Cerita ini saya dapatkan saat saya masih duduk di Bangku Sekolah Dasar, mungkin kelas IV atau V waktu itu. Pada mata Pelajaran Mulok Dawet Ayu Banjarnegara terdapat kisah anak-anak b\rambut gimbal dari Kecamatan Dieng, Kabupaten Banjarnegara yang biasanya diadakan dengan nama Dieng Culture Festival dilaksanakan di pelataran kompleks Candi Arjuna. Yang saya dapat dari buku tersebut konon katanya anak yang berambut gimbal dianggap sebagai titisan Kyai Kolo Dete dan Nini Roro Ronce yang juga memiliki rambut gimbal. Nah Nini Ronce ini merupakan abdi dari Nyi Roro Kidul, sang penguasa laut selatan yang bertugas menjaga Dataran Tinggi Dieng.
Munculnya rambut gimbal ini tidak dari kecil atau masih bayi tetapi secara mendadak saat umur 1-2 tahun dengan ditandai demam dan kejang-kejang. Itu yang disampaikan Mbah Sumanto pemangku adat tradisional di Dieng yang saya lihat di wawancara Youtube dengan Mbak Anita Maerani.
“Rambut anak mulai gembel itu mulai usia 1-2 tahun. Anak ini sakit, kejang-kejang, dan panas,” ujar Mbah Sumanto.
Sakit kejang-kejang dan demam tersebut tidak dapat disembuhkan meskipun dibawa ke rumah sakit dan akan sembuh sendiri ketika rambut gimbal tersebut muncul.
“Kalau dibawa ke rumah sakit, saya kira tidak ada penyakitnya itu, hanya panas, terus mau muncul gembel. Seketika muncul, lalu sembuh sendiri tidak usah diobati,” ujar Mbah Sumanto.
“Mereka itu rambutnya seperti itu (gimbal), karena keturunan atau memang dititipi karena mereka dari keluarga tertentu, begitu, Mbah? Atau bagaimana?” tanya Mbak Anita.
“Itu titipan ya, ada yang keturunan, ada yang tidak, tidak bisa dilihat karena dia (anak-anak) begini jadi begini (gimbal) begitu tidak bisa dilihat,” jawab Mbah Sumanto.
Masih belum bisa diketahui sampai sekarang kenapa anak-anak bisa mempunyai rambut gimbal. Ada yang percaya rambut gimbal tersebut adalah keturunan dari nenek moyang mereka terlebih dahulu.
Adapun satu cara supaya anak-anak gimbal tidak lagi mempunyai rambut gimbal, yaitu dengan upacara pemotongan/cukur rambut pada anak-anak yang mempunyai rambut gimbal untuk membersihkan dan membebaskan anak-anak tersebut dari kesialan. Upacara ini memiliki keunikannya tersendiri karena sebelum upacara ini dilaksanakan anak-anak yang berambut gimbal harus mempunyai keinginan yang harus dituruti oleh orang tuanya. Konon jika permintaan anak tersebut tidak dituruti atau tidak sesuai dengan keinginannya maka setelah dipotong akan muncul rambut gimbal kembali.
Adapun serangkain upacara pemotongan/cukur rambut gimbal dimulai dengan penjamasan (penyucian) yang dilakukan oleh sejumlah tetua adat. Kemudian anak-anak yang hendak dipotong rambutnya akan direciki (disiram) air yang berasal dari tujuh mata air di sekitar Dieng, Setelah penjamasan upacara dilanjutkan inti upacara yaitu pemotongan rambut.
Upacara pemotongan/cukur rambut pada anak-anak berambut gimbal masih berlanjut hingga sekarang, yang dipercaya Masyarakat setempat dan sekitarnya untuk membersihkan dan membebaskan anak-anak yang mempunyai rambut gimbal dari kesialan, Upacara ini juga merupakan adat yang sudah turun-menurun dilakukan yang harus dijaga agar tidak hilang. Selain itu Upacara ini juga bisa menjadi daya tarik pengunjung wisata budaya yang biasanya diadakan dengan nama Dieng Culture Festival yang dapat memberikan manfaat bagi Masyarakat setempat melalui pariwisata maka akan banyak pengunjung.(*)
Oleh Lala Parwati