Tentang Desa Sendangguwo

Desa atau Kelurahan Sendangguwo adalah desa tempat tinggal saya dari kecil bahkan dari  saya lahir karena orang tua saya yang berasal dari kabupaten Blora merantau ke Semarang untuk mencari pekerjaan. Kelurahan Sendangguwo adalah sebuah kelurahan yang terletak di Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah. Berdasarkan pengalaman dan cerita yang pernah saya dengar di Kelurahan sendangguwo ini memiliki banyak sekali cerita mulai dari cerita sejarah atau asal usul, cerita tentang tempat-tempat bersejarah, hingga cerita horor yang ada.

Cerita asal mula penamaan kelurahan Sendangguwo ini memiliki makna historis dan karakteristik geografis yang mendalam, penamaan itu yang berasal dari bahasa Jawa. Nama Sendangguwo itu merupakan gabungan dari dua kata dalam bahasa Jawa yaitu ‘Sendang‘ yang berarti kubangan air atau mata air alami, dan ‘Guwo‘ yang memiliki arti gua dalam bahasa Indonesia. Penamaan ini tidak semata-mata hanya pemberian nama tanpa makna, melainkan memang terdapat sendang dan guwo yang ada di kelurahan ini.

Ada sebuah cerita yang melegenda di kelurahan sendangguwo yaitu dipercayai bahwa daerah ini pernah menjadi tempat singgah (petilasan agung) Sunan Kalijaga, tepat di punden Guwo. Bahkan hingga salah satu murid Sunan Kalijaga (Nyai Rebon) yang konon berasal dari Cirebon pun menetap, sampai beliau wafat dan dimakamkan di RT 01 RW 01, Kelurahan Sendangguwo.

Konon, kala tanah Jawa masih diselimuti rimbunnya pepohonan dan aliran sungai masih jernih berkilau, Raden Said atau yang biasa dikenal sebagai Sunan Kalijaga menginjakkan kakinya di sebuah dataran dengan mata air yang keluar dari celah gua kecil. Tempat inilah yang kini kita kenal sebagai Punden Guwo di Kelurahan Sendangguwo.

Bukan sekadar persinggahan biasa, tempat yang kini disebut Punden Guwo ini menjadi saksi bisu perjalanan spiritual sang Wali. Di tempat ini, Sunan Kalijaga konon menghabiskan waktu berhari-hari untuk bermeditasi dan menyusun strategi dakwah yang damai di tanah Jawa. Penduduk setempat menuturkan bahwa pada malam-malam tertentu, terutama di Jumat Kliwon atau wage, area Punden Guwo seolah diselimuti kabut tipis dengan aroma bunga melati yang menyeruak tanpa sebab.

“Petilasan ini bukan hanya bukti kehadiran beliau, tapi juga jejak spiritual yang ditinggalkan,” kata Mbah Parno, sebagai juru kunci Punden Guwo yang telah merawat tempat ini. Ia juga memberitahu bahwa “Setiap batu, setiap sudut tanah di sini, menyimpan energi spiritual yang bahkan hingga kini masih bisa dirasakan.”

Di dalam Punden Guwo juga terdapat batu yang memiliki cekungan atau warga sekitar sering menyebutnya dengan nama watu lumpang. Cekungan tersebut konon selalu berisi air jernih meski di musim kemarau panjang. Air ini dipercaya oleh masyarakat setempat memiliki khasiat penyembuhan, terutama untuk penyakit-penyakit yang sulit disembuhkan secara medis.

Di antara berbagai cerita yang ada di Punden Guwo, Kelurahan Sendangguwo, terdapat sebuah kisah yang hanya diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi. Kisah tentang seperangkat gamelan gaib yang konon merupakan peninggalan langsung dari Sunan Kalijaga, dapat “dipinjam” oleh masyarakat setempat melalui ritual-ritual khusus.

Gamelan ini bukanlah gamelan biasa. Namun, suara permainan gamelan yang lembut namun menembus sukma sering terdengar dari arah Punden Guwo pada malam-malam tertentu, terutama saat bulan purnama di bulan Suro. “Gamelan itu milik para penunggu Punden Guwo, para pengikut setia Sunan Kalijaga yang tetap menjaga tempat ini meski raga mereka telah tiada,” tutur Mbah Parno, juru kunci Punden Guwo. “Mereka adalah para seniman yang mendampingi Sunan Kalijaga dalam menyebarkan Islam melalui kesenian.”

Menurut Mbah Parno, dahulu konon gamelan gaib ini dapat “dipinjam” oleh masyarakat sekitar untuk keperluan tertentu, terutama acara-acara sakral seperti ruwatan desa, pernikahan keturunan, atau upacara-upacara lainnya. Namun, proses peminjaman ini tidaklah mudah dan harus melalui ritual khusus. Mbah Parno juga menceritakan bahwa dahulu terdapat orang yang meminjam gamelan gaib tersebut tetapi memiliki rencana yang buruk dengan menukar salah satu alat musik dalam gamelan itu dengan miliknya. Yang kemudian orang tersebut mendapat getah dari perbuatannya tersebut  yaitu menderita sakit yang tidak dapat diketahui secara medis.

Terdapat pula tradisi yang terus dilaksanakan di punden guwo tersebut yaitu adanya kegiatan pertunjukan wayang yang pasti diadakan setiap tahunnya di area punden guwo. Untuk waktu pelaksanaan kegiatan pertunjukan wayang tersebut dilaksanakan malam hari ketika bulan suro. Dan acara tersebut menarik perhatian masyarakat sekitar yang menjadikan pertunjukan wayang tersebut sebagai hiburan. Acara tersebut juga telah didukung oleh pemerintah kelurahan sendangguwo sehingga acara tersebut bisa terlaksana dengan meriah.(*)

Oleh Aandika Dwi Navianto