Asal Mula Sendang Ndaru, Karangjati

Di lereng timur Pegunungan Ungaran, terdapat sebuah desa kecil bernama Karangjati, bagian dari Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang. Desa ini menyimpan kekayaan budaya dan sejarah yang telah hidup ratusan tahun lamanya. Salah satu peninggalan yang paling dikenal dan menjadi ikon desa adalah sebuah mata air suci yang disebut Sendang Ndaru. Airnya jernih, segar, dan tak pernah surut bahkan di tengah kemarau panjang. Namun, bagi masyarakat Karangjati, sendang ini bukan sekadar sumber air. Ia adalah simbol harapan, keberkahan, dan warisan leluhur yang terus dijaga hingga kini.

Konon, jauh sebelum desa Karangjati terbentuk seperti sekarang, wilayah itu masih berupa hutan lebat yang hanya dilewati oleh para pertapa dan pengembara. Dalam salah satu kisah yang diturunkan secara lisan dari generasi ke generasi, diceritakan bahwa dahulu seorang resi sakti bernama Ki Damar Wulan menetap dan bertapa di kawasan tersebut. Ia mencari tempat yang suci dan tenang untuk mendekatkan diri pada Yang Maha Kuasa. Dalam pertapaannya, ia membawa sebatang tongkat kayu jati dan kendi tanah liat, yang konon merupakan warisan dari gurunya.

“Wahai alam semesta,” gumam Ki Damar Wulan suatu senja, “jika tempat ini memang layak menjadi sumber kehidupan, tunjukkanlah padaku wahyu dari langit.”

Setelah bertapa selama 40 hari di bawah pohon beringin raksasa yang kini tumbuh di sekitar sendang, Ki Damar Wulan mendapatkan penglihatan gaib. Dalam mimpinya, ia didatangi oleh seekor burung emas besar yang bercahaya terang, dikenal dalam tradisi Jawa sebagai “Ndaru” pertanda turunnya wahyu atau berkah dari langit. Burung itu menyampaikan bahwa tanah tempatnya bertapa akan menjadi sumber kehidupan bagi banyak orang, jika ia bersedia mengorbankan sesuatu yang ia cintai.

“Engkau telah terpilih, Damar Wulan,” ujar suara dari burung emas itu. “Tapi tak akan ada berkah tanpa pengorbanan. Apa yang paling engkau sayangi?”

Menyadari pentingnya pesan itu, Ki Damar Wulan menunduk. “Kendi ini telah menemaniku dalam suka dan duka. Maka biarlah ia menjadi persembahan.”

Dengan tekad bulat, Ki Damar Wulan memecahkan kendi itu tepat di bawah pohon beringin, dan dari celah tanah yang retak, keluarlah mata air jernih yang terus memancar. Sejak saat itu, sumber air itu diberi nama Sendang Ndaru, sendang dari wahyu langit.

Mata air itu lambat laun dikenal oleh penduduk sekitar. Mereka datang untuk mengambil air, membersihkan diri secara rohani, hingga melakukan ritual syukuran. Tak butuh waktu lama hingga sendang ini menjadi tempat yang disakralkan oleh masyarakat. Di sekelilingnya, dibangun pemandian sederhana dari batu-batu kali, dan dijaga oleh seorang juru kunci yang merupakan keturunan dari para pengikut Ki Damar Wulan.

“Jangan main-main di sini, Le,” ujar seorang ibu kepada anaknya yang berlari-lari di tepi sendang. “Tempat ini suci. Hormatilah air yang menghidupi kita.”

Keberadaan Sendang Ndaru juga tak bisa dilepaskan dari sejarah peradaban masa klasik Jawa. Para peneliti dan budayawan menemukan bahwa bentuk petirtaan di sendang ini menyerupai tata letak pemandian suci yang biasa ditemukan dekat kompleks candi. Di masa lalu, bangunan seperti ini digunakan sebagai tempat pembersihan diri sebelum melakukan sembahyang atau ritual besar. Meski tidak ditemukan struktur candi secara utuh di kawasan sekitar, kuat dugaan bahwa wilayah ini pernah menjadi bagian dari pusat spiritual yang penting.

Dalam masa kolonial, sendang ini sempat menjadi pusat perhatian. Pemerintah Belanda ingin mengalihkan sumber air tersebut untuk keperluan perkebunan dan industri.

“Tuan, mesin pompa kami kembali rusak,” lapor seorang pekerja pribumi kepada insinyur Belanda. “Seperti ada yang menolak pekerjaan ini.”

“Kau percaya takhayul? Ini hanya masalah teknis!” hardik insinyur itu. Tapi kejadian aneh terus berulang hingga mereka akhirnya meninggalkan proyek itu, dan sendang kembali ke pangkuan masyarakat.

Setelah kemerdekaan, Sendang Ndaru kembali mendapat tempat khusus dalam kehidupan masyarakat Karangjati. Tak hanya sebagai sumber air bersih, tetapi juga sebagai tempat ziarah dan spiritual. Banyak warga yang percaya bahwa air sendang dapat menyembuhkan penyakit, membawa keberkahan, dan menenangkan jiwa.

“Air ini, Nduk,” kata seorang nenek kepada cucunya, “jangan hanya kau minum. Doakanlah leluhurmu saat meminumnya. Karena dari merekalah berkah ini mengalir.”

Untuk menjaga kelestariannya, masyarakat bersama tokoh adat mengadakan acara tahunan bernama Gelar Budaya Sendang Ndaru. Acara ini mencakup kirab budaya, pentas seni tradisional, doa bersama, dan sedekah bumi. Tradisi ini sekaligus menjadi cara untuk memperkenalkan sejarah dan nilai-nilai luhur kepada generasi muda, agar mereka tak melupakan akar budaya mereka.

Juru kunci Sendang Ndaru, yang saat ini dipegang oleh generasi kelima dari garis keturunan penjaga pertama, memegang peran penting dalam menjaga kesucian sendang. Ia memastikan tak ada pengunjung yang mencemari atau berlaku tidak sopan di area sendang.

“Maaf, Nak, jangan tertawa-tawa di sini. Ini tempat untuk hening, bukan bermain-main,” tegur sang juru kunci dengan lembut namun tegas.

Di malam-malam tertentu, terutama malam 1 Suro dalam penanggalan Jawa, sendang ini menjadi lebih ramai dari biasanya. Banyak warga yang datang membawa bunga, dupa, dan air kendi. Mereka berdoa, bermeditasi, atau sekadar duduk hening menanti hadirnya kedamaian batin. Beberapa mengaku pernah mencium aroma melati yang tidak berasal dari mana pun, atau melihat cahaya lembut di atas permukaan air.

Kini, Sendang Ndaru tak hanya menjadi warisan lokal Karangjati, tapi juga destinasi budaya dan spiritual yang menarik bagi siapa saja yang ingin merasakan kedekatan dengan alam dan sejarah leluhur. Bagi penduduk Karangjati, airnya bukan hanya untuk menghilangkan dahaga, tetapi juga sebagai pengingat bahwa kehidupan, dengan segala suka dan dukanya, selalu mengalir dan membawa berkah bagi mereka yang menjaga warisan dengan tulus.(*)

Oleh Naftalena Dwi Sekarsari