Oleh Claudia Amelia Reva
Museum Mandala Bhakti merupakan museum yang menyimpan bukti-bukti perjuangan bangsa saat melawan penjajah. Museum ini menyimpan berbagai benda yang digunakan dalam masa peperangan. Di dalamnya terdapat benda-benda bersejarah yang dikelompokkan sesuai dengan kejadian peristiwa seperti peristiwa Pertempuran Lima Hari di Semarang dan Gerakan 30 September.
Siapa yang tidak kenal dengan Museum Mandala Bhakti yang berdiri di pusat kota Semarang , tidak jauh dari Kawasan Tugu Muda. Setiap sudut museum menghadirkan kisah heroik yang membuat pengunjung seolah kembali ke masa lalu. Susana di dalam museum terasa tenang dan penuh makna yang membuat pengunjung datang bukan hanya untuk melihat koleksi, tetapi juga untuk merenungkan jasa para pahlawan.
Museum ini bukan sekadar tempat wisata, melainkan ruang belajar sejarah yang mengajarkan pentingnya cinta tanah air dan menghargai perjuangan bangsa. Museum Mandala Bhakti ini sering menjadi tujuan edukasi bagi pelajar yang ingin mengenal sejarah lebih dekat dan lebih tahu akan segala isi di dalamnya. Sebagai contoh, saat saya SMA mendapat tugas untuk mengunjungi tempat bersejarah yang ada di Semarang, dan saya memilih Museum Mandala Bhakti. Selain lokasinya berada di tengah pusat kota, museum ini tidak dipungut biaya bagi pelajar seperti saya. Ini sangat berharga.
Mengingat suatu waktu saat saya mendapatkan tugas tersebut, saya masih duduk di bangku SMA kelas 12. Pada suatu kesempatan di hari Jumat, tanggal 10 November 2024, saya dan teman saya berempat mengunjungi museum tersebut pada pukul 15.30 setelah pulang dari Pramuka. Di saat sampai di lokasi tersebut, saya bertemu dengan seorang tentara yang gagah, tinggi, tegap menghampiri rombongan saya dan menanyakan maksud dan tujuan kemari. Karena waktu sudah tidak memungkinkan untuk masuk ke dalam ruangan yang tepatnya di lantai 2, tentara tersebut menyarankan untuk kembali lagi besok karena lorong yang akan ditempuh akan memakan waktu yang begitu lama. Tetapi beliau mengizinkan untuk melihat sekitar lantai 2, tetapi tidak boleh memasuki lorong yang gelap, akses utama untuk memasuki benda-benda bersejarah tersebut, karena waktu menunjukkan hampir magrib.
Hari berikutnya, saya dan teman saya berempat kembali mengunjungi museum tersebut di hari Sabtu saat libur sekolah, tentunya di pagi hari, agar kelompok saya dapat mengeksplor lebih dalam tanpa terburu-buru oleh waktu. Di sampainya di lokasi, saya izin kepada penjaga untuk mendokumentasikan area sekitar dan izin untuk mewawancarai. Wawancara selesai, saya lanjut menelusuri isi di dalam museum ini.
Sebahannya tiba di lantai 2, disambutlah dengan lorong yang panjang, gelap, sungguh terkesan menyeramkan, membuat bulu kuduk merinding, ditambah instrumen musik yang menambah kesan semakin tergambar vibes sangat horor. Gedung ini dibangun pada tahun 1930-an pada era Hindia Belanda yang dulunya bernama Radvan Justity atau Pengadilan Tinggi Kolonial.
Setelah Indonesia merdeka, gedung ini berubah fungsi menjadi Markas Tentara Indonesia atau TNI, lalu akhirnya dibuka menjadi Museum Mandala Bhakti yang di dalamnya digunakan untuk menyimpan perjalanan panjang TNI sejak revolusi fisik hingga masa modern. Di dalamnya dapat dijumpai lukisan yang menggambarkan era kolonial.
Setelah melewati lorong yang panjang itu, saya berjumpa sebuah biografi yang ditulis oleh bangsawan Jawa, pahlawan nasional juga ulama, yaitu Pangeran Diponegoro yang berasal dari Yogyakarta. Tak hanya biografi saja yang ditemui di ruangan Pangeran Diponegoro ini, tetapi juga replika meja kursi, panel meja kaca, pedang tombak, lemari koleksi kaca, serta replika jubah dan replika Al-Qur’an menggambarkan kalau masa era kolonial dulu sangat kental.
Memasuki ruangan kedua, yaitu ruangan Pangeran Diponegoro yang isinya senjata tradisional prajurit Pangeran Diponegoro, tak hanya senjata atau pedang, tetapi juga ada tasbih, jimat, dan kitab Stambul-nya. Di ruang ketiga masih ada silsilah keluarga dan masih banyak barang peninggalan lainnya yang sangat dijaga kelestarian peninggalan-peninggalan pada zaman kolonial hingga sekarang untuk mengingat perjuangan para pahlawan. Selain lukisan para pejuang dan senjata yang digunakan pribumi pada saat itu, replika tersebut masih ada yang asli. Selanjutnya, memasuki ruangan studio pertempuran 5 hari di Semarang.
Setelah melewati banyaknya peninggalan bersejarah, seperti senjata, perlengkapan militer, berbagai jenis senjata tradisional hingga modern, contohnya senapan dan pistol, diorama yang menggambarkan pertempuran penting membantu pengunjung memahami suasana perang secara visual, ruangan peristiwa, ruang penugasan ,foto dan dokumentasi. Sejarah mengabadikan momen perjuangan tokoh pahlawan di kegiatan militer pada masa lalu, peta dan strategi perang guna mempertahankan kemerdekaan, koleksi tanda jasa dan penghargaan yang diberikan kepada para pahlawan dan prajurit. Memasuki ruangan selanjutnya, yaitu ruangan G30/S, dapat dilihat foto-foto jenderal yang dibunuh dan dimasukkan ke dalam lubang buaya yang terpampang jelas di dinding. Terdapat replika meja kursi tamu yang digunakan oleh Letnan Kolonel Ahmad Yani saat menjabat sebagai komandan.
Memasuki bagian terakhir yang paling terkesan, aura mistis, horor, lembap, tidak karuan, yaitu saat memandang para pemakaian seragam yang dulunya dikenakan berkesan seperti hidup. Tidak hanya pakaian bersih saja, tetapi juga terdapat pakaian pejuang yang berbekas darah saat perang, yang terasa membawa kita ke era itu. Ada koleksi seragam TNI dari masa ke masa yang menunjukkan perkembangan pakaian militer serta identitas pasukan pada zamannya. Di ruang tersebut, penutupan terakhir, ada alat komunikasi seperti radio dan telepon yang masih belum secanggih sekarang, serta alat musik seperti terompet dari generasi ke generasi.
Cuplikan yang bisa saya dan teman-teman lihat saat pertama kali melangkahkan kaki ke dalam Museum Mandala Bhakti membuat hati saya seketika dipenuhi rasa takjub yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Setiap sudut ruangan seolah bercerita, menghadirkan kembali jejak perjuangan para pahlawan yang begitu luar biasa. Saya dan teman-teman terdiam, menatap setiap foto seragam dan peninggalan bersejarah dengan perasaan haru dan bangga.
Di dalam keheningan museum, hanya kami berempat benar-benar merasakan betapa besar pengorbanan mereka demi kemerdekaan bangsa. Rasa kagum bercampur hormat menyelimuti diri saya, seolah waktu berhenti sejenak untuk memberi ruang merenungi arti perjuangan yang sesungguhnya. Saya merasa kecil di hadapan keberanian dan ketulusan para pahlawan, namun sekaligus tersadar berharganya kemerdekaan yang kini bisa saya nikmati.
Pengalaman itu bukan sekadar kunjungan penelusuran tugas sekolah semata, melainkan momen yang membekas di hati, membangkitkan rasa cinta tanah air dan tekad untuk menghargai setiap tetes perjuangan yang telah mereka berikan.(*)