Kisah Misterius di Desa Wonoharjo Lampung

(Kejadian ini diambil dari kisah nyata pada tahun 1990 Di Desa Wonoharjo)

Kala itu Eni, anak perempuan bersurai hitam pekat pendek itu berlari-larian bersama adiknya hingga terdengar suara nyaring benturan tubuh pada tanah di sekitarnya itu. Matahari mulai condong ke barat, menembus sela-sela pohon kelapa dan menimbulkan bayangan panjang di tanah pekarangan. “Ehh, kan jangan lari-larian,” ujar ibunya yang sedang menapih beras yang akan dimasak sore itu. 

Udara sore di desa itu hangat dan lembap, dengan aroma sawah yang belum sepenuhnya kering karena panen belum rampung. Adiknya yang bernama Setyo itu tersungkur ke tanah. Mukanya kesakitan, namun terlihat bahwa Setyo menahannya. Dia tahu ibunya itu akan marah jika ia malah menangis karena perbuatannya sendiri yang salah itu. Eni langsung membantunya, dan benar saja ibunya itu tampak marah karena kelakuan kedua anaknya itu. 

“Mainnya udah, berangkat mengaji dulu. Lihat jamnya itu, takut telat, Nok. Bawa adikmu, bersiap juga.” Ibunya itu berkata demikian lalu menatap kedua anaknya itu pelan, wajahnya sudah lelah karena seharian ini sangat sibuk di sawah. Karena saat itu sedang musim panen di desa itu, wajar saja ibunya itu mati-matian bekerja untuk mendapatkan beras. 

Dari arah barat, terdengar suara serangga petang mulai bernyanyi nyaring, menandakan waktu magrib sudah mendekat. Eni yang melihat hal tersebut lalu mengangguk pada ibunya. “Ya, Bu,” ujar Eni yang langsung menggenggam tangan Setyo untuk bersiap mandi.

 “Ayok mandi, terus kita berangkat mengaji, Set.” Setyo hanya mengangguk dan mengikuti kakaknya itu.   

Kakak beradik itu langsung bersiap untuk mengaji, usia mereka hanya berbeda dua tahun. Eni waktu itu terpaut umur sebelas tahun, jadi mereka sangat dekat dan melakukan apa pun bersama. Di satu sisi, ibunya selesai menapih beras, segera masuk ke dalam rumah yang sederhana itu untuk menyiapkan makan malam di malam itu. Rumah kayu beratap seng itu mulai dingin diterpa angin senja yang merayap masuk dari celah dinding. 

Sekitar lima belas menit, Eni dan Setyo selesai bersiap, segera menuju dapur untuk berpamitan. “Bu, kami berangkat mengaji dulu. Ibu malam ini masak apa?” ujar Eni pada ibunya yang sedang mengupas bawang itu. Bau bawang menyengat bercampur dengan bau asap kayu bakar dari tungku di pojok dapur. 

“Ibu masak sayur lodeh malam ini, sudah, kalian berangkat saja dulu. Nanti kalian telat,” ujar ibunya yang masih fokus pada bawangnya itu. 

“Wah, sayur lodeh enak! Itu kesukaanku, Bu,” kata Setyo yang terlihat senang karena ibunya memasak sayur kesukaannya itu. 

Ibunya tersenyum lalu berkata, “Ibu tahu kalau itu masakan kesukaan kamu, Set. Kalian langsung berangkat ke ustaz, ya, jangan malah main keluyuran.” Ibunya berkata demikian sambil menaruh pisau yang digenggamnya dan langsung mencuci tangan untuk bersalaman dengan anak-anaknya itu. “Assalamu’alaikum.” 

“Wa’alaikumussalam. Hati-hati ya, Nak,” ibunya itu langsung melanjutkan kegiatannya itu. 

Dua anak itu berjalan keluar. Waktu menunjukkan pukul empat sore. Di perjalanan, Eni dan Setyo berjalan bersama. Terkadang mereka berlari pelan, menyusuri jalan tanah desa yang mulai lengang. 

“Mbak, ini kita samper yang lain dulu?” ujar Setyo sambil menatap kakaknya. 

“Iya, kalau mereka belum berangkat duluan. Nanti setelah mengaji kamu bisa langsung ke kakek, ya, terus ke masjid. Aku nanti mau pergi dulu sama Mbak Mila dan yang lainnya,” ujar Eni, yang sudah berpikir tentang rencana mereka bermain petak umpet, permainan seru yang sempat mereka mainkan kemarin. Mereka belum puas dan sudah sepakat melanjutkannya sore ini. 

“Iya, Mbak. Nanti aku ke kakek dulu, nggak apa-apa,” balas Setyo sambil mengangguk kecil. Mereka berjalan menyusuri jalan setapak, lalu sampailah di TPQ. 

“Assalamu’alaikum,” ucap Eni pelan saat membuka pintu kayu yang sedikit berderit. 

Ustaz yang mendengarnya pun menjawab salam itu, “Wa’alaikumussalam. Mana teman-teman kalian yang lain?” 

“Aku kira mereka sudah berangkat duluan, Ustaz,” jawab Eni sopan sambil menurunkan tas kecilnya. 

Waktu berlalu anak-anak desa mulai berdatangan untuk mengaji sore itu. Suasana TPQ sore itu tenang. Lantunan ayat-ayat suci mengalun dari mulut anak-anak desa yang duduk bersila rapi, menghadap papan tulis dan mushaf kecil di tangan mereka. Waktu pun berlalu tanpa terasa. Matahari mulai tenggelam, menyisakan warna jingga pucat di langit barat. Angin sore semakin dingin. Akhirnya kegiatan mengaji pun dicukupkan. 

Ustaz menutup mushafnya perlahan dan menatap murid-muridnya yang masih rapi duduk. “Baik, anak-anak, cukup sampai di sini dulu ya. Jangan lupa hafalan surat Al-Bayyinah untuk besok, dan ingat… habis ini langsung pulang, jangan keluyuran kemalaman. Waktu Magrib sudah dekat, hati-hati di jalan.” 

“Siap, Ustaadz,” jawab anak-anak serempak, sebagian bersiap merapikan mukena dan peci kecil mereka. Mereka keluar dari TPQ itu dengan hati yang gembira. Tampak semuanya berbicara, saling bercanda, dan tertawa kecil. Eni bersama Mila dan Asih mengobrol ringan, semangat mereka belum pudar 

“Kita jadi main?” ujar Asih dengan mata berbinar. 

Eni langsung menjawab, “Bentar aku anterin Setyo dulu, bentar ya.” 

Melihat itu, Mila langsung menimpali, “Iya, anterin dulu. Kita tunggu ya, Ni… di tempat kemarin.” 

Eni mengangguk, lalu menuntun adiknya. “Kamu pulang ke kakek yaaa. Nanti aku nyusul sama mereka ke masjid. Ingat, langsung ke kakek, jangan mampir-mampir!”

“Iya, Mbak,” jawab Setyo dengan suara pelan, lalu berjalan ke rumah kakeknya yang tak jauh dari TPQ kampung itu. Bayangan tubuh kecilnya perlahan hilang di tikungan gang kecil yang mengarah ke belakang musala.   

Eni melihat itu, memastikan adiknya benar-benar berbelok ke jalan rumah kakeknya. Setelah yakin, ia pun langsung berlari kecil ke arah tempat yang mereka janjikan kemarin. Suasana desa mulai sepi, hanya sesekali terdengar suara ayam yang kembali ke kandang dan suara kentongan dari pos ronda.      

Tempat itu adalah lapangan kecil di samping masjid lama, dikelilingi pohon-pohon bambu yang tinggi menjulang, batangnya berderak pelan tertiup angin sore. Di sebelah lapangan berdiri bangunan kosong bekas gudang padi yang konon sudah lama tak dipakai. Di sudut lapangan, tak jauh dari pagar kawat yang sudah berkarat, tumbuh beberapa pohon pisang liar yang daunnya lebar dan bergoyang pelan tertiup angin. Daun-daun yang sobek menciptakan suara gemerisik aneh yang kadang terdengar seperti bisikan. Anak-anak sering menghindari area itu saat bermain, katanya tempat itu agak “angker”. Tapi sore itu, semangat bermain petak umpet membuat mereka seolah lupa pada cerita-cerita lama.    

Di situlah mereka biasa bermain petak umpet, dan kali ini pun mereka berniat melanjutkan. Saat Eni sampai di lapangan kecil itu, waktu sudah menunjukkan pukul setengah enam sore. Langit mulai berubah warna, memudar dari jingga keabu-abuan. Sudah banyak anak-anak kampung yang berkumpul di sana. Suara tawa dan canda mereka menyambut Eni yang datang sambil berlari kecil. Terlihat ada tujuh anak di sana. Empat anak Perempuan, Eni, Mila, Asih, dan Wiwik serta tiga anak laki-laki, yaitu Margo, Gio, dan Tusiran. Mereka duduk melingkar di rerumputan kering, sebagian masih bercanda sambil melempar batu kerikil kecil. Di balik tawa itu, tak satu pun dari mereka menyadari bahwa sore itu akan berbeda dari biasanya.    

Setelah semua berkumpul, Mila berseru riang, “Kita mulai ya, kayak kemarin, petak umpet biasa. Yang jaga pertama siapa?” 

“Aku aja dulu,” jawab Gio cepat sambil berdiri dan menutup mata dengan kedua tangannya, wajahnya menghadap batang pohon besar di tepi lapangan. Anak-anak lainnya langsung berpencar, berlarian mencari tempat sembunyi. Tawa dan langkah kaki terdengar bersahutan. Suasana masih terasa menyenangkan, seperti hari-hari sebelumnya.    

Eni berlari ke sisi paling pinggir lapangan, mendekati deretan pohon pisang yang tumbuh di belakang pagar kawat tua. Daun-daunnya bergerak pelan tertiup angin, sesekali bergesek dan mengeluarkan suara seperti kain yang disobek. Meski sedikit ragu, Eni tetap mendekat  ia tahu tempat itu jarang dipakai sembunyi, jadi kemungkinan besar Gio tak akan langsung menemukannya.    

Dia menyelip di balik salah satu batang pisang yang besar, agak jongkok agar tak terlihat. Dari tempatnya, suara anak-anak lain terdengar sayup, makin pelan. Angin sore bertiup lebih dingin dari biasanya. Eni memeluk lututnya, mencoba diam. Namun tiba-tiba… semuanya menjadi sangat hening. Tak ada lagi suara Gio menghitung. Tak terdengar langkah kaki. Bahkan daun-daun bambu pun seperti tak lagi bergoyang. Eni mengangkat kepala, mencoba mengintip dari sela daun pisang yang lebar. Tapi entah kenapa, sekelilingnya tampak sedikit berbeda. Seperti berkabut tipis. Ia berdiri pelan dan berjalan beberapa Langkah mencoba keluar dari semak itu. Tapi pohon-pohon pisang terasa lebih rapat, dan jalan yang tadi ia lewati tak lagi terlihat. “Ni… main yuk…” Sebuah suara berbisik, sangat dekat di telinganya. Tapi saat Eni menoleh, tak ada siapa pun di sana. Eni merasa penasaran. Suara itu aneh terdengar pelan, tapi seolah jelas di dekat telinganya. Ia menoleh ke kanan dan kiri, namun tak menemukan siapa pun. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat, tapi ada sesuatu dalam dirinya yang membuat langkah kakinya justru bergerak maju, lebih dekat ke tengah-tengah rumpun pohon pisang yang lebih lebat. Perlahan, ia menyibak daun-daun besar yang mulai lembap oleh embun sore. 

Suasana di sekitar semakin sepi. Cahaya matahari yang tadi masih menyelinap kini nyaris hilang, tertutup rindangnya daun-daun dan bayangan senja. “Bersembunyi sama aku… mereka nggak akan nemuin kita, Ni,” bisik suara itu lagi kali ini lebih jelas, seperti ada yang membisikkan tepat di belakang telinganya. Eni menoleh cepat. Kosong. Tidak ada siapa-siapa. Tapi anehnya, ia tidak merasa takut. Suara itu terasa… akrab. Hangat, bahkan sedikit mengajak. 

Kakinya melangkah sekali lagi, dan tanpa sadar, ia melewati batas rumpun pohon pisang yang tidak pernah ia masuki sebelumnya. Tempat itu terasa seperti ruang lain yang sunyi, tapi tidak sepenuhnya gelap. Udara di dalamnya terasa lebih dingin, dan napas Eni sedikit membeku. Ia mencoba memanggil, “Halo…? Mila? Gio?” Tapi tak ada jawaban. Hanya gema suara kecilnya sendiri, seolah-olah ruang di balik pohon pisang itu menelan suaranya hidup-hidup.    Eni berdiri diam di antara batang-batang pisang yang makin rapat. Kabut tipis menggantung di udara, seolah membentuk lapisan antara dunia nyata dan sesuatu yang lain. Tiba-tiba, dari balik kabut, muncul sosok makhluk yang bentuknya tak jelas. Tingginya tak seberapa, tapi tubuhnya tampak seperti bayangan yang bergerak lembut. Wajahnya samar, seperti terbungkus kain tipis yang melayang. Namun entah mengapa, Eni tahu… makhluk itu bisa membawanya pergi.    “Aku di sini… ayo ke sini,” ujar makhluk itu dengan suara berbisik, panjang dan seolah menggema dari dalam kepala Eni. Tapi meskipun samar, Eni merasa suara itu akrab. Hangat. Seperti suara teman lama.    Tanpa berpikir panjang, Eni melangkah mengikuti makhluk itu, berjalan perlahan menembus pepohonan. Ia tidak tahu ke mana arah tujuannya tapi tubuhnya terasa ringan, dan langkahnya seperti tidak menyentuh tanah. Dunia di sekitarnya perlahan menjadi buram, seakan lapangan, pohon bambu, dan suara teman-temannya lenyap perlahan ditelan kabut. Dari kejauhan, Asih yang bersembunyi di balik semak kecil melihat Eni. Gadis itu berjalan pelan ke arah belakang pohon pisang, namun Asih tak bisa melihat siapa yang ada di depannya. Ia hanya melihat Eni seperti sedang mengejar seseorang, atau… sesuatu.    “Asih,” bisik Mila dari balik pohon, “udah belum? Gio udah nemuin semua kecuali kamu!” Asih buru-buru berlari kecil ke arah Mila dan Gio yang sedang berdiri di tengah lapangan. Permainan petak umpet pun selesai. Saat itu azan magrib pun berkumandang dari masjid tua yang tak jauh dari situ. Gio berseru sambil menepuk tangannya, “Udah ya, magrib! Kita ke masjid dulu, takut dimarahin ibu.” Margo mengangguk, “Tapi… Eni mana?” Semua anak saling memandang. Tak ada yang melihat Eni kembali ke lapangan. Asih mengangkat tangan ragu. “Tadi aku liat Eni jalan ke belakang… kayaknya dia ke masjid duluan. Aku kira udah selesai main, jadi dia jalan sendiri.” “Ke masjid duluan?” tanya Mila. “Kok nggak bilang-bilang?” “Ya… mungkin buru-buru, takut dimarahin,” jawab Asih pelan. Karena hari makin gelap dan angin mulai bertiup lebih kencang, mereka pun memutuskan untuk segera ke masjid, dengan pikiran bahwa Eni sudah lebih dulu ke sana. Tak satu pun dari mereka tahu, bahwa Eni… tidak pernah sampai.    Di masjid, anak-anak mulai mengambil air wudhu. Beberapa sudah duduk rapi di barisan  pertama. Tapi dari sekian anak itu… tak ada Eni. Setyo datang bersama kakeknya. Matanya menatap ke seluruh penjuru, mencari sosok kakaknya. Tapi ia tak menemukannya. “Lho, mbakmu mana?” tanya sang kakek saat Setyo duduk di sampingnya. “Tadi katanya nyusul ke masjid…” jawab Setyo pelan, mulai bingung. Tak lama, ayah Eni datang juga ke masjid. Saat melihat Setyo sendirian, ia langsung mendekat. “Set, Eni mana?” Setyo mengangkat bahu. “Tadi Mbak Eni bilang mau nyusul ke masjid…” Ayahnya langsung berdiri. Perasaannya mulai tak enak. Ia bertanya ke beberapa anak lain. Mila, Asih, Gio, dan yang lain pun ikut bingung. “Pak… tadi Eni main petak umpet sama kita, tapi terus dia jalan sendiri gitu… kami kira udah ke masjid duluan…” ujar Asih pelan sambil menunduk. Pak Ustad yang mendengar percakapan itu ikut menengok. “Lho, jadi dari tadi Eni nggak di sini? Astaghfirullah…”    Malam itu, setelah salat magrib, suasana desa mulai tegang. Ayah Eni kembali ke rumah. Ibunya, yang sudah menyiapkan sayur lodeh kesukaan anak-anaknya, berdiri di dapur sambil menunggu mereka pulang. Wajahnya berubah pucat ketika suaminya datang dengan wajah panik. “Bu… Eni nggak ada di masjid.” “Apa? Lho, tadi dia pamit ngaji… terus ke masjid, kok bisa hilang?! Tanpa membuang waktu, ayah Eni segera mengajak beberapa tetangga untuk mencari. Anak-anak kampung ikut membantu menunjukkan tempat terakhir Eni terlihat. Warga menyisir lapangan, kebun bambu, hingga area belakang pohon pisang. Tapi hasilnya nihil. Asih, yang sejak tadi hanya diam, akhirnya ditanya langsung oleh ayah Eni. Ia menggigit bibirnya, lalu bicara dengan suara gemetar. “Tadi aku lihat Eni jalan ke arah pohon pisang, Pak… tapi dia kayak ngikutin seseorang… atau sesuatu… aku nggak yakin…” Wajah ayah Eni menegang. Beberapa warga mulai saling pandang, bisik-bisik pelan. Malam itu pencarian berlangsung sampai larut. Lentera minyak dan senter dinyalakan, nama Eni dipanggil berkali-kali. Tapi tak satu pun jejak ditemukan.    Hari kedua, pencarian masih berlanjut. Desa Wonoharjo mulai resah. Anak-anak dilarang bermain terlalu sore. Orang-orang tua mulai mengaitkan kejadian ini dengan hal-hal gaib. Desas-desus pun bermunculan. Hingga malam kedua, tak ada tanda-tanda.    Pada malam ketiga, datanglah seseorang ke rumah keluarga Eni. Seorang lelaki tua, berjubah lusuh, membawa tongkat dari akar kayu. Ia dikenal sebagai Mbah Darmo: orang pintar dari dusun seberang yang kadang dipanggil kalau ada hal-hal tak masuk akal. Setelah duduk di ruang tamu yang diterangi lampu minyak, Mbah Darmo berkata pelan sambil menunduk: “Anak panjenengan… dibawa makhluk dari alam lain. Genderuwo, dari pohon pisang itu. Saya bisa coba bantu… tapi kita harus sabar, dan jangan melawan secara kasar.” Wajah ibu Eni pucat, matanya mulai berkaca-kaca. Ayahnya mengangguk pelan. Tak ada pilihan lain. Dan tepat saat azan magrib berkumandang di hari ketiga, udara desa terasa lebih berat dari biasanya. Langit jingga kelabu menggantung rendah di atas rumah-rumah warga. Angin sore tiba-tiba berhenti, seolah dunia menahan napas.   Di rumah Eni, suasana masih muram. Beberapa warga berjaga di teras, duduk diam sambil menyeruput kopi pahit yang sudah dingin. Lampu minyak di dalam rumah berpendar lemah, menambah suasana sepi dan mencekam. Di dapur, ibunya Eni duduk diam di samping tungku yang sudah padam, wajahnya kaku, matanya sembab tak berkedip memandangi nasi yang tak tersentuh. Tiba-tiba “DUG! DUG! DUG!” Terdengar suara keras dari atap rumah. Seperti langkah kaki berat menghentak genteng. Warga langsung tersentak. Ayah Eni berdiri, diikuti beberapa lelaki desa yang berjaga di halaman. “Itu apa tadi?!” Semua mata menatap ke atas. Dan di sanalah dia… Eni.    Gadis kecil itu berdiri di ujung atap rumah. Tubuhnya ringkih, bajunya compang-camping dan basah. Rambutnya kusut menutupi sebagian wajahnya yang pucat pasi. Matanya kosong, memandang lurus ke depan, seolah tidak sadar ada puluhan pasang mata menatapnya. Lumpur mengering menempel di kakinya. Kuku tangannya tampak lebih panjang dari seharusnya, seperti tak disentuh manusia selama berhari-hari. Ibu Eni berteriak histeris, tangisnya pecah begitu melihat putrinya yang hilang berdiri di tempat tak masuk akal. “ENI!! YA ALLAH ENI!!”    Ayahnya cepat-cepat memanjat atap, meski genteng berderak tiap pijakan. Ia peluk putrinya dengan tangan gemetar. “Eni… astaghfirullah, Eni…” Eni tidak menangis. Tidak juga tersenyum. Ia hanya diam, memeluk ayahnya perlahan, lalu membisikkan satu kalimat nyaris tak terdengar: “Dia bilang aku nggak boleh pulang… tapi aku kangen ibu.” Warga yang mendengarnya saling pandang. Beberapa menunduk dan merapal doa dalam hati. Seorang nenek menutup mulutnya dengan tangan gemetar, dan dari kejauhan, Mbah Darmo yang berdiri dengan tongkatnya hanya mengangguk pelan. “Sudah, saatnya dia kembali.” katanya lirih. Malam itu, suasana desa hening seperti tanah yang sedang berkabung. Tapi juga ada kelegaan.  Eni kembali. Meski begitu… banyak yang masih belum terjawab.(*)

Oleh Elisabeth Jessica Arlita Sari