Desa Gergunung di Kabupaten Temanggung

Malam hari telah tiba, suara serangga malam mulai terdengar, suara lampu neon yang sudah lama dipakai menjadi pertanda bahwa sebentar lagi waktunya tidur. Namun, aku masih belum mengantuk dan memutuskan untuk menyelusuri lorong rumahku, tiba-tiba aku di kagetkan oleh Eyang dengan jamu dedaunannya yang beliau bawa dari dapur sambil bertanya

Kok durung turu? Uwis bengi lho, Nduk (Kok belum tidur? Sudah malam lho, Nak)”, tegur Eyang yang memergokiku yang masih belum tidur.

Dereng ngantuk, Mbah (belum ngantuk, Eyang),” ucapku menjawab pertanyaan dari Eyang.

Ayo turu karo Mbah. (ayo tidur sama Eyang),” ucap Eyang. 

Aku pun tak kuasa menolak ajakan Eyang dan akhirnya mengganguk lalu ikut ke kamar Eyang untuk tidur.

Sesampainya di kamar Eyang, aku langsung berbaring di ranjang tua Eyang. Dengan iseng, aku berkata, “Mbah, aku pingin krungu crita apa bae sing Eyang reti. (Eyang, aku ingin dengar cerita apa saja yang Eyang tahu),” ucapku sambil memeluk badan Eyang. 

Eyang yang mendengar perkataanku terlihat malas untuk menanggapi, akan tetapi karena aku cucu kesayangannya, dia pun berkata, “Ya Allah, Nduk,Nduk. Ya wis Mbah arep crita dongeng asal-usul omah Eyang ning Temanggung ning desa Gergunung. (Ya Allah, Nak, Nak. Ya sudah Eyang mau cerita dongeng asal mula tempat tinggal Eyang di Temanggung di Desa Gergunung),” ucap Eyang.

Aku hanya tersenyum sambil memeluk bantal gulingku. Eyang berbalik ke kiri menatapku dan mulai bercerita “Mbiyen, Nduk sakdurunge Temanggung ana kaya saiki, panggonan iku mbentok alas gedhe lan kebak karo uwit duwur lan swara kewan liar ning ngisor Gunung Sumbing lan Gunung Sindoro. (Dulu, sebelum kota Temanggung berdiri seperti sekarang, tempat itu hanyalah hutan lebat yang penuh dengan pohon tinggi dan suara-suara hewan liar di kaki Gunung Sindoro dan Sumbing).”

Mendengar itu aku langsung membalas perkataan Eyang, “Pantes ya Mbah, nang kene hawane anyes soale neng Gunung. (Pantas di sini dingin ya, Eyang, soalnya di gunung)” ucapku dan Eyang pun menganggukan kepala dan lanjut bercerita. Eyang mulai bercerita asal mula terbentuknya Kota Temanggung hingga aku mulai mengantuk.

Dari cerita Eyang, aku menjadi tahu tentang bagaimana Kota Temanggung itu terbentuk. Dahulu kala wilayah kota Temanggung hanyalah hutan lebat yang diisi oleh pohon-pohon tinggi dan hewan-hewan liar yang hidup di kaki Gunung Sindoro dan Sumbing. Eyang bercerita kembali tentang sekelompok penduduk yang bijak dan sangat menghargai alam mereka hidup dengan damai dan sederhana, mengandalkan sumber air mata pegunungan dan ada satu mata air magis yang dijaga oleh para penduduk karena diyakini bisa menyembuhkan segala penyakit. 

Lalu ada seorang pemuda sakti yang bernama Tumenggung, yang datang dari jauh karena mendengar kabar mengenai sumber mata air magis itu. Tumenggung bukanlah orang biasa, dia adalah cucu dari seorang tokoh sakti dari seberang. Tumenggung dikenal oleh warga sekitar sebagai pribadi yang ramah dan baik hati lagi sopan. Dia kerap turut membantu warga dalam pembukaan lahan tani, mengatasi serangan binatang buas. 

Karena kebaikannya itu, orang-orang mulai menyebut tempat itu sebagai Tumenggung atas jasa yang di lakukan Tumenggung selama menatap di wilayah itu, lama-lama sebutan itu berubah menjadi kata “Temanggung” karena kebiasan orang dahulu yang suka meyingkat kata.

Kata Eyang, sampai sekarang orang-orang di Temanggung masih dikenal ramah dan suka bergotong-royong. Banyak cerita-cerita tua yang diturunkan dari kakek nenek tentang Tumenggung yang bijak itu. Jadi, setiap kali orang di Temanggung melihat gunung yang menjulang atau hamparan tembakau yang hijau, orang itu akan mengingat bahwa semua itu bermula dari kebaikan hati seorang pemuda dan cinta penduduk terhadap tanahnya.

Mbah, terus desa iki pasti ana asal-usule kan? (Eyang, kalau desa ini terus gimana asal-usulnya pasti ada ceritanya juga kan?)” ucapku yang seakan belum puas mendengar dongeng dari Eyang. 

Aduh, Nduk, kok durung ngantuk tah. (Aduh, Nak, kok belum ngantuk),” ucap Eyang sembari menghela nafas untuk memulai bercerita kembali.

Nenek pun bercerita mengenai asal mula desanya. Desa Gergunung tercipta karena dahulu Belanda datang dan menduduki wilayah Desa Bumiayu. Mereka memperbudak, menjarah, dan membunuh para warga desa. Karena kekejaman itu para penduduk Desa Bumiayu naik ke bagian atas desa untuk menghindari kekejaman Belanda.

Setelah warga Bumiayu pergi ke atas desa, Belanda melakukan penyisiran dan mengintrogasi orang-orang yang mereka temukan. Orang-orang itu bilang ke Belanda bahwa penduduk desa berada di “Gergunung”. Belanda yang salah mengartikan mengira “Gergunung itu adalah Pagar Gunung”. Mereka pun pergi ke pagar Gunung Sumbing untuk mencari warga Desa Bumiayu. Penjajah pun pergi dan penduduk desa terselamatkan akhirnya desa bagian itu sampai sekarang dinamai Desa Gergunung.(*)

Oleh Alma Unatus Sholikhah