Barikan, Suatu Tradisi Pada Malam 1 Sura di Kabupaten Kendal

Kabupaten Kendal merupakan suatu daerah yang berada di Jawa Tengah, yang memiliki sebuah tradisi unik, yaitu barikan. Tradisi ini dilaksanakan setiap malam 1 Sura, atau malam pertama pada bulan Sura dalam kalender Jawa. Barikan sendiri adalah sebuah tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Kendal untuk menyambut datangnya tahun baru Jawa. Tradisi ini biasa dimulai dengan membersihkan rumah dan lingkungan disekitar, yang kemudian dilanjut dengan membuat berbagai jenis makanan atau minuman.

Setelah itu, jika malam sudah tiba atau sekitar habis Magrib, para masyarakat akan berkumpul di suatu musholla atau jalan untuk melakukan tradisi Barikan. Mereka akan membawa makanan atau minuman yang sudah dibuat sebelumnya dan meletakkannya di tempat yang telah disediakan. Kemudian, dilanjutkan dengan membaca doa yang dipimpin oleh salah satu tokoh agama setempat. Setelah doa selesai, para masyarakat akan membagikan makanan dan minuman kepada yang lain untuk dimakan bersama-sama, sebagai simbol kebersamaan, kerukunan, dan persatuan. Tidak ada batas antara orang tua dan muda, semua duduk bersama dalam satu lingkaran kesetaraan.

Barikan bukan hanya sebuah tradisi, tetapi juga merupakan sebuah cara untuk mempertahankan budaya dan tradisi Jawa. Dengan melakukan barikan ini, masyarakat Kendal dapat mempertahankan identitas budaya mereka dan akan mewariskannya kepada generasi berikutnya. Selain itu, Barikan ini juga memiliki makna yang dalam, yaitu sebagai simbol harapan dan doa untuk tahun yang akan datang. Masyarakat Kendal akan berharap  bahwa tahun datang akan membawa kebahagiaan, kesuksesan, dan keselamatan bagi semua orang. Dalam beberapa tahun terakhir, Barikan merupakan salah satu acara yang paling dinantikan oleh para masyarakat di Kabupaten Kendal. Banyak orang di luar daerah untuk menyaksikan kebersamaan dengan masyarakat Kendal.

Dengan demikian, Barikan merupakan sebuah tradisi yang sangat penting bagi masyarakat Kendal. Tradisi ini tidak hanya mempertahankan budaya dan tradisi Jawa, tetapi juga membawa harapan, doa untuk tahun yang akan datang, dan ruang interaksi sosial yang membangun solidaritas untuk memperkuat komunitas, serta menjaga nilai-nilai kearifan lokal yang relevan dengan tantangan zaman sekarang ini. Kemudian, diharapkan untuk generasi yang akan datang untuk dapat mempertahankan tradisi Barikan ini. Maka, dengan itu budaya dan tradisi Jawa dapat terus dipertahankan dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Selain itu, generasi yang akan datang juga diharapkan dapat mempertahankan rasa kebersamaan dan persatuan yang telah dibangun melalui tradisi Barikan ini.(*)

Oleh Muhammad Ainur Rofiq