Pada era digital saat ini, terlihat menarik di platform sosial media sosial seakan menjadi hal yang wajib. Postingan yang menarik, barang branded, dan lokasi populer menjadi “ukuran” sejauh mana seseorang dianggap keren. Namun di balik itu semua, ada sebuah kejadian yang dikenal dengan istilah flexing atau kebiasaan menunjukkan kekayaan dengan cara hidup mewah yang diam-diam mulai memengaruhi pola pikir generasi muda, termasuk para mahasiswa.
Hampir semua mahasiswa menggunakan platform media sosial seperti Instagram, TikTok, dan X, platform tersebut telah menjadi tempat untuk menunjukkan siapa diri mereka dan bagian terbaik dari hidup mereka. Sebuah kebiasaan baru yang disebut “flexing” telah muncul, yang berarti secara terbuka memamerkan kekayaan dan kemewahan. Beberapa orang menganggap ini sebagai cara untuk merasa baik tentang diri mereka sendiri. Namun, yang lain berpendapat bahwa tren ini hanyalah cara untuk memamerkan status sosial secara berlebihan.
Awalnya, flexing tidak dianggap sebagai hal yang buruk. Banyak orang berbagi prestasi mereka dengan harapan menginspirasi atau menunjukkan kerja keras mereka. Misalnya, siswa yang membeli laptop dari hasil kerja paruh waktu atau orang yang memamerkan ijazah setelah lulus. Namun, seiring waktu, makna flexing telah berubah. Banyak orang melakukannya bukan hanya untuk berbagi kebahagiaan, tetapi juga untuk mendapatkan pujian dan persetujuan dari orang lain. Seiring berkembangnya kebiasaan ini, muncul kebutuhan untuk selalu memamerkan sesuatu yang lebih besar dan lebih mencolok.
Di kalangan mahasiswa, flexing semakin umum. Banyak yang merasa harus memamerkan gaya hidup yang sedang trend untuk terlihat baik di mata teman-teman mereka. Postingan foto di kafe mewah, pakaian bermerek, gadget baru, dan perjalanan ke kota lain sering mengisi feed media sosial. Namun, tidak semua hal ini sesuai dengan kondisi keuangan mereka yang sebenarnya. Beberapa orang mengorbankan pengeluaran lain atau meminjam uang untuk mempertahankan citra mereka secara online. Tanpa disadari, hal ini mengarah pada gaya hidup palsu di mana penampilan lebih penting daripada kenyataan.
Tekanan teman seumuran berpengaruh besar dalam gaya hidup di kalangan mahasiswa. Melihat teman-teman terlihat keren dan bahagia di media sosial membuat beberapa mahasiswa merasa tertinggal jika mereka tidak melakukan hal yang sama. Perasaan iri dan ketidakamanan mulai tumbuh, disertai dengan keinginan untuk bersaing atau terlihat setara. Pada akhirnya, banyak yang berusaha menunjukkan kehidupan yang sempurna, meskipun itu tidak benar. Siklus ini menimbulkan stres dan kekhawatiran bagi siswa.
Media sosial juga memperburuk situasi karena cara kerjanya. Konten yang menampilkan kemewahan, barang-barang mahal, atau perjalanan ke tempat-tempat indah cenderung mendapatkan perhatian lebih cepat. Karena itu, pengguna ingin membuat konten serupa untuk mendapatkan lebih banyak perhatian. Tanpa disadari, media sosial menjadi ajang persaingan gaya hidup, bukan tempat untuk berbagi pengalaman. Definisi kesuksesan berubah dari “apa yang telah kamu lakukan” menjadi “apa yang bisa kamu pamerkan”.
Dampak flexing pada mahasiswa tidak boleh diabaikan. Salah satu dampak terbesar adalah perubahan cara mereka memandang arti kesuksesan. Banyak mahasiswa mulai berpikir bahwa kesuksesan diukur dari seberapa mewah gaya hidup mereka. Hal ini memicu pola pikir materialistis, di mana seseorang merasa berharga hanya ketika memiliki barang- barang mahal atau status sosial tinggi. Namun, kesuksesan sejati jauh lebih luas, termasuk prestasi akademik dan karakter yang baik.
Selain itu, gaya hidup flexing juga membuat orang jadi lebih boros dalam membeli barang. Mahasiswa yang dulunya hidup hemat jadi lebih boros hanya untuk terlihat keren di internet. Mereka mau membeli barang yang sebenarnya tidak perlu, hanya supaya dianggap mengikuti perkembangan zaman. Hal ini bisa menyebabkan masalah keuangan, terutama bagi mahasiswa yang masih diberi uang oleh orang tua. Bukannya menikmati masa kuliah dengan tenang, mereka malah jadi terbebani karena gaya hidup yang tidak sesuai kemampuan.
Masalah lain yang juga serius adalah gangguan pada kesehatan jiwa. Jika seseorang terus membandingkan dirinya dengan orang lain di media sosial, dia akan merasa tidak puas dengan dirinya sendiri. Mahasiswa bisa merasa kurang baik, gagal, atau bahkan tidak berharga hanya karena hidupnya tidak sekeren yang ditunjukkan orang lain. Padahal, apa yang dilihat di media sosial seringkali sudah diedit dan diatur, jadi tidak benar-benar menggambarkan keadaan yang sebenarnya. Jika tidak dihadapi dengan baik, hal ini bisa menyebabkan stres, khawatir berlebihan, bahkan depresi ringan.
Flexing juga bisa merusak hubungan dengan orang lain. Mahasiswa yang terlalu sering memamerkan gaya hidupnya yang mewah bisa dianggap sombong, sementara yang melihatnya mungkin merasa iri atau ingin menyainginya. Keadaan ini membuat jarak antar teman dan menumbuhkan sikap saling membandingkan. Padahal, seharusnya pertemanan dibangun dengan saling mendukung, bukan saling menilai dari apa yang dilihat di internet. Akibatnya, budaya flexing secara tidak langsung membuat hubungan sosial di antara mahasiswa menjadi kurang baik.
Meskipun begitu, bukan berarti flexing selalu berdampak buruk. Dalam beberapa situasi, menunjukkan hasil kerja keras bisa menjadi penyemangat bagi orang lain. Contohnya, mahasiswa yang berhasil menabung dari pekerjaan sampingan lalu membeli barang yang berguna. Jika diceritakan dengan jujur, hal itu bisa menjadi contoh yang baik. Artinya, yang penting dari suka pamer itu bukan hanya sekadar menunjukkan, tapi apa niatnya. Jika tujuannya untuk memberi semangat, bukan untuk menyombongkan diri, maka flexing bisa memberikan dampak yang baik.
Agar terhindar dari dampak buruknya, mahasiswa harus punya kesadaran dan pengetahuan yang baik tentang dunia digital. Mereka harus bisa membedakan antara dunia internet dan dunia nyata. Tidak semua yang dilihat di layar itu benar. Mahasiswa perlu mengerti bahwa setiap orang punya jalan dan waktu yang berbeda untuk meraih kesuksesan. Dengan berpikir seperti ini, tekanan dari budaya suka pamer bisa dikurangi.(*)
Oleh Khoirunnisa Dwi Anggraeni