Oleh Aulya Budi Ferany
Sehari itu rasanya seperti dikejar waktu. Sejak pagi, aku, sudah bolak-balik menyusuri jalanan kecil Kota Salatiga dengan motor tua yang suaranya kadang lebih keras dari pikiranku sendiri. Udara kota ini biasanya adem, tenang, seperti tidak pernah benar-benar tergesa. Tapi hari itu, semua terasa sempit. Di belakangku, kotak-kotak ayam bakar menumpuk, dan daftar alamat di kepalaku seperti tidak ada ujungnya.
Aku hampir tidak sempat berhenti. Satu rumah ke rumah lain, satu gang ke gang berikutnya. Kadang alamatnya susah dicari, kadang orangnya tidak ada. Hal-hal kecil seperti itu cukup membuatku kesal di tengah keburu-buruan.
Keponakanku duduk di belakang, memeluk kotak-kotak ayam bakar dengan hati-hati. Dia tidak banyak bicara, hanya sesekali menggeser posisi karena pegal.
“Masih banyak, Tante?” tanyanya pelan.
“Dikit lagi, Raka,” jawabku cepat, tanpa menoleh.
Kami lanjut lagi. Panas siang mulai terasa dan keringat mulai mengalir di punggung. Di tengah perjalanan, dia menepuk punggungku.
“Tante, nanti aku dapet apa?”
Aku tersenyum tipis, meski capek. “Nanti takbeliin es. Yang gede.”
Dia langsung diam. Entah kenapa, suasana jadi sedikit lebih ringan setelah itu. Pelan-pelan, pesanan berkurang. Satu per satu selesai. Sampai akhirnya, tidak ada lagi kotak ayam yang tersisa di belakang.
Aku menarik napas panjang. “Selesai…”
Dia bersandar di punggungku. “Yey, beli es!”
Ada rasa lega yang sederhana. Tidak besar, tapi cukup untuk membuat bahu terasa lebih ringan. Kami berhenti di pom bensin. Tangki sudah hampir kosong. Aku turun untuk mengisi bensin, sementara dia juga ikut turun dari motor.
“Tante, aku beli es di sana ya,” katanya sambil menunjuk ke pinggir jalan.
“Iya, jangan jauh-jauh,” jawabku.
Aku fokus ke bensin, ke uang, ke suara mesin. Rasanya seperti akhirnya bisa berhenti sebentar dari semua kesibukan tadi.
Setelah selesai, aku naik ke motor.
Dan langsung pulang.
Sore itu terasa tenang. Aku duduk di depan rumah, menikmati angin yang mulai dingin. Tetanggaku duduk di sampingku dan kami mengobrol santai tentang hal-hal kecil.
“Ramai ya hari ini?” katanya.
“Iya, lumayan,” jawabku.
Aku merasa lega. Semua pesanan selesai. Tidak ada lagi yang harus dikejar.
Waktu berjalan tanpa terasa. Sekitar dua jam kemudian, kakakku datang dan ikut duduk bersama kami.
Obrolan tetap ringan. Sampai tiba-tiba, pikiranku seperti tersentak: Pom bensin, es, Raka.
Aku terdiam.
“Loh…” gumamku pelan.
Aku berdiri mendadak. Jantungku mulai berdebar. “Aduh…”
Aku menatap kakakku. “Anakmu… tadi sama aku.”
Semua orang diam.
“Aku tinggal di pom bensin,” lanjutku cepat.
Aku langsung berbalik, berjalan cepat ke arah motor. Tanganku sudah meraih kunci. Belum sempat aku menyalakan mesin, kakak memegang bahuku, “Mau ke mana?” tanya kakakku pelan.
“Jemput Rakalah! Kasihan dia nunggu!” jawabku, sedikit kesal karena ditahan.
Kakakku tidak langsung menjawab. Dia hanya menghela napas panjang.
Aku mengernyit. “Kenapa sih? Marahnya nanti dulu, biar aku jemput sebentar!”
Salah satu tetangga ikut bicara, suaranya pelan. “Sudah… kamu duduk saja.”
Aku mulai kesal. “Maksudnya apa sih? Dia nunggu di sana!”
Aku melihat ke satu per satu wajah mereka. Tidak ada yang terlihat panik. Tidak ada yang terburu-buru. Yang ada hanya tatapan kasihan. Kakakku menunduk. Suaranya hampir tidak terdengar.
“Dia sudah nggak ada… ini udah 3 bulan, Dek.”
Aku terdiam.
“Jangan gitulah…” kataku cepat. “Tadi dia sama aku. Dia bantuin aku dari pagi.”
Tidak ada yang menjawab. Angin sore terasa lebih dingin dari biasanya.
Aku menggeleng pelan. “Nggak mungkin… tadi dia duduk di belakang. Dia minta es. Dia…”
Suaraku sendiri mulai melemah. Gambar-gambar di kepalaku masih jelas. Suaranya, caranya memanggilku, bahkan cara dia memeluk kotak di belakangku. Aku berdiri diam, masih memegang kunci dan menatap motor di depanku yang kosong itu.(*)