Wanita merupakan aset penting bagi masyarakat dan negara. Mereka bukan hanya mampu untuk memimpin negeri, bahkan mampu memimpin negara dengan baik. Penglibatan wanita dalam badan-badan administrasi di peringkat kebangsaan dan juga tempatan membawa perubahan kepada dasar-dasar dan undang-undang yang memfokuskan kepada wanita, anak-anak, dan keluarga. Walau bagaimanapun, kaum wanita masih memiliki perbandingan yang jauh daripada kaum lelaki, terutamanya dalam hal kepemimpinan.
Wanita terkadang dianggap tidak pantas menjadi seseorang pemimpin. Padahal, seseorang pemimpin tidak harus seorang laki- laki. Seseorang pemimpin ialah yang mempunyai kecakapan serta kelebihan, terutama pada satu bidang tertentu sehingga dia sanggup mempengaruhi orang lain untuk melaksanakan kegiatan tertentu bersama-sama demi mewujudkan tujuan serta pencapaian tertentu.
Contohnya seperti wanita di Indonesia sudah menampilkan kalau mereka para kalangan wanita sanggup meyakinkan serta menggapai sesuatu keberhasilan selaku pemimpin. Kedudukan wanita dalam kepemimpinan di Indonesia dari seluruh aspek bidang sudah menampilkan kalau wanita sanggup serta layak dijadikan seseorang pemimpin.
R.A. Kartini dalam bukunya “Habis Gelap Terbitlah Terang” merupakan salah satu bentuk dari sekian banyak tokoh penggerak emansipasi perempuan di mana beliau memperjuangkan nasib perempuan agar setara dengan laki-laki. Cita-cita R.A. Kartini salah satunya agar perempuan memiliki pendidikan dan wawasan yang luas diwujudkan dengan membangun sekolah gratis untuk anak-anak perempuan di daerah Jepara dan Rembang. Tujuannya, agar perempuan memiliki wawasan dan pendidikan yang luas, serta hilangnya sistem kawin paksa atau pernikahan di usia belia.
Dari dulu hingga saat ini masalah kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan memang masih menjadi masalah yang harus diperbaiki. Kesenjangan gender inilah yang membuat perempuan tidak dapat mengekspresikan diri dan mengembangkan potensi.
Hal inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa kepemimpinan wanita di Indonesia tidak berkembang hingga saat ini, sehingga minimnya kaum wanita yang ingin mencalonkan diri untuk memimpin negara Indonesia. Alhasil, sejarah kepemimpinan wanita di Indonesia hanya ada satu yaitu Ibu Diah Permata Megawati Setiawati Soekarnoputri yang pernah menjabat sebagai Presiden Indonesia ke-5 dari tahun 2001-2004.
Namun, kepemimpinan di Indonesia pada saat ini semakin meningkat, terutama di kota-kota besar. Beberapa contoh sosok perempuan yang telah mencapai status kepemimpinan yang dibahas dalam buku ini yaitu Linda Gumelar sebagai Ketua YKPI (Yayasan Kanker Payudara Indonesia), Amalia Yaksa ( Vice President Sales, Distribution & Center), Rosel Lavina (Vice President Corporate Affairs – Food Ecosystem), Ari Kartika (General Manager Marketing & Commercial Perum Perumnas), Ucita Pohan (Radio Announcer & Influencer), Wulan Tilaar (Penerus Martha Tilaar), dan Angkie Yudistia (Staff khusus Presiden dan pendiri Thisable enterprise). Sosok-sosok tersebut membuktikan bahwa seorang perempuan dapat mencapai kepemimpinan dalam industri yang didominasi oleh laki-laki dan perempuan.
Nama : Jaelani
NIM : 2502020139
Rombel : 4