Di Watukumpul Aku Mulai Merasa “Pulang”

Oleh Tiara Fikria Zahra

Aku lahir dan tumbuh di kaki perbukitan Watukumpul, sebuah kecamatan yang berada di dataran tinggi di Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah. Setiap pagi, ketika kabut tipis masih menempel di atap rumah, yang kudengar hanyalah suara ayam berkokok, denting ember di sumur, dan sesekali suara motor yang berderu menuruni jalan berkelok. Di sini, udara memang berbeda: dingin menyentuh tulang, bau tanah basah, dan aroma kayu bakar yang bercampur dengan asap di dapur tetangga.

Watukumpul dikenal sebagai daerah pegunungan dengan ketinggian sekitar 925 meter di atas permukaan laut. Dari jendela rumah kami, pemandangan selalu sama: barisan bukit hijau, sawah terasering, dan beberapa jurang yang menurun tajam saat jalan menurun ke desa lain. Di jurang‑jurang itu, banyak orang menggali bebatuan, hingga namanya “Watukumpul” pun konon  berasal dari kata “watu sing ngumpul atau batu yang berkumpul”. Cerita nenek tentang asal nama desa itu selalu muncul saat sore‑sore, ditemani teh hangat dan kue yang baru dipanggang. 

Kehidupan di Watukumpul masih sangat kental dengan nuansa agraris. Banyak warga yang bekerja di sawah, kebun, atau mengambil kayu bakar di hutan dekat rumah. Berjalan kaki pagi‑pagi ke pasar kecil di desa tetangga, aku melihat ibu‑ibu berjualan sayur, dadar jagung, dan tempe kelinci yang dibungkus daun pisang. Suara tawar‑menawar, hentakan sandal, dan cekikikan anak‑anak yang menunggu jajan sudah menjadi soundtrack harian yang tak pernah aku bosan dengar.

Sekolah dasarku berada di tepi jalan besar yang menghubungkan beberapa desa, misalnya Bodas, Bongas, dan Cawet. Saat pulang sekolah, kami sering berhenti sebentar di warung kecil, membeli kerupuk dan es teh manis yang dibuat dengan air sumur yang dingin dan jernih. Di sana, guru juga sering mengajak kami membuat lomba panjat pinang, karnaval, atau menari Jaipongan saat perayaan kemerdekaan, yang membuat suasana Watukumpul terasa meriah namun tidak berlebihan.

Salah satu tempat yang paling sering dihitung orang sebagai “kebanggaan” Watukumpul adalah Kedung Bening. Aku pertama kali menginjakkan kaki ke sana saat SD, diajak oleh kakak sepupu saat libur sekolah. Airnya jernih, berwarna kehijauan, dan mengalir di antara dinding bebatuan hitam yang terasa dingin ketika tangan menyentuhnya. Di sana aku belajar bahwa keindahan alam tidak perlu kemewahan fasilitas, cukup dengan sungai yang bersih, suara aliran air, dan tawa anak‑anak yang menjejakkan kaki di batu licin.

Ketika remaja, aku mulai menyadari bahwa Watukumpul bukan hanya tempat tinggal, tetapi juga tempat lahirnya tradisi religi dan seni. Ada festival bernama “Ki Ageng Seka” atau “Ki Kirab Ageng Sela Kamulyan” yang diselenggarakan bertahun‑tahun sekali sebagai wujud penghormatan kepada leluhur dan pembawa kebudayaan di daerah ini. Saat festival itu berlangsung, aku dan beberapa teman sering membantu menyiapkan dekorasi, membawa kue tradisional, atau sekadar menonton kirab yang diiringi gamelan dan suara doa yang mengalun pelan.

Di malam‑malam tertentu, bunyi gamelan dari balai desa atau rumah warga pecah membelah keheningan. Kadang itu hanya latihan, kadang untuk acara tahlil, sunatan, atau perayaan Grebeg Ruwah. Aku sering duduk di teras, mendengarkan irama yang naik turun, sambil menatap langit Watukumpul yang gelap dan penuh bintang. Di situlah aku merasakan betapa penduduk di sini menggunakan seni bukan untuk pamer, tetapi untuk merawat ingatan, memanggil kebersamaan, dan melanjutkan warisan yang tak tertulis di buku.

Rumahku berada di Desa Watukumpul, salah satu dari 15 desa di kecamatan ini. Dindingnya terbuat dari bata, atapnya dari seng yang sudah berkarat, namun di dalamnya selalu hangat karena ibu selalu menyalakan kompor di pagi dan sore hari. Di dapur, kami sering makan bersama dengan lauk sederhana: ikan asin, lalapan, dan sambal yang dicampur cabe rawit dari kebun belakang. Bau daun kubis dan sayur asem yang dimasak di panci besar selalu membawa rasa aman, seolah Watukumpul sendiri adalah “rumah” yang tak pernah berpindah.

Jalan di Watukumpul banyak yang berkelok‑kelok, menanjak, dan terkadang licin saat hujan. Aku sering naik sepeda ke desa tetangga, memegang kemudi erat saat menuruni tanjakan curam, sambil terus mengingatkan diri untuk tidak menoleh ke bawah. Di punggung jalan, ada beberapa kedai kopi sederhana yang dikelola warga, tempat bapak‑bapak berkumpul, saling berbagi cerita tentang harga gabah, hasil panen, atau keluhan jalanan yang berlubang.

Beberapa temanku mulai merantau ke kota besar, seperti Semarang, Jakarta, atau Bandung. Mereka menulis di grup WhatsApp kelas, membagi foto gedung pencakar langit, lampu neon, dan keramaian yang tidak pernah ada di Watukumpul. Tapi setiap kali libur panjang tiba, banyak di antara mereka yang kembali, membawa kue, oleh‑oleh, dan cerita, lalu menutupnya dengan: “Aku rindu suasana di sini.” Aku sendiri merasakan hal yang sama: bahwa meski Watukumpul tidak mewah, ia selalu punya cara untuk membuat orang merasa “pulang”.

Sampai hari ini, ketika aku menulis di kamar, mendengar suara Vespa lewat, atau mencium aroma bau tanah setelah hujan turun, aku selalu teringat Watukumpul. Aku tahu, bukan pendapatan atau kemewahan yang membuat tempat ini berarti, melainkan batu‑batu di gunung, air di Kedung Bening, suara gamelan di malam hari, dan tawa ibuku yang selalu hangat di dapur. Watukumpul mungkin hanya sebuah kecamatan kecil di peta Jawa Tengah, namun bagiku ia adalah tempat di mana ingatan masa kecil, doa, dan kebersamaan saling berhimpit tanpa perlu diucapkan.(*)