Asal Mula Pasar Lama Tanggerang

Tangerang adalah kota yang terus berkembang pesat di pinggir Jakarta, namun di balik gedung-gedung modern dan pusat perbelanjaan yang semakin banyak, ada satu tempat yang tetap mempertahankan jejak sejarahnya: Pasar Lama Tangerang. Kawasan ini bukan sekadar pusat niaga biasa, melainkan saksi bisu perjalanan panjang para masyarakat Tangerang dalam perjalanan perdagangan, budaya, dan toleransi.

Kisah Pasar Lama dimulai pada abad ke-17, ketika Kesultanan Banten masih berjaya. Sungai Cisadane menjadi pusat perdagangan, menghubungkan pedalaman Jawa Barat dengan pesisir barat. Pada masa itu, para pendatang dari Tiongkok mulai menetap di daerah yang kini menjadi Kota Tangerang. Mereka dikenal sebagai etnis Cina Benteng, yang kemudian menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah kota ini.

Pemerintah kolonial Belanda melihat potensi besar di kawasan ini dan mulai membangun serta mengembangkan pusat perdagangan di sekitar bantaran sungai. Mereka membangun infrastruktur dasar: dermaga, gudang, dan tempat tinggal untuk para pedagang. Dari sinilah Pasar Lama terbentuk—sebuah pasar yang tumbuh dari interaksi antara pedagang lokal, pendatang Tionghoa, serta pengaruh kolonial.

Pada masa kejayaannya di abad ke-19 dan awal abad ke-20, Pasar Lama menjadi pusat perputaran ekonomi di Tangerang. Hasil bumi, rempah-rempah, kain batik, dan barang-barang dari luar negeri diperdagangkan di sini. Jalan-jalan sempit dipadati gerobak, sepeda, dan pejalan kaki yang bertransaksi jual beli sejak pagi buta hingga malam.

Bukan hanya transaksi jual beli, tetapi juga cerita, budaya, dan bahasa. Di sinilah masyarakat Tionghoa, Betawi, Sunda, dan Jawa bertemu, yang membentuk keragaman yang khas. Tradisi kuliner seperti laksa Tangerang, kue keranjang, dan soto betawi menjadi simbol persilangan budaya yang masi hidup sampai sekarang.

Lebih dari sekadar tempat jual beli, Pasar Lama juga menjadi pusat interaksi sosial dan budaya. Hal ini diceritakan oleh warga setempat, pedagang kue tradisional yang sudah berjualan di sana selama 30 tahun.

“Kalau malam Jumat, dulu sering ada pertunjukan wayang atau barongsai waktu Imlek. Jadi bukan cuma jualan, tapi pasar ini juga hidup dengan acara-acara tradisi,” ujar warga setempat dengan semangat. “Anak-anak kecil dulu seneng banget kalau ada pertunjukan gitu, rame!”

Seiring berjalannya waktu serta perkembangan zaman, Pasar Lama juga mengalami banyak perubahan. Kini, kawasan tersebut dikenal sebagai tempat kuliner malam dan wisata sejarah. Namun, beberapa bangunan tua juga masih ada yang dipertahankan, seperti Kelenteng Boen Tek Bio yang menjadi salah satu ikon kawasan.

Sebagai mahasiswa, saya merasa bahwa tempat seperti Pasar Lama ini bukan hanya layak untuk dilestarikan, namun juga bisa dijadikan bahan pembelajaran. Di sini kita bisa melihat berbagai macam masyarakat dari latar belakang berbeda bisa hidup berdampingan dan saling mendukung melalui perdagangan dan budaya.

Asal usul Pasar Lama Tangerang tidak hanya mengenai waktu dan cara berdirinya lokasi tersebut. Lebih jauh lagi, Pasar Lama juga menjadi saksi bisu mengenai perjalanan para masyarakat Tangerang, dari era kolonial himgga zaman modern. Cerita-cerita yang dibagikan oleh warga setempat bukan semata-mata kenangan, tetapi juga merupakan jati diri bersama kita sebagai bangsa.

Sebagai seorang mahasiswa, sayang merasa sangat bangga dan bersyukur karna saya bisa merasakan sedikit dari kekayaan sejarah ini. Semoga para generasi muda selalu ingat bahwa di balik lampu lampu terang dan dunia media sosial, terdapat sejarah panjang di dalamnya yang telah membentuk diri kita saat ini.

Dan selama masyarakat Tangerang tetap terus menjaga dan melestarikan keberagamannya, Pasar Lama akan tetap hidup—sebagai jantung budaya dan pusat perdagangan kota gang tak lepas oleh waktu.

Oleh Maulida Faatihah Rizqy