Upacara Ujungan Banjarnegara

Kabupaten Banjarnegara merupakan suatu daerah yang berada di Jawa Tengah yang kaya akan cerita Sejarah dan tradisi yang unik dan menarik, salah satunya yaitu Tradisi Ujungan. Tradisi Ujungan adalah tradisi yang dilakukan saat musim kemarau panjang melanda dan tidak kunjung turun hujan dan bertujuan untuk meminta hujan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tradisi ini dilakukan dengan cara mengadu dua orang dan mereka akan saling memukul satu sama lain dengan sebilah rotan saat musik gamelan dimainkan. 

Ada dua cerita tentang Tradisi Ujungan yang saya dengar dulu saat saya masih menduduki bangku Sekolah Dasar. Saat itu saya bersekolah di salah satu Sekolah Dasar yang berada di Kabupaten Banjarnegara, dan saya juga belajar apa itu Tradisi Ujungan dari buku Mulok Dawet Ayu Banjarnegara. 

Awal mula terjadinya tradisi ujungan adalah saat peristiwa kehidupan Masyarakat yang ada di Desa Gumelem Wetan, Kecamatan Susukan, Banjarnegara, terjadi pada saat tahun 1813. 

Saat itu, Desa Gumelem sedang dilanda musim kemarau yang sangat panjang, dan tidak kunjung hujan, sehingga membuat banyak petani berebutan air untuk keperluan sawah dan ladang mereka. 

Para petani saling berebut sehingga menyebabkan terjadinya pertengkaran di salah satu sumber mata air, antara dua petani yang berebut untuk mengairi sawah-sawah meraka.

Salah satu penduduk, Ki Sangkerti pun memberikan mereka masing-masing sebilah kayu rasihe untuk saling sabet. Saling sabet berlangsung cukup lama, membuat tubuh kedua petani yang bertengkar luka-luka dan berdarah. 

Tidak berselang lama setelah terjadinya pertengkaran kedua petani tersebut, turunlah hujan dengan sangat deras. Kedua petani yang bertengkar tadi pun tersadarkan atas perbuatan yang mereka lakukan. Mereka saling meminta maaf dan mengucap Syukur kepada Tuan Yang Maha Esa karena telah menurunkan hujan. 

Namun, ada juga yang bercerita bahwa Tradisi Ujungan awalnya merupakan kegiatan latihan keprajuritan yang diberikan oleh Pangeran Diponegoro kepada para pemuda. Menggunakan alat atau senjata sebuah tongkat yang terbuat dari rotan. Saat itu para pengikut Pangeran Diponegoro sedang bertempur melawan penjajah Belanda di Wilayah Banjar Watulembu, yang sekarang disebut sebagai Banjarnegara. 

Konon, latihan keprajuritan ini bertujuan untuk memberikan keterampilan beladiri kepada para pemuda, agar para pemuda bisa menghadapi serangan dari penjajah Belanda. 

Di Banjarnegara Tradisi Ujungan ini dilakukan dengan cara memukul bagian pinggang ke bawah atau bagian kaki yang dilakukan oleh sepasang laki-laki dewasa dengan menggunakan sebilah rotan sebagai alat pemukulnya. Ujungan sendiri diambil dari kata “Mujung” yang berarti memohon, atau menyembah. Tradisi Ujungan juga sudah turun-menurun dilakukan, menurut kepercayaan warga di desa Gumelem Wetan tradisi ini bisa mendatangkan hujan dengan cepat. Seiring berkembangnya waktu, Ujungan atau juga disebut sebagai Tari Sabet berubah menjadi upacara adat untuk memohon turunnya hujan. Setelah upacara adat ujungan dilakukan, kedua pasangan yang saling sabet akan bersalaman, dan tidak ada dendam setelah upacara adat dilaksanakan.(*)

Oleh Lili Parwati