Awal yang Menakutkan, Akhir yang Menghangatkan.

Oleh Chelsea Oktavia Marbun

Waktu pertama kali masuk SMP kelas VII di salah satu kota asalku, yaitu Bekasi, jujur, aku merasa campur aduk banget. Di satu sisi aku senang karena akhirnya masuk ke lingkungan baru dan memulai fase baru dalam hidup, tapi di sisi lain ada rasa takut yang cukup besar. Pengalaman waktu SD masih sangat membekas di pikiranku, terutama saat aku pindah sekolah karena pekerjaan ayahku. Awalnya semuanya terasa baik-baik saja, teman-teman terlihat ramah dan aku sempat merasa nyaman. Tapi lama-kelamaan aku justru dijauhi dan ternyata ada beberapa orang yang menjelek-jelekkan aku. Dari situ aku mulai merasa takut untuk berteman lagi dan jadi tidak percaya diri saat harus beradaptasi di lingkungan baru.

Karena pengalaman itu, saat hari pertama masuk SMP aku sudah menyiapkan diri untuk kemungkinan terburuk. Aku merasa mungkin aku akan kesulitan mendapatkan teman atau bahkan diabaikan. Aku tidak terlalu berharap banyak dan lebih memilih untuk melihat situasi terlebih dahulu. Tapi ternyata, semua yang aku khawatirkan tidak terjadi. Justru teman-teman di kelasku sangat welcome dan bersikap baik kepadaku. Mereka menyapaku lebih dulu, mengajakku ngobrol, dan membuatku merasa diterima sejak awal.

Seiring berjalannya waktu, aku mulai merasa lebih nyaman berada di kelas itu. Aku perlahan berani membuka diri dan ikut berbaur dengan teman-teman. Kami sering bercanda bersama, tertawa karena hal-hal sederhana, dan menikmati waktu di kelas dengan suasana yang hangat. Dari situ aku mulai merasa bahwa aku tidak sendirian dan kekhawatiran yang dulu aku rasakan perlahan mulai hilang.

Kelas kami saat itu bisa dibilang sangat kompak. Kami bukan tipe kelas yang sering membuat masalah atau melanggar aturan. Justru kami dikenal cukup tertib dan saling menghargai satu sama lain. Kalau ada teman yang kesulitan, pasti ada yang membantu. Kalau ada yang sedang sedih, yang lain akan berusaha menghibur. Kebersamaan itu terasa sangat kuat dan membuatku merasa nyaman berada di lingkungan tersebut.

Di antara semua teman di kelas, aku memiliki lima teman yang sangat dekat denganku. Kami memiliki circle yang hampir selalu bersama dalam berbagai kegiatan. Kami sering menghabiskan waktu bersama setelah pelajaran selesai, seperti pergi ke kantin, duduk bersama sambil bercerita, sekadar bercanda, ataupun setelah pulang sekolah kami bermain bersama. Hal-hal sederhana seperti itu justru menjadi momen yang paling berkesan bagiku.

Kami juga sering merayakan ulang tahun satu sama lain. Biasanya kami menyiapkan kejutan sederhana, seperti datang ke rumah teman yang berulang tahun dan membawa kue yang kami beli dengan hasil patungan dari uang jajan. Momen tersebut selalu dipenuhi dengan kebahagiaan dan tawa. Dari pengalaman itu, aku benar-benar merasakan arti pertemanan yang hangat dan tulus.

Namun, semua mulai berubah ketika kami naik ke kelas VII. Kami tidak lagi berada di kelas yang sama karena dibagi ke dalam kelas yang berbeda-beda. Rasanya cukup aneh dan sedih harus berpisah dengan teman-teman yang sebelumnya selalu bersama setiap hari. Dari semua teman kelas VII, hanya satu orang yang sekelas denganku saat itu, dan dia adalah orang yang dulu sempat aku hindari.

Dulu aku memiliki pandangan yang kurang baik tentangnya karena mendengar bahwa pergaulannya cukup bebas untuk ukuran anak SMP. Karena itu, saat kelas VII aku jarang berinteraksi dengannya dan cenderung menjaga jarak. Aku merasa perlu memilih teman dengan hati-hati agar tidak terpengaruh hal-hal yang tidak baik.

Namun, keadaan di kelas VIII membuatku akhirnya mencoba untuk berteman dengannya. Kami mulai duduk bersama dan perlahan saling mengenal. Awalnya memang terasa canggung, tapi seiring waktu aku mulai merasa nyaman. Ternyata dia adalah sosok yang baik dan menyenangkan untuk diajak berteman.

Dia sering mendengarkan ceritaku dan bersikap perhatian, bahkan kadang tanpa diduga dia mentraktirku. Dari situ pandanganku mulai berubah. Meskipun dia memiliki pergaulan yang cukup bebas di luar sekolah, dia tidak pernah mempengaruhiku untuk ikut dalam lingkungannya. Aku jadi belajar bahwa tidak semua hal yang kita dengar tentang seseorang itu sepenuhnya benar.

Di sisi lain, suasana kelas VIII terasa sangat berbeda dibandingkan dengan kelas VII. Kelasnya tidak sekompak dulu, bahkan cenderung lebih sering terjadi masalah. Banyak siswa yang berandal dan sering berurusan dengan BK. Aku merasa kurang nyaman berada di lingkungan tersebut. Sementara itu, circle-ku dari kelas VII juga mulai merenggang karena kami sudah memiliki lingkungan masing-masing. Mereka terlihat menikmati pertemanan baru mereka, sedangkan aku masih berusaha beradaptasi. Saat-saat itu aku cukup sedih untuk menerima semua realita yang ada.

Walaupun begitu, masa SMP tetap menjadi salah satu fase paling berkesan dalam hidupku. Dari sana aku belajar banyak hal tentang pertemanan, tentang kepercayaan, dan tentang bagaimana menerima orang tanpa prasangka. Aku juga merasakan bagaimana rasanya kehilangan kedekatan dengan teman dan bagaimana keadaan bisa berubah begitu cepat. Ditambah lagi, datangnya Covid-19 saat itu seperti memutus masa remajaku secara tiba-tiba, membuat semuanya terasa berhenti tanpa penutup yang jelas. Sekarang, saat aku sudah kuliah, aku sering merindukan masa-masa itu. Semua tawa, kebersamaan, dan cerita yang pernah aku jalani. Aku juga sering bertanya-tanya bagaimana kabar temen-temen SMP-ku sekarang, walaupun kenyataannya kami sudah lost contact dan hanya saling mengikuti di Instagram. Tapi satu hal yang pasti, semua kenangan itu akan selalu aku simpan, karena dari situlah aku pernah merasa benar-benar punya tempat dan arti dalam sebuah pertemanan.(*)