Di tengah dataran tinggi Jawa Barat, terbentang sebuah kota yang sejuk dan indah, bernama Bandung. Konon, nama “Bandung” berasal dari kata “bandeng” atau “bendung”, yang merujuk pada terbentuknya danau besar purba akibat aliran Sungai Citarum yang terhambat oleh letusan Gunung Tangkuban Perahu ribuan tahun silam. Air yang terjebak di cekungan itu menciptakan danau luas, yang kemudian surut dan menjadi dataran subur tempat berdirinya Kota Bandung.
Bandung mulai berkembang pesat sejak zaman penjajahan Belanda. Pada awal abad ke-20, pemerintah kolonial memindahkan pusat pemerintahan dari Batavia ke Bandung untuk sementara waktu karena udaranya yang sejuk dan pemandangannya yang memesona. Sejak saat itu, Bandung menjadi kota modern dengan arsitektur bergaya Eropa, jalan-jalan yang tertata rapi, dan berbagai toko serta kafe yang bergaya elegan.
Kehidupan sosial di Bandung kala itu begitu modis dan bergaya, menyerupai suasana di Paris, Prancis. Oleh sebab itu, orang-orang Belanda menjuluki kota ini sebagai “Paris van Java”, yang artinya “Paris dari Pulau Jawa”.
Julukan itu tidak hanya mencerminkan keindahan dan gaya hidup Bandung yang modern, tapi juga menunjukkan betapa besar pengaruh budaya Eropa di kota ini. Bangunan bergaya art deco, butik-butik fesyen, serta pusat hiburan seperti bioskop dan teater menjadi ciri khas Bandung masa itu.
Kini, Bandung tetap menjadi kota kreatif dan penuh semangat muda. Warisan sejarah dan julukan “Paris van Java” tetap melekat, menjadi kebanggaan warga Bandung sekaligus daya tarik bagi wisatawan dari berbagai penjuru dunia.(*)
Oleh M Fadhil Putra Pratama Usman