Sejarah dan Tradisi Keduk Beji di Desa Tawun Ngawi

Di daerah saya, yaitu Desa Tawun, Kabupaten Ngawi dengan pemandangan sawah hijau yang membentang dan udara yang sangat sejuk, menyimpan sebuah tradisi yang menjadi identitas masyarakatnya, yaitu Tradisi Keduk Beji yang dilakukan di Sendang Tawun. Tradisi Keduk Beji dalam bahasa Jawa biasa disebut dengan “mengeruk sumber air”. Menurut cerita yang diceritakan secara turun-temurun, saat itu terjadi kekeringan hebat yang melanda wilayah ini. Sumber air Beji yang normalnya mengalir deras tiba-tiba menjadi kering. Penduduk yang putus asa kemudian melakukan ritual doa dan kerja bakti mengeruk lumpur yang menghambat aliran air. Tidak disangka, setelah melakukan pembersihan di sedang tersebut, air kembali mengalir dengan deras, dan menyelamatkan kehidupan di desa Tawun.

Sejak peristiwa tersebut, masyarakat Tawun menganggap sumber mata air Beji sebagai tempat sakral dan melakukan upacara pembersihan secara rutin setiap tahun sebagai bentuk rasa syukur dan penghormatan. Ritual ini juga dipercaya sebagai sarana memohon keberkahan agar desa selalu diberi kelancaran air, kesuburan tanah, dan kesejahteraan bagi penduduknya. Air dari sendang ini mengalir jernih sepanjang tahun dan tidak pernah kering meskipun di musim kemarau panjang. Suatu saat ketika saya mengunjungi Sendang Tawun dimana tempat yang dilaukan tradisi tersebut saya bertemu dengan Mbah Slamet, seorang sesepuh desa yang telah menyaksikan puluhan kali pelaksanaan upacara Keduk Beji. Di rumahnya yang sederhana, dengan dinding kayu dan lantai semen yang sudah menua yang berada disekitar situ, Mbah Slamet menyambut saya dengan senyum ramah.

”Mbah, maaf sebelumnya saya ingin mengetahui arti penting Keduk Beji bagi masyarakat Tawun apakah Mbah bisa untuk menjelaskan?” tanya saya.

Mata tua Mbah Slamet tampak berbinar. Dengan suara yang tenang namun penuh keyakinan, beliau menjawab, “Nduk, Keduk Beji itu bukan sekadar upacara biasa, tetapi ini adalah warisan leluhur yang menjadi pengikat seluruh warga Desa Tawun. Dulu, ketika saya masih kecil, mbah saya selalu berkata bahwa air dari sumber Beji adalah darah desa ini. Jika airnya bersih dan lancar, maka kehidupan desa akan makmur. Tetapi jika kita lupa merawatnya, bencana akan datang.”

”Setiap bulan Sura dalam penanggalan Jawa, biasanya jatuh pada bulan Agustus atau September, seluruh warga desa berkumpul di sumber Beji. Laki-laki, perempuan, tua, muda, semuanya turun tangan membersihkan sumber mata air. Kami mengeruk lumpur, membersihkan sampah, dan memotong tanaman liar yang mengganggu aliran air.” kata Mbah Slamet.

Berdasarkan cerita dari Mbah Slamet dan pengamatan saya secara langsung pada persiapan upacara, rangkaian acaranya dimulai dengan selamatan dan doa bersama. Sebelum dimulainya kerja bakti, masyarakat mengadakan selamatan dengan membawa berbagai sesaji berupa hasil bumi dan makanan tradisional. Sesepuh desa memimpin doa, memohon izin kepada leluhur dan keselamatan bagi seluruh warga yang terlibat. Dilanjutkan dengan kirab pusaka dan sesaji dimana benda-benda pusaka milik desa, yang hanya dikeluarkan pada momen khusus, diarak mengelilingi desa sebelum dibawa ke sumber Beji. Sesaji berupa kepala kerbau dan berbagai hasil bumi juga turut diarak dalam prosesi ini.

Acara inti adalah Keduk Beji atau pembersihan sumber air. Para pemuda dan bapak-bapak turun ke dalam kolam sumber air untuk mengeruk lumpur dan kotoran. Sementara itu, ibu-ibu dan anak-anak membantu membersihkan area sekitar sumber air. Setelah sumber air bersih, dilakukan pelarungan sesaji sebagai simbol penghormatan kepada alam dan para leluhur. Sesaji diletakkan di atas perahu kecil yang dibuat dari pelepah pisang dan dihanyutkan mengikuti aliran air. Upacara diakhiri dengan pagelaran seni tradisional seperti wayang kulit, tayuban, atau jathilan. Ini menjadi hiburan sekaligus ungkapan syukur atas selesainya rangkaian upacara.

”Keduk Beji bukan hanya tentang membersihkan sumber air, Ini tentang bagaimana manusia harus hidup selaras dengan alam. Air adalah sumber kehidupan, dan Keduk Beji mengajarkan kita untuk menghargai dan merawatnya.” ujar Mbah Slamet.

Bukan hanya sekadar ritual adat, Keduk Beji juga mengandung nilai pelestarian lingkungan yang mengajarkan pentingnya menjaga kebersihan sumber air dan lingkungan sekitarnya. Nilai gotong royong dimana seluruh warga desa, tanpa memandang status sosial, bersama-sama melakukan pembersihan sumber air, memperkuat rasa persatuan dan kebersamaan. Nilai penghormatan terhadap leluhur melalui ritual dan sesaji, serta nilai rasa syukur yang menjadi wujud syukur atas berkah yang diberikan alam, terutama air yang menjadi sumber kehidupan. Mbah Slamet mengakui kepada saya bahwa minat generasi muda terhadap tradisi ini mulai berkurang.

”Banyak anak muda sekarang yang pergi ke kota untuk bekerja atau sekolah. Mereka jarang pulang, apalagi untuk ikut upacara seperti ini,” keluhnya. Namun, ada secercah harapan.

”Ketika saya melihat semakin banyak orang yang datang untuk menyaksikan Keduk Beji, ada perasaan bangga,” kata Mbah Slamet dengan mata berbinar. “Setidaknya, tradisi ini tidak akan hilang begitu saja.”

Perjalanan menelusuri tradisi Keduk Beji di Desa Tawun memberikan saya pemahaman mendalam tentang bagaimana sebuah tradisi bisa menjadi lem perekat masyarakat. Di balik ritual yang tampak sederhana, tersimpan nilai-nilai luhur yang menjadi panduan hidup. Keduk Beji bukan sekadar warisan budaya yang perlu dilestarikan, tetapi juga kearifan lokal yang mengajarkan kita untuk hidup harmonis dengan alam dan sesama. Di era di mana air bersih menjadi isu global, tradisi ini mengingatkan bahwa nenek moyang kita sudah sejak lama memahami pentingnya menjaga sumber daya alam. Saat meninggalkan Desa Tawun, saya membawa pulang bukan hanya catatan dan foto, tetapi juga pemahaman baru tentang bagaimana tradisi dapat menjadi jembatan yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan.(*)

Oleh Ladysca Midha Leksana