Kiai Bramasari dan Desa Sarwodadi

Pada zaman dahulu, ketika Indonesia masih berada dalam cengkeraman penjajahan Belanda, hiduplah seorang tokoh sakti dan disegani bernama Kiai Bramasari. Ia bukanlah orang biasa. Sosoknya dikenal sebagai pejuang tangguh yang berjuang demi kemerdekaan tanah air. Namun, yang membuatnya lebih misterius adalah asal-usulnya yang tidak diketahui secara pasti. Ia muncul begitu saja, seolah diturunkan langsung dari langit untuk menjadi pelindung rakyat kecil.

Kiai Bramasari dikenal membawa sebuah tongkat sakti ke mana pun ia pergi. Tongkat itu bukan hanya alat bantu jalan, melainkan juga simbol kekuatan, wibawa, dan perlawanan terhadap penjajahan. Karena keberaniannya dalam melawan penjajah, Belanda sangat ingin menangkapnya. Mereka mencarinya selama berbulan-bulan, menyisir hutan, desa, hingga perbukitan, namun Kiai Bramasari selalu berhasil menghindar.

Hingga suatu hari, dalam pelariannya dari kejaran Belanda, Kiai Bramasari menyusuri sebuah hutan lebat. Di tengah hutan itu, ia menemukan sungai kecil yang jernih airnya. Sungai itu kini dikenal sebagai Kali Wungu, yang mengalir dari sebuah bukit atau dalam bahasa Jawa disebut Igir. Merasa ingin buang air besar, Kiai Bramasari menancapkan tongkatnya agak jauh dari tempat ia duduk. Begitu selesai, ia kembali ke tempat tongkatnya ditancapkan, namun terkejut luar biasa: tongkat itu telah bersemi, mengeluarkan tunas layaknya tanaman hidup.

Kejadian itu dianggap sebagai pertanda dari Yang Maha Kuasa. Tongkat yang biasanya hanya sebatang kayu biasa, kini tumbuh menjadi pohon besar yang kuat. Karena keajaiban tersebut, Kiai Bramasari membiarkan tongkat itu tetap di sana, dan dari waktu ke waktu tumbuh menjadi pohon besar yang kemudian dikenal sebagai Kayu Wungu atau Pohon Bangun. Nama itu bermakna “Indonesia Bangkit”, sebuah filosofi kebangkitan dan harapan yang hidup di tengah penjajahan.

Daerah di sekitar pohon itu kemudian dinamai Blok Wungu, dan hingga kini namanya masih tercatat dalam dokumen pertanahan milik Pemerintah Desa Sarwodadi.

Perjalanan Kiai Bramasari belum usai. Penasaran dengan daerah yang baru ia temukan, beliau mengikuti aliran sungai kecil tadi, menelusuri sumber mata airnya. Perjalanan itu membawanya ke kaki sebuah bukit. Di sana, Kiai Bramasari merasa lapar dan memutuskan untuk beristirahat sambil makan di atas bukit tersebut. Tempat itu kemudian diberinya nama Igirmadang, yang berarti “bukit tempat makan” dalam bahasa Jawa. Hingga kini, nama itu masih dikenang dan menjadi nama sebuah dusun di desa tetangga.

Rasa ingin tahunya semakin kuat. Ia menyusuri wilayah sekitar untuk mencari tempat yang cocok dijadikan tempat tinggal. Ia kemudian menemukan daerah rawa yang subur, sangat baik untuk ditanami padi. Tanah itu memberi harapan bagi kehidupan. Akhirnya, daerah itu menjadi pemukiman baru yang diberi nama Kubang, yang kini menjadi wilayah persawahan di Desa Sarwodadi.

Namun perjuangan Kiai Bramasari tidak berhenti pada soal tempat tinggal. Sebagai pejuang yang visioner, ia menggalang persatuan. Ia mulai mengajak masyarakat dari Kampung Kubang dan sekitarnya untuk mengadakan musyawarah guna menyusun strategi melawan penjajah. Karena situasi tidak aman, pertemuan itu sering berpindah-pindah demi menghindari mata-mata musuh.

Hingga suatu ketika, musyawarah dilakukan di sebuah bulak atau ladang yang luas dan terbuka. Di tempat itu, terjadi hal yang luar biasa: dalam sekali pertemuan, seluruh peserta musyawarah langsung mencapai mufakat. Tidak ada perdebatan panjang, tidak ada perbedaan pendapat seperti biasanya. Segala urusan terasa serba lancar dan disepakati dengan mudah.

Karena itu, Kiai Bramasari memberikan nama tempat itu dalam bahasa Jawa sebagai Sarwodadi, yang berarti “serba jadi” atau tempat di mana segala sesuatu disepakati dan diselesaikan dengan baik.

Seiring waktu, banyak penduduk Kampung Kubang yang berpindah ke arah utara, dekat sungai besar yang kemudian dinamai Penaraban. Daerah itu kini menjadi Dusun Tlodas. Sebagian lagi memilih menetap di wilayah musyawarah yang diberi nama Sarwodadi tadi. Nama itu tidak hanya bertahan, tapi juga menjadi bagian penting dari sejarah desa.

Nama Sarwodadi akhirnya diabadikan sebagai nama resmi desa. Bahkan dalam dokumen pertanahan desa, wilayah itu tercatat sebagai Persil 29, Blok Sarwodadi, yang terletak di tengah Desa Sarwodadi dan masih dikenal hingga kini. Kiai Bramasari juga memiliki murid yang bernama Mbah Kasinah yang kemudian meneruskan jejak beliau sebagai slah satu sesepuh yang disegani di Desa Sarwodadi. 

Cerita ini diwariskan secara turun-temurun oleh para sesepuh desa, termasuk mereka yang dahulu pernah menjabat sebagai klerek atau sekretaris desa (sekdes). Mereka merekam jejak sejarah ini dari generasi ke generasi, hingga akhirnya diceritakan kembali sebelum mereka wafat, agar tak hilang ditelan zaman.(*)

Oleh Nurhana Maulida