Pelita yang Berlari di Cakrawala

Oleh In’am Syarif

Dua belas tahun yang lalu, aku masih tinggal di rumah lama yang sederhana di dalam sebuah kompleks kecil di kota Pacitan. Kompleks itu tidak terlalu ramai dan jalanan di depannya sering kali lengang, terutama ketika senja mulai turun. Saat itu, hidup terasa sederhana karena hari-hariku diisi dengan bermain dan bercanda bersama saudara, serta menikmati perhatian dari orang-orang terdekat, terutama kakekku.

Sore itu terasa seperti hari biasa ketika matahari mulai condong ke barat dan langit berubah menjadi jingga. Kakakku yang saat itu masih duduk di kelas lima sekolah dasar datang menghampiriku dengan wajah penuh semangat. Ia memamerkan sebuah mainan baru yang dibelinya sepulang sekolah, mainan yang sudah lama kami berdua inginkan dan sering kami bayangkan bersama.

Melihat mainan itu di tangan kakakku membuatku merasa iri sekaligus kagum. Aku kemudian merengek kepada kakekku agar dibelikan mainan yang sama. Namun, sebelum keinginanku terpenuhi, kakakku yang baik hati mengizinkanku untuk meminjam mainannya sebentar agar aku bisa mencoba dan mengurangi rasa penasaran.

Saat itu, aku dan kakakku memiliki kebiasaan yang sedikit usil terhadap adik bungsu kami. Kami sengaja bermain hanya berdua dengan harapan ia akan merasa penasaran dan akhirnya ikut bergabung. Namun, seperti biasanya, adik kami lebih memilih untuk tetap berada di dekat ibu karena ia memang yang paling manja di antara kami bertiga.

Waktu terus berjalan dan langit mulai berubah menjadi lebih gelap. Setelah adik bungsu kami tertidur, kakakku mulai mengerjakan pekerjaan rumah dari sekolahnya. Sementara itu, aku masih dipenuhi keinginan untuk memiliki mainan sendiri, sehingga kakekku mengajakku pergi ke toko kelontong di seberang rumah untuk membelikan mainan yang aku suka.

Perjalanan ke toko kelontong terasa seperti petualangan kecil bagiku. Sesampainya di sana, kakekku berbincang santai dengan tetangga yang juga berada di toko tersebut. Aku yang masih kecil memiliki kebiasaan untuk sering mendongak ke langit, terutama ketika berada di luar rumah pada malam hari karena aku sangat tertarik dengan bintang-bintang.

Malam itu langit terlihat lebih bercahaya dari biasanya dan bulan di atas yang menggantung di langit terasa bersinar lebih terang dari hari-hari sebelumnya. Bintang-bintang tampak jelas bertaburan di langit yang luas. Aku menikmati pemandangan tersebut dengan penuh rasa kagum sambil terus memperhatikan setiap detail yang ada di atas sana.

Di saat itulah sesuatu yang tidak biasa terjadi di depan mataku. Dari hamparan langit yang tenang, tiba-tiba muncul seberkas cahaya yang meluncur jatuh menuju arah timur. Cahayanya terang, putih keperakan, hampir menyerupai sinar bulan, namun bergerak dengan kecepatan yang tidak dimiliki oleh bintang mana pun yang pernah kulihat. Gerakannya begitu singkat, namun cukup untuk membuat waktu seolah melambat sesaat.

Di tengah diamnya malam dan heningnya suasana, cahaya itu melintas tanpa suara, seperti sebuah pesan yang datang lalu pergi tanpa sempat dipahami. Aku hanya bisa menatapnya, terpaku, seakan takut kehilangan satu detik pun dari keberadaannya. Lalu, dalam sekejap, cahaya itu lenyap. Ia menghilang begitu saja, seolah ditelan oleh cahaya bulan yang menyelimuti langit malam. Tidak meninggalkan jejak, tidak pula menyisakan tanda, hanya sebuah kekosongan yang membuatku bertanya-tanya apakah aku benar-benar melihatnya atau hanya memimpikannya sesaat. Namun, perasaan yang tertinggal setelahnya terasa begitu nyata. Ada keheningan yang berbeda, seolah langit baru saja menyimpan sebuah rahasia kecil yang hanya diperlihatkan kepadaku seorang diri.

Dengan perasaan campur aduk antara kagum dan bingung, aku segera menghampiri kakekku. Aku menceritakan apa yang baru saja kulihat dengan penuh semangat. Namun, respons yang kudapat tidak sesuai harapanku karena mereka hanya tersenyum dan menganggap bahwa aku hanya berimajinasi atau salah melihat. Ada juga yang mencoba menjelaskan bahwa cahaya itu mungkin berasal dari pesawat yang sedang melintas. Aku mengangguk dan mencoba menerima penjelasan tersebut. Meskipun begitu, di dalam hatiku aku tetap yakin bahwa apa yang kulihat bukanlah sekadar khayalan. 

Dalam perjalanan pulang, aku kembali menceritakan kejadian itu kepada kakekku. Ia hanya tertawa ringan dan mengiyakan ceritaku tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut. Sesampainya di rumah, aku juga menceritakan hal yang sama kepada kakakku, tetapi ia pun tidak percaya dan mengatakan bahwa itu hanyalah pesawat malam.

Setelah menceritakan kejadian itu, aku mulai menyadari sesuatu yang sebelumnya tidak pernah kupikirkan. Tidak ada satu pun yang benar-benar percaya pada apa yang kulihat. Senyuman mereka terasa ringan, bahkan cenderung menganggapnya sebagai hal sepele. Penjelasan tentang pesawat yang melintas terdengar masuk akal, tetapi entah mengapa tidak sepenuhnya bisa kuterima.

Saat itu, untuk pertama kalinya aku merasakan kekecewaan yang sulit dijelaskan. Bukan karena mereka salah, melainkan karena apa yang bagiku terasa begitu nyata justru dianggap sebagai sesuatu yang tidak pernah terjadi. Aku mulai bertanya-tanya dalam diam apakah benar aku hanya berimajinasi? Atau memang aku satu-satunya yang melihatnya? Perasaan itu membuatku sedikit lebih pendiam dari biasanya. Aku tidak lagi mencoba meyakinkan siapa pun. Cerita itu perlahan kusimpan sendiri, seolah menjadi rahasia kecil yang hanya aku miliki. Di dalam pikiranku, kejadian itu terus berputar, mencoba mencari penjelasan yang bisa membuatku merasa lebih tenang.

Seiring berjalannya waktu, aku mulai memahami sudut pandang mereka. Aku masih kecil saat itu, dan cara bicaraku mungkin terdengar berlebihan atau sulit dipercaya. Apa yang kulihat hanya berlangsung sesaat, tanpa bukti, tanpa saksi. Wajar jika orang dewasa mencoba menjelaskan dengan sesuatu yang lebih masuk akal bagi mereka. Akhirnya, aku memilih untuk berdamai dengan hal itu. Bukan berarti aku melupakan apa yang kulihat, tetapi aku menerima bahwa tidak semua hal harus dipercaya oleh orang lain untuk menjadi nyata bagiku. Mungkin itu memang hanya bintang jatuh, atau mungkin pesawat seperti yang mereka katakan. Apa pun penjelasannya, aku tidak lagi merasa perlu untuk membuktikannya.

Pengalaman itu menjadi satu-satunya kejadian dalam hidupku di mana aku melihat fenomena seperti itu secara langsung. Aku tidak pernah lagi melihat cahaya serupa sejak saat itu. Hal tersebut membuatku semakin penasaran dan terus mengingatnya hingga sekarang.(*)