Bali memiliki beraneka ragam keunikan budaya yang tertanam dalam diri masing-masing individu. Hal ini juga menjadikan Bali sebagai daya Tarik wisatawan domestik maupun mancanegara. Kehidupan masyarakatnya yang rukun dan masih memegang erat tradisi, adat istiadat, dan nilai-nilai kearifan lokal. Mayoritas penduduk Bali menganut agama Hindu, sehingga pulau ini kaya akan ritual keagamaan dan perayaan seperti contohnya Galungan. Hari raya ini diperingati dengan menangnya dharma terhadap adharma. Namun, sebelum memperingati kemenangan diadakan tradisi Penampahan yang sangat kental di setiap keluarga hingga menyatukan sanak saudara.
Pada hari Penampahan suasana di Bali terasa berbeda dari biasanya. Sejak pagi hari, para keluarga dekat seperti nenek, kakek, tante, paman, kedua orang tua saya dan saudara saya berkumpul untuk melakukan tradisi Penampahan ini. Ibu saya yang mulai sibuk dengan persiapan bumbu-bumbunya, lelaki yang bersiap untuk nampah ayam dan babinya. Bau dari aroma masakan menjadi pertanda telah dimulainya Penampahan Galungan. Penampahan menurut keluarga saya bukan hanya sekedar hari untuk nampah atau memasak hewan saja. Namun tradisi ini memiliki makna filosofis yaitu mempersatukan keluarga kami, menjadi simbol pertarungan spiritual untuk melawan sifat buruk manusia, seperti amarah, keserakahan, dan kemalasan.
Tradisi sehari sebelum hari raya Galungan umat Hindu di bali biasanya meniapkan tradisi Penampahan yang dilakukan dengan nampah (memotong hewan) seperti babi, ayam, dan itik untuk merayakan hari raya Galungan. Sebelum melakukan Penampahan biasanya dilakukan natab sesayut untuk mengingatkan umat Hindu agar membangun kekuatan diri atau dalam Hindu disebut wiweka yajna untuk mampu membedakan yang benar dan mana yang salah, mana yang baik mana yang buruk, mana yang patut mana yang tidak patut. Dengan begitu kita dapat terhindar dari kesalahan yang membuat kehidupan kita adharma yaitu kejahatan. Nampah babi dan ayam tersebut memiliki arti yaitu sebagai simbol memotong sifat serakah dan suka bertengkar seperti sifat ayam dan sifat malas seperti babi.
Dalam tengah persiapan Penampahan saya memiliki kesempatan dalam berbincang dengan tetangga saya Tania, yang tengah menyapu halaman luar. “Bagi aku pribadi, Penampahan Galungan ini bukan sekadar tradisi sehari sebelum Galungan,” ujarnya sambil tersenyum.
“Ritual ini punya makna filosofis yang dalam. Kita diajak untuk menyucikan diri dan menghilangkan sifat-sifat negatif, seperti kemalasan, keserakahan, atau suka bertengkar. Penampahan juga jadi momen untuk mempersiapkan diri secara spiritual sebelum merayakan Galungan.”
Lalu saya memperhatikan halaman luar miliknya yang sangat bersih dan asri. “Kalau di keluarga kamu sendiri, bagaimana biasanya merayakan Penampahan?” tanya saya.
Tania mengangguk, lalu menjawab, “Hampir sama dengan keluarga lain di Bali. Kami melaksanakan mebat, ngelawar, bikin sate, dan sebagainya. Tidak ada kegiatan khusus,
semuanya dilakukan bersama-sama, saling membantu.” Ia lalu menoleh ke arah keluarganya yang sedang tertawa bersama.
“Menurut saya, Penampahan ini sangat mempererat hubungan antar keluarga. Kita jadi berkumpul, bercengkrama, dan bekerja sama. Selain itu, dengan masih menjalankan tradisi ini di zaman sekarang, secara tidak langsung kita juga ikut menjaga warisan budaya Bali agar tetap lestari,” tutupnya dengan bangga.
Setelah dilakukannya pemotongan daging terdapat kegiatan memasak makanan secara bersama sama yang dinamakan “Mebat” makanan khas yang dibuat antara lain lawar, sate babi, be balung, dan tum. Pasti kalian tidak familiar dengan be balung dan tum, be balung adalah balung babi yang dimasak dengan kuah rempah kuning bali sedangkan tum merupakan makanan yang mirip pepes biasanya dibuat dengan daging babi atau ayam. Dari sini juga kitab isa mengetahui bahwasanya selain melestarikan budaya umat bali juga memliliki keterampilan memasak yang luar biasa. Mebat juga menjadi momen penting untuk mempererat kebersamaan keluarga dan komunitas melalui aktivitas masak dan makan bersama, serta menjaga tradisi Bali agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
Pada saat Penampahan terdapat mitos yang saya dengar dari orang orang sekitar kita. Hari Penampahan turun Sang Kala Tiga yaitu Sang Bhuta Galungan, Sang Bhuta Dungulan dan Sang Bhuta Amangkurat. Sang Kala Tiga selalu menggoda iman umat Hindu, yang sedang mempersiapkan diri untuk melakukan hari raya Galungan. Sosok mitologis yang menggoda manusia agar gagal merayakan upacara Galungan. Maka dari itu umat Hindu harus menjaga diri dari sifat negative seperti marah, dengki, dan kesombongan. Dalam upacara Penampahan juga memberikan daging di merajan atau yang dikenal dengan tempat persembahyangan umat Hindu di rumah, agar Sang Bhuta Tiga tidak menggoda dan Kembali kealamnya. Maka dari itu juga umat Hindu percaya bahwa kehidupan di masa ini kita berdampingan antara manusia, alam, dan dunia gaib yaitu makhluk halus. Kehidupan Hindu juga mengajarkan hidup berdampingan dengan saling menghormati makhluk dunia bawah melalui upacara adat dan ritual untuk menjaga keseimbangan.
Tradisi Penampahan sehari sebelum Hari Raya Galungan di Bali bukan sekadar ritual memasak dan memotong hewan, tetapi memiliki makna filosofis yang mendalam. Penampahan melambangkan upaya membersihkan diri dari sifat-sifat negatif seperti kemalasan, keserakahan, dan pertengkaran, sekaligus mempererat hubungan kekeluargaan melalui gotong royong dalam memasak (mebat) dan berkumpul bersama. Tradisi ini juga mencerminkan kepercayaan umat Hindu Bali akan hidup berdampingan secara harmonis antara manusia, alam, dan dunia gaib, dengan tujuan menjaga keseimbangan spiritual dan budaya. Melalui Penampahan, umat Hindu mempersiapkan diri secara lahir dan batin untuk menyambut kemenangan Dharma atas Adharma pada hari Galungan, sekaligus melestarikan warisan budaya Bali yang kaya dan bermakna. Penampahan menjadi pengingat bahwa kemenangan Dharma hanya bisa diraih dengan mengalahkan sifat buruk dalam diri sendiri.(*)