Ramai-Ramai Pindah Gereja, Ada Apa?

Agama Kristen di Indonesia adalah agama yang pengikutnya signifikan dengan 29 Juta pengikut. Sejarah Kekristenan di Indonesia memiliki banyak nilai-nilai martir dalam prespektif kekristenan. Masuknya kekristenan di Indonesia tidaklah terlepas dari peran Lembaga misionaris dari berbagai lembaga, dari Belanda yaitu “Nederlandsch Zendeling Genootschap” (NZG), dari Jerman yaitu Rheinische Missionsgesellschaft (RMG), gereja Katolik Roma yang kebanyakan berasal dari Portugis, serta bangsawan-bangsawan Eropa yang banyak membangun Gereja di kawasan Indonesia.

Masing-masing dari Lembaga misionaris tersebut memiliki warisan sinode (organisasi gereja) sendiri-sendiri di Indonesia. Sebenarnya, terdapat gereja aliran Pentakosta pada masa kekuasaan Belanda, tapi jumlahnya tidaklah terlalu banyak, saat itu hanya ada dua sinode, yaitu GPdI yang kebanyakan bertempat di Surabaya dan GPI yang  berpusat di Sumatera Utara, Gereja Pentakosta di Indonesia disebarkan oleh pendeta Amerika yang ke Indonesia saat itu.

Lembaga-lembaga misionaris dari Eropa tersebut terdiri dari denominasi yang berbeda, Jika yang dari Portugal beraliran Kristen Katholik Roma, dari Jerman beraliran Kristen Protestan Lutheran, dan Belanda adalah aliran Kristen Protestan Calvinism. Penyebaran terbanyak adalah dilakukan Kristen Protestan Calvinism yang memiliki banyak warisan Sinode-Sinode Gereja seperti GPIB, GKI, GBKP, GKJ, GMIM, dan lain-lain. Penyebaran terbanyak kedua dilakukan oleh Gereja Katholik Roma, di mana penyebaran terbesarnya berada di daerah Nusa Tenggara Timur. Dan penyebaran terbanyak ketiga adalah dari Gereja Kristen Protestan Lutheran yang tempatnya berada di Sumatera Utara, sinode yang dibentuk ialah HKBP, GKPS, HKI, BNKP, GKPA, dan lain-lain. Untuk aliran Pentakosta, saat keuasaan Belanda hanya ada GPdI dan GPI, tapi saat ini penyebarannya mulai meluas hingga terdapat sinode-sinode seperti GBI, GMS, GBT, GPPS, dan lain-lain.

Gereja Calvinism dan Gereja Lutheran adalah dua gereja Kristen Protestan yang berasal dari Sejarah sama namun berbeda dalam prinsip teologi. Kesamaan kedua gereja ini adalah memiliki tata ibadah yang teratur dengan ibadah yang tenang.  Gereja Calvinism dan Gereja Lutheran adalah salah satu gereja tradisional yang memecahkan diri dari tubuh gereja Katolik. Berbeda dengan Pentakosta, Pentakosta adalah aliran Gereja Modern yang lahir pada abad 19 yang memiliki sistem ibadah yang paling berbeda dengan gereja pendahulunya.

Sampai saat ini, Gereja aliran tradisional masih tetap menjadi mayoritas dalam catatan kependudukan di Indonesia. Akan tetapi, jemaat gereja aliran tradisional mulai menurun dalam minat anak muda bergereja. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya malas ke gereja dan yang sering terjadi adalah pemikiran beralih ke gereja yang menurut anak muda lebih nyaman untuk mereka tempati ibadah. Tempat yang nyaman untuk beribadah bagi anak muda Indonesia kebanyakan adalah tempat ibadah yang berisi lagu-lagu genre modern dan ibadahnya seperti ”konser”.

Bagi anak muda, di mana ia nyaman disitulah ia akan berkembang dengan dirinya sendiri. Begitu halnya dengan gereja, di mana anak muda merasa nyaman dalam beribadah, di situlah dia akan bertumbuh dengan keyakinannya. Sayangnya, gereja yang baru bisa membuat anak muda betah dalam beribadah kebanyakan berasal dari gereja aliran Pentakosta Karismatik (Karismatik adalah pecahan Pentakosta). Hal-hal yang membuat para pemuda Kristen nyaman dalam beribadah di Gereja Karismatik adalah karena banyak yang sesuai dengan dunia mereka seperti musik yang bagi mereka bisa nikmati, di gereja bebas meng-ekspresikan sesuatu yang mereka rasakan, dan khotbah dari para pendeta seringkali lebih mudah mereka pahami.

Berbeda hal nya dengan kebanyakan gereja tradisional yang selalu menggunakan cara yang sama seperti mula-mula terbentuk. Mulai dari khotbah yang sering dibaca hingga tak dipahami lalu program gereja yang tidak berkembang, dan yang paling utama adalah kurangnya memanfaatkan platfrom digital. Tentu saja hal ini menyebabkan ketidaksesuaian dengan apa yang anak muda inginkan. Gereja tradisional perlu belajar dalam hal menyesuaikan zaman yang tidak melanggar Alkitab, jika zaman sudah berganti, tentu harus ada cara baru yang ditunjukkan, dan itulah yang dibutuhkan pemuda Kristen saat ini.

Gencarnya perpindahan Gereja bagi anak muda juga disebabkan oleh penyebaran firman yang kurang dijangkau oleh gereja tradisional. Sampai saat ini, penyebaran firman yang lebih luas lebih dilakukan oleh gereja-gereja Pentakosta Karismatik. Contoh penyebaran firman yang bisa dilakukan adalah seperti yang disampaikan tadi seperti sosial media. Gereja tradisional perlu banyak belajar dalam menghadapi perkembangan zaman saat ini.

Dengan banyaknya pemuda Kristen yang beralih ke gereja Karismatik Pentakosta, tentu ini akan menjadi masalah bagi gereja tradisional di Indonesia. Alasannya adalah berubahnya gambaran bagaimana kekristenan di Indonesia. Pada masa abad 20, Kekristenan di Indonesia masih tergambar dari gereja-gereja tradisionalnya yang besar dari HKBP, GKI, GPIB, dan gereja tradisional lain, gereja-gereja tradisional adalah gereja yang menjunjung tinggi nilai-nilai awal-awal gereja terbentuk. Jika kedepannya kekristenan Indonesia tergambar dari gereja Karismatik Pentakosta tentu ini akan banyak mengubah sejarah kekristenan di Indonesia yang pada masa lampau disebarkan oleh para misionaris gereja Eropa yang sifatnya Protestan mula-mula menjadi gereja “Modern” dan kadang tidak mencerminkan sebuah gereja sebenarnya.

Jika berbicara mengenai aliran Pentakosta Karismatik, tentu akan banyak perdebatan di dalamnya karena jika melihat sejarah, aliran mereka yang ibadahnya seperti konser berasal dari lahirnya musik Jazz lalu dibuat lirik rohani maka berubahlah tata ibadah dengan beribadah layaknya konser tapi tetap mendengarkan khotbah. Jika hal ini terjadi, potensi Indonesia kehilangan akan sejarah gereja tradisionalnya bisa luntur digantikan dengan banyaknya gereja Pentakosta Karismatik yang sebenarnya bukan bagian dari sejarah gereja yang sebenarnya.

Maka dari itu, tentu saja dari gereja tradisional harus melakukan pergerakan. Melihat dari cara Gereja Pentakosta Karismatik yang lebih menggunakan teknologi dan menyesuaikan anak muda, tentu gereja tradisional juga harus menyesuaikan perkembangan zaman yang tidak melanggar nilai-nilai gereja mula-mula. Gereja harus bisa membuat anak muda nyaman akan beribadah yang dimiliki bukan ibadah yang menyesuaikan keinginan anak muda. Gereja juga harus banyak menggunakan teknologi mulai dari platfrom media sosial dengan berisi khotbah-khotbah yang dibutuhkan anak muda. Selain dari sosial media, gereja juga bisa penginjilan lewat buku-buku atau video singkat yang menyesuaikan selera anak muda dan berkaitan dengan Alkitab.

Mau bagaimanapun mempertahankan ibadah Gereja tradisional sangatlah penting dalam menjaga nilai sejarah di Indonesia. Tiap-tiap gereja tradisional di Indonesia pasti memiliki tokoh-tokoh misionaris yang luar biasa dalam menyebarkan injilnya, bahkan ada yang terusir hingga mati dalam menyebarkan injilnya. Inilah kebanggaan tentunya bagi kekristenan di Indonesia dalam saksi menyebarkan Injil Tuhan hingga saat ini memiliki 29 Juta umat. Jika ini hilang, maka rusaklah sebuah cerita. Jadi, mau bagaimanapun gereja harus terus berkembang dengan zaman. (*)

Oleh Lukas Estomihi Simatupang (Ilmu Hukum UNNES)