Di kaki sebuah bukit yang berselimut kabut tipis setiap pagi, berdirilah sebuah desa kecil bernama Pucung Luwuk. Konon, nama “Pucung Luwuk” berasal dari dua unsur alam yang dekat dengan kehidupan masyarakatnya. “Pucung” adalah sejenis pohon dengan buah berwarna hitam yang sering tumbuh liar di pinggir hutan atau pematang sawah. Buahnya pahit, namun diyakini punya khasiat menetralkan racun. Sedangkan “Luwuk” adalah sebutan untuk mata air yang dalam, jernih, namun sulit dijangkau karena tersembunyi di balik semak dan batu-batu besar.
Secara simbolik, para warga desa menafsirkan nama itu sebagai pertanda: desa ini menyimpan potensi dan kekuatan alamiah—baik dari segi sumber daya maupun spiritualitas—namun masih ‘tersembunyi’ dan ‘pahit’, seperti buah pucung dan air luwuk yang belum bisa dinikmati siapa pun dengan mudah.
Waktu terus berjalan, zaman berubah. Masyarakat Pucung Luwuk yang dulu hidup dengan sederhana, mulai membuka diri terhadap ilmu dan peradaban. Anak-anak muda mulai merantau, membawa pulang ilmu dan keterampilan. Pertanian berkembang, dan masyarakatnya mulai mengubah cara pandang: dari sekadar hidup seadanya menjadi ingin urip kang luwih mulya—hidup yang lebih mulia dan sejahtera.
Dalam musyawarah desa, muncul gagasan untuk mengganti nama desa, sebagai simbol perubahan nasib dan niat baru. Salah satu sesepuh desa, Mbah Kromo, berkata, “Jeneng iku donga. Pucung lan luwuk pancen bagian saka sejarah, nanging saiki awake dhewe wis metu saka ‘pahit’ lan ‘sembunyi’. Wis wayahe kita ndedonga urip sing mulyo. Sing tetep, sing lestari. Sidomulyo.”
Nama Sidomulyo dipilih karena dalam budaya Jawa, kata “Sido” berarti “jadi” atau “terwujud”, dan “Mulyo” berarti “kemuliaan”, “kemakmuran”, atau “keberkahan”. Secara filosofi, Sidomulyo adalah harapan agar desa ini bener-bener dadi panggonan sing mulya—tempat yang penuh berkah, damai, dan membawa kebaikan bagi siapa pun yang tinggal di dalamnya.
Perubahan nama ini diresmikan dengan ritual sedekah bumi dan doa bersama. Diiringi gamelan dan wayang kulit semalam suntuk, mereka memohon kepada leluhur dan Gusti Kang Murbeng Dumadi agar nama baru ini membawa berkah dan menghapus energi pahit dari masa lalu.
Kini, Desa Sidomulyo berdiri sebagai desa yang maju secara budaya dan spiritual. Nama lamanya tetap dikenang, tetapi sebagai bagian dari perjalanan—dari pucung yang pahit dan luwuk yang tersembunyi, menuju kehidupan yang mulia dan terang.
Perubahan nama dari Pucung Luwuk menjadi Sidomulyo bukan sekadar pergeseran identitas semata, melainkan sebuah proses transformasi spiritual dan sosial yang berakar dalam pada pandangan hidup masyarakat Jawa. Dalam budaya Jawa, nama bukan hanya sebutan, tetapi juga cerminan harapan, doa, dan arah masa depan. Pucung Luwuk mencerminkan masa lalu—masa yang penuh tantangan, kesederhanaan, dan ketahanan. Sedangkan Sidomulyo adalah wujud tekad baru—untuk menjadi desa yang lebih maju, sejahtera, dan mulia lahir batin.
Kini, nama Sidomulyo menjadi penanda bahwa desa tersebut telah tumbuh dari tempat yang tersembunyi menjadi tanah yang bersinar. Dari pahit menjadi manis, dari diam menjadi bergerak. Dari “pucung” dan “luwuk”, menjadi “sido” dan “mulyo”.
Semoga cerita ini menjadi pengingat bahwa di balik setiap nama, tersimpan makna; dan di balik setiap perubahan, terdapat sejarah dan harapan yang saling bersambung dalam harmoni budaya.(*)
Oleh Muhammad Laskar Adi Nugroho