Asal Mula Nama Desa Warungasem

Pada tahun 1828, di tengah gegap gempita Perang Diponegoro yang melanda Tanah Jawa, sebuah desa kecil di daerah Batang menjadi saksi dari kisah keberanian yang jarang diceritakan. Desa itu kelak dikenal dengan nama Warungasem. Tapi siapa sangka, nama itu lahir dari siasat cerdik yang berawal dari sebuah warung sederhana di masa perang.

Di bawah langit senja yang mulai memerah, Kyai Surgijatikusumo, seorang laskar kepercayaan Pangeran Diponegoro, datang berkunjung ke rumah sahabat lamanya, Kyai Tholabudin. Kyai Tholabudin, seorang ulama yang dihormati di Desa Masin, menyambutnya dengan hangat di serambi rumahnya. Angin sore bertiup perlahan, membawa aroma tanah basah sehabis hujan.

“Kyai Tholabudin,” kata Kyai Surgijatikusumo sambil menyesap teh hangat yang disediakan, “Belanda makin cerdik. Aku khawatir mereka segera mencium pergerakan kita di Batang ini.” 

Kyai Tholabudin mengangguk pelan, raut wajahnya serius. 

“Benar, Kyai. Sudah ada beberapa orang asing yang mondar-mandir di pasar. Kita harus lebih hati-hati. Kalau tidak, habis sudah perjuangan ini sebelum waktunya,” jawabnya, suaranya berat.

Diam-diam, malam itu mereka berdua menyusun siasat. Mereka sadar, untuk terus bergerak melawan penjajah, mereka butuh tempat bertukar kabar yang tidak mencolok.  

“Bagaimana kalau kita buat sebuah warung kecil?” usul Kyai Surgijatikusumo. “Tempat biasa, tampak seolah-olah hanya tempat orang singgah makan dan minum.”

“Tapi bagaimana kita mengenali sesama prajurit? Bagaimana supaya orang luar tidak curiga?” tanya Kyai Tholabudin sambil mengetuk-ngetuk cangkir tehnya, berpikir keras. 

Kyai Surgijatikusumo tersenyum kecil, lalu menunjuk ke halaman rumah yang rindang.  

“Kita tanami pohon asam jawa. Kita buat berjajar. Warung yang ditanami pohon asam itu akan menjadi sandi kita. Hanya mereka yang tahu ciri-cirinya yang bisa menggunakan tempat itu untuk bertukar kabar.”

Mata Kyai Tholabudin berbinar mendengar rencana itu.  “Bagus sekali, Kyai. Dan kita tambah satu sandi lagi. Rumah-rumah yang berpohon sawo berjajar, dengan sumur di belakang sebelah kiri, itu juga akan jadi tanda. Begitu mereka melihatnya, mereka tahu di mana kawan berada.”

Malam itu, di bawah cahaya pelita yang redup, kedua Kyai itu bersumpah akan menjaga sandi rahasia itu, demi perjuangan Pangeran Diponegoro. Esoknya, mereka mulai bekerja. Sebuah warung sederhana dibangun di tepi jalan utama desa, dan di sekitarnya ditanami pohon-pohon asam muda. Tak lama, tempat itu pun mulai ramai, tampak tak berbeda dari warung-warung biasa.

Hari-hari berjalan. Para telik sandi Pangeran Diponegoro keluar masuk warung itu. Mereka berpura-pura sebagai petani, pedagang, bahkan pengamen. Sambil memesan minuman atau sekadar beristirahat, mereka bertukar kabar, membawa berita penting tentang pergerakan musuh.  

“Aku bawa pesan dari selatan,” bisik seorang telik sandi muda pada penjaga warung suatu hari.  

“Ada pasukan Belanda yang akan masuk lewat Pekalongan. Kita harus bersiap.”  

Penjaga warung hanya mengangguk sambil menyajikan minuman, tak ada gerak-gerik mencurigakan sedikit pun. Pesan itu pun diam-diam diteruskan ke Kyai Surgijatikusumo dan Kyai Tholabudin.

Namun tentu saja, perjuangan tidak selalu mulus. Beberapa kali warung itu hampir ketahuan. Pernah suatu hari, seorang perwira Belanda mampir ke warung tersebut, mencurigai keramaian yang tidak biasa. Tapi dengan sigap, para penjaga warung mengalihkan perhatian. Mereka pura-pura sibuk mengobrol tentang panen dan harga hasil bumi, membuat sang perwira bosan dan pergi tanpa curiga.

“Ternyata pohon asam ini tak hanya memberi naungan, Kyai,” kata Kyai Tholabudin suatu malam sambil memandang warung dari kejauhan, “Tapi juga menyelamatkan banyak nyawa.”  

“Benar, Kyai,” jawab Kyai Surgijatikusumo, suaranya berat oleh rasa syukur. “Kadang perjuangan bukan hanya soal mengangkat senjata, tapi juga soal kecerdikan menjaga hidup.”

Waktu berlalu. Perang Diponegoro akhirnya berakhir, dengan luka dan duka yang mendalam. Tapi warung itu tetap berdiri. Orang-orang sekitar tetap mengenangnya, menyebutnya ‘WARUNG ASEM’  tempat di mana keberanian dan kecerdikan bersemayam.

Dan perlahan, nama itu melekat. Desa kecil di Batang itu pun disebut orang sebagai Warungasem. Kini, Warungasem telah tumbuh menjadi kecamatan yang ramai, dipenuhi geliat kehidupan baru. Tapi di balik hiruk pikuk itu, kisah tentang sebuah warung, beberapa pohon asam, dan perjuangan yang tak terlihat, tetap hidup, diceritakan dari mulut ke mulut, dari hati ke hati.(*)

Oleh Anjani Aprilia