Nyunduk Watu, Kisah Mbah Anomandung dari Dukwatu

Pada masa lampau, di sebuah kawasan perbukitan yang masih sunyi dan belum memiliki nama, hiduplah sekelompok kecil masyarakat yang menjalani kehidupan sederhana dan bergantung sepenuhnya pada alam. Di antara mereka, terdapat seorang tokoh sepuh yang sangat dihormati dan dijadikan panutan spiritual dalam kehidupan sehari-hari. Dialah Mbah Anomandung, seorang pria lanjut usia yang dikenal bijaksana, penuh kesabaran, dan diyakini memiliki kekuatan spiritual hasil dari laku tapa dan tirakat bertahun-tahun.

Mbah Anomandung tinggal di sebuah gubuk kecil di tepi hutan, tidak jauh dari perkampungan warga. Setiap harinya, beliau bertani, berdoa, serta membantu siapa saja yang membutuhkan. Walaupun usianya telah renta, tubuhnya tetap bugar dan semangatnya seolah tidak pernah pudar, seperti mendapat kekuatan dari dalam batin.

Suatu ketika, beberapa pemuda desa tengah bermain di kaki bukit dan menemukan sebuah batu raksasa yang menghalangi jalan menuju hutan, tempat mereka biasa mencari kayu bakar dan berburu. Batu tersebut begitu besar dan keras, bahkan meskipun mereka mendorongnya bersama-sama, batu itu tetap tidak bergeser.

Aduh, piye iki? Watu iki gede banget!” seru salah seorang pemuda.
Wis takdorong bareng-bareng, tetep wae ora geser,” keluh pemuda lainnya.
Apa kudu nyuwun tulung karo Mbah Anomandung?” usul yang lain.

Akhirnya, mereka memutuskan untuk meminta bantuan kepada Mbah Anomandung. Dengan tenang, beliau berkata:

Aja nganti pangandelmu luntur. Iku mung cobaan saka Gusti Kang Murbeng Gesang. Yen pancen wis wektune, Gusti mesthi maringi dalan.”
(Jangan sampai keyakinanmu luntur. Itu hanya ujian dari Tuhan Yang Maha Menghidupi. Jika memang sudah waktunya, Tuhan pasti membuka jalan.)

Seorang pemuda bertanya dengan nada khawatir:

Nanging, Mbah, piye carane? Kito kabeh wis nyoba kabeh kekuatan.

Mbah Anomandung menjawab sambil tersenyum:

Kuwi ora mung ngandelake tenaga, Cah bagus. Kudu nganggo ati lan percaya.”

Keesokan paginya, Mbah Anomandung mengajak seluruh warga berkumpul di depan batu besar tersebut. Tanpa membawa peralatan berat atau senjata apapun, beliau hanya membawa sebatang lidi—benda sederhana yang tampak tidak berarti.

“Mbah… njenengan tenan arep ngusad batu nganggo lidi kuwi?” tanya salah seorang warga dengan nada tak percaya.

Dengan mantap, Mbah Anomandung menjawab:

Percaya wae. Lidi iki dudu sekadar ranting, nanging lambang keyakinan.”

Dengan langkah penuh keyakinan, beliau berdiri di hadapan batu, memejamkan mata sejenak untuk berdoa, lalu perlahan menusukkan lidi itu ke celah batu. Tiba-tiba terdengar suara retakan, dan batu besar itu terbelah menjadi dua bagian, membuka jalan yang sebelumnya tertutup.

Warga berseru gembira:

“Alhamdulillah! Gusti paring dalan!”

Mereka berterima kasih kepada Mbah Anomandung:

Matur nuwun, Mbah Anomandung! Panjenengan pancen tiyang suci!”

Peristiwa luar biasa itu cepat menyebar di antara masyarakat. Mereka menyebut kejadian tersebut sebagai nyunduk watu yang berarti “menusuk batu”. Lambat laun, istilah tersebut berubah menjadi Dukwatu, nama desa yang kita kenal hingga kini.

Sejak kejadian itu, jalan menuju hutan menjadi akses utama bagi para warga. Mereka percaya bahwa tempat tersebut telah diberkahi oleh kekuatan spiritual Mbah Anomandung. Hingga saat ini, Desa Dukwatu dikenal sebagai desa yang damai, sejuk, dan makmur.

Legenda tentang Mbah Anomandung dan lidi penusuk batunya tetap hidup dalam memori masyarakat. Cerita ini bukan sekadar dongeng, melainkan menjadi pengingat pentingnya kepercayaan, kesabaran, dan keikhlasan dalam menghadapi segala tantangan. Nama Dukwatu kini menjadi warisan budaya yang penuh makna spiritual dan historis, serta simbol kekuatan yang lahir dari kesederhanaan.(*)

Oleh Irsad Ibnu Fauzan