Pada awal abad ke-18, tanah Mataram tengah bergolak. Setelah wafatnya Sultan Amangkurat I, kekuasaan jatuh ke tangan putranya, Amangkurat II, yang naik takhta dengan berbagai janji pembaruan. Namun tak semua orang percaya padanya. Sebagian bangsawan dan rakyat merasa kecewa pada kebijakan baru sang raja, terutama yang dianggap memihak Belanda dan menindas rakyat kecil.
Tumenggung Martoloyo, salah satu rakyat yang angkat suara mengenai kebijakan-kebijakan tersebut. Ia adalah seorang bangsawan terhormat, ahli strategi, dan pemimpin yang dicintai banyak rakyat. Ia menolak tunduk pada perintah istana yang dianggapnya menyeleweng. Pemberontakan pun tak terelakkan. Bukan demi ambisi, tetapi demi keadilan.
Dengan bantuan VOC, kekuatan instana menjadi lebih besar. Pasukan kerajaan menyerang Martoloyo dan para pengikutnya. Mereka terpaksa mundur dan tercerai-berai. Sebagian ditangkap, sebagian gugur, dan sebagian lainnya yang masih hidup melarikan diri ke arah barat.
Salah satu kelompok pelarian itu dipimpin oleh seorang abdi setia Martoloyo bernama Ki Wirya. Bersama puluhan pengikutnya, mereka berjalan menyusuri hutan dan lembah, menghindari jalur ramai, sampai akhirnya tiba di sebuah daerah sunyi yang belum bernama.
Hutan itu lebat, dipenuhi pohon randu atau kapuk yang menjulang tinggi. Di tengahnya mengalir sebuah sungai kecil, deras dan tajam alirannya. Sungai itu memotong tanah seperti bilah gunting. Tempat itu terasa asing, namun aman.
Malam hari, di bawah naungan randu tua, para pelarian berkumpul mengitari api unggun kecil. Angin malam berembus perlahan, membawa aroma tanah dan kapuk yang jatuh.
“Ki Wirya… apa benar kita akan tinggal di sini? Tanah ini seperti tak pernah dijamah manusia.” Ucap Satria, seorang pemuda yang masih muda dan penuh semangat.
“Kita telah kehabisan tempat untuk berlari, Nak. Tanah ini mungkin asing… tapi ia menyambut kita dengan tenang. Tak ada pasukan kerajaan. Tak ada pengkhianat.” Jawab Ki Wirya serayu menatap Satria dengan mata sayu.
“Pohon randu di sini besar-besar. Mungkin ini pertanda. Tempat ini telah lama menunggu penghuninya.” Timpal Mbok Saren, seorang perempuan tua yang datang entah darimana.
Esok harinya, mereka mulai membangun gubuk dari bambu dan daun randu. Sungai yang deras menjadi sumber air, namun juga ancaman. Banyak anak-anak nyaris hanyut karena alirannya. Maka mereka membuat pembatas dari batu dan kayu.
“Sungai ini seperti gunting,” ujar Satria sambil mengamati alirannya, “membelah tanah dan bisa melukai siapa saja yang ceroboh.” Lanjut Satria.
Ucapan itu menginspirasi nama tempat baru mereka.
“Kalau begitu, biarlah kita menyebut tempat ini Randugunting. Randu yang menaungi kita, dan gunting yang melindungi sekaligus menguji keberanian kita.” Usul Ki Wirya.
Waktu berlalu dan Randugunting kini menjadi pemukiman kecil yang mandiri. Anak-anak tumbuh, sawah mulai ditanam, dan pohon randu tetap berdiri gagah di tepi hutan. Tapi sejarah tak dilupakan. Setiap tahun, pada malam bulan purnama pertama setelah panen, para warga berkumpul di tepi sungai. Mereka meletakkan bunga dan air putih di atas daun randu sebagai penghormatan kepada Martoloyo dan para pejuang yang gugur.
“Kita adalah anak dari perlawanan,” ujar Ki Wirya suatu malam di hadapan warga. “Mungkin kita bukan bangsawan, bukan pemenang perang… tapi kita pewaris keberanian.”
Kini, Randugunting telah berubah menjadi kelurahan di tengah hiruk pikuk Kota Tegal. Bangunan modern berdiri, jalan raya membelah tanah, tapi nama Randugunting tetap lestari. Di balik nama itu, terpatri sejarah pengorbanan, pelarian, dan harapan yang tak pernah padam.(*)
Oleh Yasmine Ayu Oktaviani