Di balik Kota Batam yang sibuk dan modern, terdapat tempat yang seolah terlewat dari perhatian. Sungai Seiladi, tak jauh dari pusat kota namun tak banyak yang menyadari bahwa Sungai ini menyinpan masa lalu yang misterius. Sungai ini mengalir tenang di antara rimbunnya pepohonan, menyembunyikan aroma masa lalu yang tak pernah sepenuhnya hilang.
Bagi warga sekitar Sungai Seiladi hanyalah Sungai pada umunya yang biasa di pakai memancing atau bersantai. Namun, bagi Ari, siswa SMA yang gemar Sejarah, Sungai Seiladi adalah misteri yang belum terpecahkan.
Suatu sore saat Ari membantu kakek membersihkan loteng rumah kakeknya yang sudah lama sakit, Ari menemukan sebuah kotak kayu kecil di dalam lemari tua. Di dalamnya, terdapat sebuah buku berbahasa Belanda yang using dan sebuah peta yang tergulung rapi.
“Apa ini, kek?” tanya Ari sambil memperlihatkan apa yang sudah dia temui.
Kakeknya terkaget akan apa yang sudah ari temukan, kakek terdiam sejenak lalu berkata. “Itu milik kakek buyutmu. Dia dulu pekerja Pelabuhan pada zaman Belanda. Katanya, ada kapal yang karam di hulu Sungai Seiladi. Penumpang kapal itu tidak pernah ditemukan.”
Ari pun terkejut dengan cerita tersebut, ia tak menyangka selama ini kakeknya menyimpan kisah misterius tersebut. Lalu, Ari bertanya “Apa maksud dari peta ini, Kek?”
“itu adalah jalan menuju kapal karam, Tapi sudah tidak ada yang berani mencarinya. Dulu ada yang mencarinya, tapi..mereka tidak pernah Kembali.”
Keesokan harinya, Ari membawa jurnal dan peta tersebut ke dua sahabatnya Maya dan Jefri. Ari mengajak kedua temannya untuk memecahkan misteri tersebut. Mereka bertiga mempunyai ketertarikan yang sama yaitu tertarik pada Sejarah, tanpa pikir Panjang Maya dan Jefri menerima ajakan Ari.
Ari pun menjelaskan bahwa mereka akan mengandalkan peta yang dipegangnya untuk menulusuri tempat kapal karam berada. Ari juga menjelaskan bahwa di dalam jurnal tersebut terdapat nama seorang kapten Belanda, Cornelis van der Veen. Ia membawa sesuatu yang penting sebelum kapalnya hilang di Sungai Seiladi. Ari tidak tau pasti apa isi jurnal tersebut karena jurnal tersebut berbahasa Belanda. Namun, Ari berspekulasi kemungkinan besar peta tersebut menunjukkan keberadaan harta karun, Maya dan Jefri pun makin bersemangat untuk memcahkan misteri tersebut.
Seminggu kemudia mereka bertiga memulai pencarian. Mereka membawa peta, bekal, senter, dan perahu kecil milik ayah Jefri.
Sungai Seiladi tampak damai pada pagi itu dengan suara angin yang tenang dan pohon yang saling bersinggungan satu sama lain. Tapi dibalik ketenangan itu, ada sesuatu yang tidak biasa.
“Lihat itu,” ujar Maya, menunjuk batu besar di pinggir Sungai. “Ada ukiran.”
Mereka menepi dan memeriksanya. Di permukaan batu, tertulis angka yang sama pada peta dan terdapat panah.
“Itu angka tahun 1847,” bisik Ari
Mereka mengikuti arah panah dari simbol itu, yang membawa mereka lebih kedalam hutan. Arus Sungai semakin sempit, dan suara alam terasa semakin sunyi. Di sebuah belokan, mereka melihat pohon besar yang akarnya di bawah air Sungai.
“Itu dia! Tanda terakhir di peta!” teriak Jefri.
Mereka mendayung perlahan dan melihat ada semacam gua kecil tertutup akar dan Semak-semak. Dengan hati-hatu mereka masuk, menyalakan senter. Setelah jauh masuk kedalam gua Maya pun memfokuskan matanya ke akar-akar bakau yang di tengahnya terdapat peti mencurigakan.
Mereka pun mendekati peti tersebut dan dengan susah payah mengangkatnya ke atas perahu, mereka pun langsung membuka peti itu. Peti itupun berhasil terbuka. Ari, Jefri, Maya pun terdiam, bukan karena melihat harta karun didalam petinya melainkan hanya ada seberkas dokumen kuno, senjata karat, dan jurnal milik Cornelis.
Kekecewaan sempat menyelimuti mereka. Tapi Ari membaca lebih dalam jurnal itu dan menyadari bahwa informasi di dalamnya sangat berharga. Jurnal tersebut tidak hanya memiliki nilai Sejarah, tetaoi juga bukti kejahatan kolonial Belanda yang selama ini tidak terungkap. Ia menyerahkan temuan itu kepada sejarawan lokal, yang kemudian menyumbangkannya ke museum di Batam.
Ari, Maya, dan jefri menjadi symbol generasi muda Batam yang peduli akan Sejarah. Mereka tidak hanya menemukan peninggalan masa lalu, tapi juga membuktikan petualangan sejati bukan tentang emas dan permata, melainkan tentang pencarian makna dan kebenaran.(*)
Oleh Nazwa Mitra Hadi