Di Desa Cirebon Girang yang tenang dan asri, terdapat sebuah makam keramat yang dikenal luas oleh masyarakat, yakni Makam Mbah Kuwu Sangkan. Makam ini tidak hanya menjadi tempat ziarah, tetapi juga simbol awal sejarah berdirinya wilayah Cirebon. Sosok Mbah Kuwu dihormati karena peran besarnya dalam membangun tatanan masyarakat yang religius dan berbudaya. Banyak orang datang untuk berdoa, merenung, dan mengambil pelajaran dari perjalanan hidupnya.
Mbah Kuwu Sangkan, yang bernama asli Ki Samadullah, adalah putra Prabu Siliwangi IX dan Nyi Subang Larang dari Kerajaan Pajajaran. Meski terlahir sebagai bangsawan, ia memilih meninggalkan kehidupan istana demi menjalani kehidupan spiritual yang lebih bermakna. “Aku ingin membangun dari bawah, bersama rakyat, bukan dari atas singgasana,” ucapnya kepada salah satu abdi istana sebelum berangkat meninggalkan keraton. Ia hijrah ke timur, menyusuri pesisir Jawa Barat, dan akhirnya menetap di sebuah wilayah yang masih sepi dan belum terjamah, yang kini dikenal sebagai Cirebon Girang.
Sesampainya di sana, Ki Samadullah membuka lahan dan membangun pemukiman. Ia hidup bersama masyarakat, mengajarkan cara bercocok tanam, hidup bersih, dan nilai-nilai keagamaan. Awalnya masyarakat curiga, namun kebijaksanaan dan ketulusannya membuat mereka luluh. Ia kemudian diangkat menjadi kuwu atau kepala desa, dan sejak itu lebih dikenal sebagai Mbah Kuwu Sangkan, pemimpin yang dihormati karena kesederhanaan dan kebijaksanaannya.
Mbah Kuwu dikenal sebagai penyebar ajaran Islam dengan pendekatan yang lembut dan menghargai budaya lokal. Ia tidak memaksakan, melainkan mengajak dengan contoh nyata. Melalui pengajian, nasihat, dan kegiatan sosial, ia menyisipkan nilai-nilai keislaman yang relevan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Masyarakat mulai memahami bahwa Islam bukan sekadar ritual, tetapi ajaran yang menuntun pada kebaikan dan keadilan sosial.
Sebagai pemimpin, Mbah Kuwu tidak segan turun langsung membantu rakyat. Saat sawah terendam banjir, ia memimpin warga membendung air, menunjukkan bahwa pemimpin sejati adalah yang melayani, bukan hanya memerintah. Sikapnya ini menjadi teladan yang dikenang sepanjang masa, dan diwariskan secara lisan oleh generasi ke generasi.
Menjelang wafatnya, Mbah Kuwu berpesan agar dimakamkan di tanah yang ia bangun sendiri. Kepada anak dan cucunya, termasuk Syarif Hidayatullah kecil, ia menekankan pentingnya rendah hati dan berbuat baik tanpa pamrih. Tak lama setelah berpesan, beliau wafat dalam keadaan damai, meninggalkan duka dan hormat mendalam dari seluruh masyarakat.
Makam beliau dibangun secara sederhana, namun suasana di sekitarnya sangat sakral. Banyak peziarah merasa damai dan mendapat ketenangan batin ketika berdoa di sana. Makam ini menjadi ruang spiritual dan refleksi, tempat masyarakat mencari keteladanan dari sosok yang hidupnya penuh pengabdian.
Setiap tahun, masyarakat menggelar haul untuk mengenang Mbah Kuwu. Acara ini diisi dengan tahlilan, pengajian, dan kirab budaya. Tradisi ini bukan hanya peringatan, tetapi juga cara melestarikan nilai-nilai luhur yang diajarkan oleh beliau. Generasi muda diajak untuk mengenal dan mencintai sejarah leluhurnya.
Pemerintah desa dan tokoh adat kini menjadikan makam ini sebagai situs budaya. Pelajar dari berbagai sekolah kerap datang untuk belajar sejarah langsung di lapangan. Banyak yang terinspirasi oleh sikap kepemimpinan Mbah Kuwu, yang lebih mengutamakan pengabdian daripada kekuasaan.
Di lingkungan pendidikan, nama Mbah Kuwu mulai kembali digaungkan. Sebuah sekolah dasar bahkan diberi nama SDN Kuwu Sangkan sebagai bentuk penghormatan. Melalui upacara dan pelajaran lokal, siswa diajak untuk mengenal nilai-nilai kepemimpinan, kerja keras, dan cinta tanah air yang diteladankan oleh beliau.
Makam Mbah Kuwu Sangkan menjadi simbol bahwa perubahan besar bisa dimulai dari seorang pemimpin yang tulus dan sederhana. Dari seorang bangsawan yang rela turun ke desa, beliau membentuk dasar masyarakat yang kuat, beriman, dan bermartabat. Warisannya bukan hanya makam dan nama, tapi nilai-nilai hidup yang terus menerangi masyarakat Cirebon hingga kini.(*)
Oleh Maulia Aini Nur Kaffa