Ketika Hampir Menyerah…

Oleh Nasywa Noor ‘Azizah

“Kamu yang paling tahu apa yang kamu lakukan saat ini, Sal.”

Deru angin kala itu menjadi sebuah saksi bisu atas tercekatnya dua napas yang sedang beradu. Aku menatap sosok cantik yang berdiri di hadapanku dengan mata memerah. Bukan sekadar pengkhianatan yang kurasa, melainkan keputusasaan yang benar-benar mengubah jalan hidupku. Tidak lagi keresahan yang menggantung dalam sukmaku, hanya hampa. Bahkan diriku tidak dapat membedakan antara rela dan mati rasa. Satu yang pasti, entah kenapa saat itu aku yakin bahwa pertemuan ini adalah tanda perpisahan kami. Perlahan namun pasti, jejak kakiku mulai terbentuk menjauh dari sosok wanita di depanku.

Aku tidak terlalu ingat apa yang terjadi kala itu. Juga entah sejak kapan aku berhenti menyombongkan goresan aksara yang aku buat. Mungkin saat aku menyadari kemampuanku sangat buruk? Atau mungkin ini bukan soal kemampuan lagi? Aku tidak ingat mana yang benar. Yang aku ingat, saat itu akan diadakan FLS3N. Berbagai cabang dilombakan di sana, bahkan tidak sedikit di antara kami yang paham betul bahwa lomba ini adalah ajang pengakuan bakat. Sudah jelas, menang maupun kalah, bakat siapa yang akan disombongkan pada Senin pagi saat upacara.

Aku juga mengikuti salah satu seleksinya. Itu akan diadakan hari Rabu. Hal ini baru bagi kami. Sebelumnya, tidak pernah dilakukan seleksi dalam skala sebesar ini untuk setingkat FLS3N. Tentu kami merasa sangat  antusias saat itu.  Hal sesederhana seleksi kemampuan di luar akademis berarti sekolah kuno ini pada akhirnya mau mencoba menggali lebih dekat minat bakat siswanya. Biasanya, untuk FLS3N, pihak sekolah sudah memiliki calon siswa yang akan dilombakan. Sangat disayangkan, diriku benar-benar tidak terlihat oleh mata mereka. Padahal beberapa kali aku menunjukkan ketertarikan akan karya sastra di depan guruku. Namun, aku yang sangat pemalu saat itu tidak terlalu memusingkannya. Maka, seleksi FLS3N yang diadakan oleh pihak sekolah saat itu membuatku sungguh bersemangat. 

“Kamu beneran mau ikut yang puisi kan? Kalau kamu ikut, aku juga akan mendaftar untuk cerpen.” Andin adalah salah satu teman dekatku yang juga sama gemarnya terhadap karya sastra seperti diriku. Kami berdua tidak jarang mendiskusikan berbagai novel, cerpen, bahkan membicarakan guru bahasa Indonesia kami saat kelas 11 yang sangat menyebalkan dan selalu aku protes itu. Dia sungguh menjadi teman seperjuanganku.

“Iya, aku ikut. Tapi aku juga tidak yakin bakal terpilih sebagai perwakilan. Kamu tahu, kan ada Salma di tim puisi?” Salma ya? Dia adalah teman baikku saat kami menginjak bangku akhir pendidikan di SMP. Dia adalah sosok yang mengenalkanku pada penerbitan. Pernah sekali dia mengajakku menerbitkan sebuah antologi. Itu adalah keberanian pertamaku untuk membiarkan orang lain membaca karya yang diterbitkan dengan nama asliku. Dia benar-benar mengagumkan saat itu dan aku sangat menghormatinya.

Andin berdecak sebal, seakan merasakan keraguan dalam benakku. “Aku juga ada Andini di tim cerpen …” katanya, ikut ragu. Mereka memiliki nama yang sama, Andin dan Andini. Namun, cobalah bertanya kepada semua guru di SMA Negeri 1 Rembang. Mereka hanya tahu satu Andini saja pada angkatanku. Sungguh ironis batinku terhadap nasib kami.

Aku menepuk pundaknya dan merangkulnya dengan manja, “Udah kaya backburner sial hahaha padahal dijadikan pilihan pun tak pernah.” Kami hanya tertawa pada kalimatku yang tidak salah, namun sedikit menyakitkan itu. Sore itu sungguh kami tidak tahu patah hati apa yang akan kami dapatkan esoknya. Karena pada hari Rabu, seperti yang sudah aku bayangkan, aku tidak lolos dalam seleksi bidang puisi.

Aku tidak terlalu ambil pusing. Salma menang lagi. Bagiku, hal yang wajar sekolah pecundang ini tidak ingin mengambil risiko kehilangan pialanya dengan menunjuk orang lain yang sangat baru dalam perlombaan karya sastra ini. Mau bagaimana lagi, pengumuman sudah dikumandangkan, hanya menunggu waktu Salma mengangkat piala pada hari Senin yang panas dan sangat aku benci.

“Ini tidak adil. Apa bagusnya mereka?” Belva. Teman yang baru aku kenal dan langsung akrab dengan aku karena aku berteman dekat dengan sahabatnya. “Biar kuberitahu. Sekolah ini benar-benar payah.” Ya, aku tahu itu sejak lama. Sekoah kuno dengan aturan ketat dan, sayangnya, memiliki kesiswaan bernama Yulianto itu. 

“Kenapa Bel?” Tanyaku penasaran kenapa dia bisa semarah ini dengan fakta yang sudah diketahui semua siswa itu. Aku melihat dia langsung menatapku tajam dan mencondongkan tubuhnya, tanda akan membisikkan sesuatu yang sensitif. Satu lagi fakta yang baru aku tahu pun keluar dari mulutnya. Betapa buruknya sekolah ini menjatuhkan diri kami. Senja saat itu sangat cantik, kontras sekali dengan gundahnya hatiku. Bahkan hembusan anila tidak mampu membuatku tenang untuk menikmatinya.

Lagi-lagi aku hilang arah. Selalu terjadi kala diriku mencoba untuk bangkit dan bertahan. Sebagian orang akan menyangkal betapa besarnya menulis untukku yang sudah kehabisan alasan ini. Tak juga mereka akan menyangka alasan dari tiap bekas sayatan halus yang tercipta itu adalah bentuk patah hati terbesarku karena sebuah pengabaian. Hanya sunyi yang setia menemaniku setiap malamnya. Seberapa jauh lagi aku akan dipatahkan oleh diriku sendiri yang tidak mampu merengkuh perasaan ini? 

“Selamat kepada ananda Salma.” Seruan riang dari kepala sekolah memimpin meriahnya tepuk tangan tiga angkatan siswa di sekolah. Satu lagi prestasi yang diperoleh oleh SMA Negeri 1 Rembang tercinta ini. Jika ditanya, apakah aku bangga? Tentu saja. Pencapaian teman-temanku adalah salah satu kebahagiaan kecilku. Tentu saja aku harus bangga, ‘kan? Harusnya begitu. Sedalam apa pun luka yang aku rasakan, hal ini tidak ada hubungannya dengan orang lain. 

Aku ingat saat itu tanganku selalu lumpuh untuk memulai menulis lagi. Sudah lama ini tidak terjadi. Seakan-akan rohku ditarik paksa, jiwaku dibakar sirna, aku hanya termenung, menatap dengan mata kosong ke arah parkiran yang selalu ramai saat pulang sekolah. Langit mulai gelap. Memang sedang musimnya hujan turun tanpa undangan. Rasanya enggan diriku berbaur dengan para siswa yang buru-buru pulang itu. Malas sekali harus berdesakan dengan kacaunya hatiku saat ini. 

Kurasakan seseorang duduk di sebelahku. Wajah familiar, senyum manis yang tidak pernah lepas dari wajahnya, matanya penuh dengan sorot harapan dan kebahagiaan. Sungguh cantik dirinya. “Tidak pulang, Wa?” dia bertanya dengan nada lembut khasnya. Benar-benar terlihat seperti sosok polos yang saat itu menggandeng tanganku untuk menuju dunia baru dalam hidupku, harapan baru untuk diriku yang putus asa. Salma. Sungguh besar peran wanita ini dalam membangkitkan dan juga meruntuhkan kepercayaan diriku.

“Menunggu Toriq?” Tanyaku basa basi. Tidak juga butuh jawaban darinya yang sudah pasti. Aku melihatnya tersipu. Sungguh tidak beruntung dirinya malah bersama orang paling menyebalkan itu. “Pak Dharma yang jadi juri itu pamanmu, ya?” Entah dari mana keberanian menghampiriku. Mulutku tiba-tiba saja melemparkan pertanyaan yang sudah jelas ke mana arahnya itu.

Dapat kurasakan udara dingin yang tiba-tiba menyesakkan. Senyuman cantik dan lembut darinya perlahan luntur. Aku tidak sadar saat itu besar sekali harapanku untuknya menjawab ‘tidak’. Mungkin saat itu aku akan menerimanya meski dia mengucapkan kebohongan manis itu. Apa daya, rumor ternyata tidak selalu berdusta. 

“Selamat, ya, atas kemenanganmu—” belum sempat aku menyelesaikan satu kalimat, sudah dipotong olehnya dengan kalimat lain yang lebih menghancurkan diriku, meski tanpa sadar dia ucapkan. Aku yakin bukan menyakitiku yang dia inginkan. Aku benar-benar paham betapa baiknya orang di depanku ini.

“Aku juga punya bakat dan kemampuan.” Dia berkata seolah-olah tenang. Tapi sungguh, aku melihat matanya yang ketakutan itu. Apa dia takut aku meragukan kemampuannya? Atau malah takut hal ini akan terbongkar? Aku sungguh tidak ingin meragukan sosok penyelamatku ini. Aku bersumpah bukan ini yang aku maksud.

Bising kendaraan berhenti. Sebagian besar siswa sudah meninggalkan sekolah yang tidak lagi menjadi tempatku bersandar ini. Dari kejauhan juga kulihat pria miliknya mendekat dengan motor Vespa kesayangannya. “Kamu yang paling tahu apa yang kamu lakukan saat ini, Sal.” Hanya satu kalimat terakhir dariku yang menjadi kata akhir dari pertemuan ini. Aku beranjak dari dudukku dan berjalan menuju parkiran, meninggalkan dirinya yang membisu di belakang sana.

Maka Biarlah

-nana

Jika hanya kelabu yang mengisi ruang pada kalbu, maka biarlah. 

Jika usik selalu membuatku isak, maka biarlah. 

Jika aku selalu jatuh dalam setiap jalan yang kutempuh, maka biarlah. 

Karena riang tidak selalu hadir

Begitu pun dengan lapangnya dada.

Poros memang mampu menarik

Namun yang jauh akan tetap keluar.

Maka biarlah. Karena hati tak lagi mencari, apalagi menanti.

Aku membuka pintu kamarku. Kudapati bapakku sedang merapikan buku-buku di rak putih yang dia bangun untukku. “Mencari apa?” tanyaku, yang mulai was-was jika buku harianku yang aku sembunyikan di sana tersingkap. Namun, hanya tatapan senyum karena tertangkap basah yang kutangkap. Aku agak lega karena sepertinya buku harianku masih aman.

Bapakku menyodorkan sebuah novel yang baru saja dia beli. Rupanya dia yang menambahkan jumlah buku secara diam-diam. “Wah buat Dek Awa? Makasih, Bapak!” ucapku dengan nada yang susah payah kubuat girang ini. Mungkin waktunya kurang tepat untuk bapakku memberi kejutan kecil seperti ini. Apalagi, bapakku biasanya lebih banyak diam dan suka marah-marah.

“Kemarin Bapak baca buku-buku ini. Kok Dek Awa ga bilang kalau nulis cerpen sama puisi? Bapak kan mau baca.” Katanya, dengan wajah yang tidak terlihat seperti kecewa itu, yang kutemukan justru tawa kecil. Aku malu. Tulisan yang kekanakan itu dibaca oleh bapakku yang selalu serius ini.

“Bapak suka. Ternyata bisa menulis toh kamu. Bapak pikir hanya suka membaca. Kok ga pernah cerita kalau bisa menulis sebagus ini.” Kalimat itu, entah kenapa, membuat sesuatu yang sudah aku bangun kokoh ini runtuh. Entah sejak kapan matau meneteskan cairan bening yang sudah mengalir di pipiku ini. Kuambil buku antologi ku di rak buku dan membuka halaman yang memuat tulisanku. Ku tunjukkan padanya kata demi kata, kubuka juga buku lain yang ternyata belum dia baca, kuceritakan semua isi cerpen milikku. 

Tanpa sadar, aku mulai sesenggukan saat menceritakan tiap halaman. Saat aku bercerita kalau aku berteman dengan salah satu penulis senior yang sudah menginjak usia kepala lima.

“Dilanjutkan ya menulisnya.” Kalimat sederhana itu membuat tangisku pecah. Tidak pernah sebelumnya kuceritakan apa pun yang aku alami pada bapakku. Namun, seakan sudah memahami semuanya, bapakku hanya merangkul pundakku dan melanjutkan membaca karyaku yang masih sangat berantakan itu. Seakan paham betul, aku tidak ingin ditanya mengenai apa pun dan hanya ingin menangis. Bahwa baru saja kupikir aku gagal. Bahwa baru saja aku mulai menyerah dan tidak lagi akan menyentuh karya sastra.

“Kalau menulis lagi, tunjukkan pada Bapak, nanti Bapak baca.”(*)