuahkan hasil. Alhasil ia mulai membakar dan maemakan satu belut tersebut dan membuang sisa kepala belut itu. Aneh sekali, seketika lubang-lubang yang mengeluarkan belut menutup. Kemudian ia menamai tempat itu dengan nama Rawa Belut yang kemudian menjadi daerah pemukiman bernama Sidanegara.
Santri Gudig melanjutkan perjalanannya. Tanpa ia sadari, ternyata satu biji mundunya terjatuh dan hilang. Ia mendengar suara tangisan dan menemukan gadis cantik yang tergeletak lemah dan kotor. Ia membawa gadis itu pulang dan merawatnya. Gadis itu sangat aneh, tidak banyak bicara, dan takut pada biji mundu milik Santri Gudig terutama yang berwarna putih. Akhirnya, Santri Gudig memberi nama gadis itu Mundi Sari, tanpa menyadari bahwa ia adalah jelmaan dari biji mundu hitam.
Setelah beberapa waktu tinggal bersama, Santri Gudig memutuskan menikahi Mundi Sari. Namun, sejak saat itu, Mundi Sari mulai mempengaruhinya untuk meninggalkan ibadah, berbuat jahat dan sampai membujuk untuk membalas dendam pada penduduk yang dulu mengusirnya. Awalnya ia menolak, namun akhirnya ia pun terbujuk dan mulai membakar rumah penduduk. Penduduk desa menjadi panik karena tiap malam Jumat selalu ada rumah yang terbakar misterius. Mereka menduga ini ulah arwah Santri Gudig yang diyakini sudah meninggal, padahal ia masih hidup.
Hari demi hari telah berlalu, saat Santri Gudig berjalan menelusuri hutan untuk mencari kayu bakar, ia bertemu dengan seorang gadis kecil yang merintih kesakitan dan memohon pertolongan. Namun, alih-alih menolong, ia malah merampas kalung milik gadis itu dan membiarkannya menangis kesakitan. Ternyata, gadis kecil itu adalah dewi yang menyamar, dan setelah ditinggalkan, ia berubah menjadi keong putih dan masuk ke dalam tumpukan kayu bawaan Santri Gudig. Awalnya ia tidak sadar, namun setelah barang bawaannya jatuh dan menemukan keong putih tersebut. Santri Gudig mengambilnya dengan tujuan untuk dipelihara dan dikembangbiakkan dan terlintas di pikirannya bahwa ia akan menjadi saudagar kaya.
Di rumah, Santri Gudig menyembunyikan keong putih itu di kuali berisi air dan berharap bisa membiakkannya untuk menghasilkan mutiara. Ia memberikan kalung rampasan itu kepada istrinya. Mundi Sari senang menerimanya, tetapi keesokan harinya tubuhnya penuh luka seperti gudig. Ia membuang kalung itu dan menyembunyikan dirinya. Santri Gudig menjadi bingung dengan kelakuan istrinya setelah melihat keong putih yang berada dikuali berubah menjadi seorang Dewi yang ternyata ditugaskan untuk menangkap Mundi Sari dan mengubah Santri Gudig berubah menjadi baik seperti sebelumnya.
Setelah kejadian itu, Santri Gudig sangat menyesal dan ingin bertobat. Pada suatu malam, ia bermimpi kembali bertemu dengan kakek tua yang dulu pernah ia tolong dalam mimpi. Kakek itu memintanya untuk melakukan pertapaan selama tujuh hari tujuh malam di sebuah danau keramat, untuk membersihkan dirinya dari dosa masa lalu. Dengan tekad kuat, Santri Gudig memulai perjalanan spiritualnya. Ia melewati dua rawa, satu berbentuk garu dan satu lagi menyerupai pasungan. Sebagai penanda, ia menancapkan tongkat pemberian kakek ke dua titik itu. Rawa tersebut kemudian dikenal sebagai Rawa Garu dan Rawa Pasung.
Setibanya di danau, Santri Gudig memulai pertapaannya. Hari-hari berlalu dalam keheningan, doa, dan ibadah. Namun, semakin lama ia bertapa, semakin berat godaan datang. Suara-suara menakutkan, bayangan siluman, hingga makhluk menyerupai Mundi Sari berusaha menggoda dan menakutinya. Tapi Santri Gudig tetap teguh, ia membaca doa, menggenggam biji mundu, dan menggunakan tongkat bambu sebagai pelindung batin. Ia berhasil mengalahkannya dan menyelesaikan ritualnya selama tujuh hari tujuh malam. Ia kembali sebagai pribadi yang suci dan membangun padepokan untuk mengajarkan agama dan kebajikan. Rawa Pasung dan tempat-tempat lainnya menjadi saksi kisah pengorbanan, kesalahan, dan penebusan. Cerita ini diwariskan turun-temurun sebagai pengingat agar manusia tidak serakah, tidak lalai pada ibadah, dan selalu berbuat baik.(*)
Oleh Annisa Dwi Rahmawati