Di Balik Kekokohan Bukit Trangkil

Dahulu kala, terdapat seorang pendiri Sekaran bernama Kiai Sekar, yang memiliki istri cantik dan berkarisma, dikenal sebagai Nyai Sekar. Suatu hari, sebuah rombongan yang disebut “ledek” datang berkunjung. Rombongan ini, mirip dengan tayub, biasanya diundang untuk menghibur dalam berbagai acara dengan cara berkeliling terlebih dahulu. Ketika rombongan ledek tiba di kediaman Kiai Sekar, sayangnya Kiai Sekar tidak ada di rumah. Ketua rombongan ledek langsung terpikat oleh kecantikan dan kharisma Nyai Sekar. Dalam keadaan tanpa penjagaan, Nyai Sekar pun diculik oleh para anggota ledek.

Saat santri Kiai Sekar mengetahui kejadian tersebut, ia segera bergegas pulang untuk memberitahukan Kiai Sekar. Setelah mendengar berita itu, Kiai Sekar segera mengejar para penculik, dan di suatu bukit mereka bertemu. Terjadilah pertempuran besar antara rombongan ledek dan Kiai Sekar, dibantu oleh para santrinya. Ketua rombongan ledek memiliki tangan kanan bernama Mbah Waginyo, yang memiliki ikat wulung dan kesaktian luar biasa. Namun, meskipun demikian, rombongan ledek akhirnya kalah menghadapi Kiai Sekar dan para santrinya. Sebagai hukuman, mereka ditenggelamkan di bukit tersebut, yang kemudian dikenal sebagai Bukit ledek.

Pada tahun 1996, terdapat seorang pemuda bernama Ali yang sedang menempuh pendidikan S1. Karena terkendala masalah ekonomi, Ali mencari pekerjaan sampingan untuk mendapatkan uang tambahan guna memenuhi kebutuhan sehari-hari, mengingat beasiswa yang diberikan kampus tidak mencukupi. Ali memutuskan untuk mengajar les matematika kepada anak-anak yang mengikuti olimpiade di daerah Puri Anjasmoro. Karena tidak memiliki kendaraan, ia rela menempuh perjalanan pulang pergi dari Patemon ke Puri Anjasmoro dengan berjalan kaki. Selain itu, pada masa itu, daerah Trangkil masih sangat sepi, gelap, dan menyerupai hutan, dengan jalanan yang belum diaspal dan masih seperti jalan kerbau. Hal ini membuat para pengemudi ojek online saat itu enggan untuk mengantar.

Sepanjang hari, Ali berjalan kaki, baik pagi maupun malam. Meskipun sudah larut hingga pukul sebelas dini hari, ia tetap melanjutkan perjalanan pulang. Di sepanjang jalan, Ali sering diganggu oleh makhluk halus seperti genderuwo, pocong, kuntilanak dan banyak lainnya. Namun, berkat semangatnya yang pantang menyerah, ia tidak memedulikan gangguan-gangguan tersebut. Suatu ketika, saat Ali sedang berjalan, ia mendapati dirinya dibegal oleh sekelompok orang yang memaksa meminta uang. Ali menjelaskan bahwa ia tidak memiliki uang sepeser pun. Melihat kondisi Ali yang menyedihkan, para begal itu pun berbaik hati dan memberikan uang sebesar 20.000, sambil berkata, “Ini ya mas, kasihan, saya kasih uang untuk beli es teh.”

Kebiasaan Ali berjalan kaki selepas mengajar anak-anak olimpiade ternyata menarik perhatian Kiai Sekar. Pada malam yang sepi, saat Ali berjalan sendirian, tiba-tiba ada seseorang yang mencegatnya dan mengajaknya mampir ke kediaman Kiai Sekar. Ali bertanya siapa dia, dan pria itu menjawab bahwa ia adalah anak Kiai Sekar. Meskipun sempat ragu, pria tersebut meyakinkan Ali bahwa tidak akan terjadi apa-apa padanya. Setibanya di kediaman Kiai Sekar, Ali melihat kedua anak lainnya dan istri Kiai Sekar. Rumahnya sederhana, mirip gubuk dan beralaskan tanah. Ali bertanya, “Enten napa, Mbah, kok mboten angsal wangsul sakniki?” Kiai Sekar menjawab, “Aja balik saiki amarga ning Bukit Ledek ana pesta, saiki malam Jumat Kliwon. Aku wegah sampeyan dadi korban ning kana. Aku ndhelok awakmu iku prihatin sesuk bakal dadi wong gede isa memimpin Jawa Tengah

Ali tampak bingung dengan semua yang terjadi. Kiai Sekar menyarankan Ali untuk beristirahat di kediamannya sambil menunggu pesta di Bukit Lelek selesai. “Wis saiki, sampeyan istirahat. Mengko tak tangekake jam 2 esuk,” kata Kiai Sekar. 

Ketika pukul 02.00 pagi tiba, Kiai Sekar membangunkan Ali untuk makan bak sebagai sahur. Di atas meja terdapat nasi putih hangat, tempe, sayur lodeh, dan sayur kangkung. Namun, saat akan makan, Ali merasa ragu. Ia teringat cerita-cerita yang mengatakan bahwa makanan di dunia lain bisa berupa belatung atau cacing. Dalam hati, ia bertanya-tanya tentang semua keraguan itu. Menyadari kebingungan Ali, Kiai Sekar berkata, “Sante mawon, sampeyan iki wong pilihan. Sampeyan bocah sing tekun lan ulet. Iki tak bekali makanan ben awakmu kuwat.” 

Mendengar itu, Ali merasa tenang dan mulai memakan makanan yang disajikan. Setelah makan, Kiai Sekar menyuruh Ali beristirahat sembari menunggu azan subuh. Ketika azan Subuh berkumandang, Kiai Sekar membangunkan Ali untuk melaksanakan ibadah Salat Subuh.

 Setelah sholat subuh, Ali diantarkan kembali oleh anak Kiai Sekar ke tempat awal di mana ia dicegat. Ali menyadari bahwa selama ini ia tergeletak di pinggir jalan, namun raganya tidak mengalami luka. Ternyata, saat berada di kediaman Kiai Sekar, hanya sukmanya yang hadir. Keesokan siangnya, Ali kembali untuk mengecek kediaman Kiai Sekar, tetapi ia tidak kunjung menemukannya. Ia pun bertanya kepada beberapa Kiai mengenai keanehan tersebut. Para Kiai menjelaskan bahwa Ali merupakan orang pilihan, karena banyak pejabat yang ingin bertemu dengan Kiai Sekar untuk kesuksesan duniawi, tetapi tidak semua dapat dengan mudah mendapatkan kesempatan tersebut. Teman Ali, seorang Kiai, menambahkan bahwa Ali memiliki tirakat yang kuat dan rajin berpuasa, sehingga batinnya pun menjadi kuat.

 Pesan yang disampaikan oleh Kiai Sekar benar-benar terwujud Ali menjadi orang yang sukses. Namun, sebelum mencapai kesuksesannya, Ali diuji dengan penyakit kronis yang disebut sirosis hati. Penyakit ini disebabkan oleh kelelahan, pola makan yang tidak teratur, dan seringnya terkena angin malam. Dokter bahkan telah memvonis bahwa umurnya hanya tersisa delapan hari lagi. Meski demikian, Ali dan istrinya tetap berpositif thinking dan pasrah kepada Allah, karena kehidupan dan kematian berada di tangan-Nya. Mereka tak henti-hentinya memohon kepada Allah agar penyakit yang diderita Ali diangkat dan disembuhkan. Dengan izin Allah, Ali sembuh dari penyakitnya dan kini menjadi orang yang aktif, sehat, serta memiliki jiwa sosial yang tinggi.(*)

Oleh Bikhnadza Syabina Ragil