Pada zaman dahulu, saat pulau Jawa masih dipenuhi hutan lebat dan kerajaan-kerajaan besar silih berganti, berdirilah Kesultanan Demak sebagai kerajaan Islam pertama di tanah Jawa. Tepatnya di sekitar abad ke-15 Masehi, Kesultanan Demak berkembang pesat, membawa ajaran Islam ke seluruh penjuru Jawa.
Pada masa itu, ada seorang tokoh besar, salah satu dari Wali Songo, yang bernama Sunan Kalijaga. Dia dikenal bukan hanya karena kesaktiannya, tetapi juga karena kebijaksanaannya dalam menyebarkan agama Islam dengan cara-cara yang halus dan penuh pengertian terhadap budaya setempat.
Suatu ketika, setelah runtuhnya kejayaan Kerajaan Majapahit, Sunan Kalijaga bersama para wali lainnya berencana memindahkan salah satu bangunan bersejarah, yaitu Pendapa Majapahit, untuk digunakan sebagai bagian dari Masjid Agung Demak.
Perjalanan panjang dari wilayah Majapahit menuju Demak pun dimulai. Rombongan besar ini membawa kayu-kayu besar bekas pendapa, melintasi hutan, sungai, dan bukit.
Namun, di tengah perjalanan, tepatnya di daerah yang kini dikenal sebagai Mrapen, Grobogan, Jawa Tengah, para rombongan merasa kelelahan. Matahari bersinar terik tanpa ampun. Keringat membasahi tubuh mereka, dan dahaga mulai menyerang.
Melihat kondisi ini, Sunan Kalijaga menghentikan perjalanan. Beliau memandang sekeliling dan di sekitar hanya tanah kering membentang sejauh mata memandang, tak ada tanda-tanda sumber air.
Dengan keyakinan penuh, Sunan Kalijaga lalu menancapkan tongkatnya ke tanah sambil berdoa memohon pertolongan kepada Tuhan.
Tak lama, sebuah keajaiban terjadi. Bukannya air, semburan api keluar dari tempat tongkat itu ditancapkan! Api kecil itu menyala dengan tenang, tidak berkobar besar, namun kuat dan tidak padam, bahkan meski diterpa angin.
Rombongan terkejut.
“Wahai Sunan,” salah satu pengikut bertanya dengan suara gemetar, “kami memohon air, namun yang muncul justru api. Apakah ini pertanda buruk?”
Sunan Kalijaga tersenyum tenang dan menjawab, ”Tidak, ini adalah pertanda kekuatan dan semangat. Seperti api ini, hendaklah semangat kita tak pernah padam dalam menyebarkan kebaikan, meski diterpa kesulitan.”
Semangat para pengikut pun kembali bangkit. Mereka melanjutkan perjalanan dengan penuh keikhlasan.
Setelah berjalan sedikit lebih jauh, Sunan Kalijaga kembali menancapkan tongkatnya. Kali ini, air jernih memancar dari tanah — tempat yang kini dikenal sebagai Sendang Dudo. Dengan air itu, mereka menghilangkan dahaga dan membersihkan diri sebelum melanjutkan perjalanan ke Demak.
Api yang pertama muncul itu tetap menyala hingga hari ini. Tempat itu kemudian disebut Api Abadi Mrapen, karena nyala apinya tidak pernah padam, meski diguyur hujan atau ditiup angin kencang.
Seiring waktu, Api Abadi Mrapen bukan hanya menjadi saksi bisu perjalanan sejarah penyebaran Islam di Jawa, tetapi juga digunakan dalam berbagai upacara penting: untuk menyalakan obor olahraga nasional seperti PON, SEA Games, hingga digunakan dalam prosesi suci Waisak umat Buddha.
Bagi masyarakat sekitar, Api Abadi Mrapen adalah warisan suci — simbol semangat, ketekunan, dan keberkahan dari masa lalu yang tak lekang oleh waktu.(*)
Oleh Arif Dwianto Adiarso