Oleh Bangkit Hudan Nasukha
“Goblok!” teriak seorang gadis muda yang sedang gelisah meratapi nasibnya di tepi jalan. Aku mendengar teriakan tersebut lalu menghampiri gadis itu dan menanyakan keadaannya.
“Mbak, mbak, tidak apa-apa?” ucapku.
Gadis itu hanya menundukkan kepalanya dan enggan menjawab pertanyaanku. Lalu aku berusaha membujuknya untuk bercerita, namun usahaku tidak berhasil. Aku berkata lagi, “Sudah, Mbak. Kalau ada masalah, cerita saja. Aku siap mendengarkan kok. Kalau Mbaknya malu, bisa chat nomor WhatsApp-ku saja.”
Aku mengambil secarik kertas, menulis nomor WhatsApp, lalu memberikannya kepada gadis itu. Ia menerimanya dengan mengangguk lesu.
Beberapa hari kemudian muncul notifikasi dari nomor asing di WhatsApp dengan pesan, “Hai, Mas. Aku yang waktu itu sedih.”
Aku segera membalas pesan itu dengan cepat. “Ah iya, Kak, aku ingat. Ngomong-ngomong, namaku Alex. Kakak bisa kupanggil siapa?”
Gadis itu pun menjawab, “Baik. Mas Alex bisa panggil aku Aca. Ngomong-ngomong soal kemarin, aku mau cerita, tapi jangan lewat chat, Mas. Aku takut kalau ketahuan.”
Aku pun mengajaknya bertemu di kafe, dan Aca setuju. Sesampainya di kafe, aku tidak menemukan gadis tersebut. Aku membuka ponsel dan muncul notifikasi, “Mas Alex, maaf aku terlambat. Tadi aku terkena macet di jalan.”
Aku menjawab, “Oke, tidak apa-apa kok. Aku juga baru sampai.”
Sembari menunggu Aca, aku mencari tempat duduk dan memesan secangkir kopi. Setelah sekitar 15 menit menunggu, tibalah Aca dengan rambut dan bajunya sedikit berantakan. Aku pun heran. Apa yang sebenarnya terjadi pada Aca?
“Eh, Aca, kamu kenapa? Sini duduk dulu,” kataku sambil mempersilakannya duduk.
Aca pun duduk lalu menjawab, “Tidak apa-apa kok, Mas. Tadi aku cuma buru-buru.”
Aku membalas, “Oh, begitu. Ngomong-ngomong, jangan panggil Mas dong. Panggil aku Alex saja.”
Aca mengangguk. “Baik, Lex. Jadi begini, aku langsung saja cerita ya.”
Aku mengangguk dan mendengarkan ceritanya dengan cermat. Ternyata gadis itu memiliki masalah yang sangat serius. Ibunya selingkuh dengan seorang duda kaya dan memiliki banyak utang. Ayahnya juga sakit-sakitan. Sekarang Aca dikejar-kejar oleh rentenir.
“Oh begitu. Sabar ya, Ca. Mau aku bantu tidak supaya kamu bisa bebas dulu dari rentenir? Tapi aku hanya bisa memberimu sedikit uang,” ucapku.
Karena Aca sangat membutuhkan bantuan, ia pun terpaksa menerimanya.
“Terima kasih ya, Lex. Aku akan secepatnya mengganti,” katanya.
“Sudah, tidak apa-apa, Ca. Ambil saja dulu. Ngomong-ngomong, habis ini kita jalan-jalan yuk?” ajakku.
Aca mengangguk dan menerima ajakanku.
Lalu aku mengajak Aca ke sebuah bangunan tua bekas peninggalan penjajahan Belanda dan Jepang. Orang-orang sekarang menyebutnya “Lawang Sewu” karena bangunan tersebut memiliki sangat banyak pintu. Konon bangunan tersebut dulu dijadikan kantor administrasi oleh Belanda lalu, dijadikan penjara oleh Jepang untuk pribumi
“Eh, Ca, kita ke situ saja yuk? Kamu pernah ke sana belum?” tanyaku.
Aca mengangguk. “Jujur aku belum pernah ke sana, Lex. Tapi boleh deh.”
Kami pun mengeksplorasi bangunan tersebut dan melihat banyak sekali barang-barang kuno yang dimuseumkan di sana.
Hingga akhirnya malam pun tiba. Setelah selesai berkeliling, aku mengajak Aca segera pulang.
“Eh, Ca, rumahmu di mana? Aku antar sekalian yuk,” kataku.
Aca terlihat agak tidak enak. Ia menjawab, “Memangnya tidak apa-apa? Aku sudah banyak merepotkan kamu, Lex. Tidak apa-apa, aku pulang sendiri saja.”
Melihat Aca merasa tidak enak, aku tetap menawarkan untuk mengantarnya pulang.
“Sudah tidak apa-apa, Ca. Lagian ini sudah malam juga. Btw rumahmu di mana?” ucapku.
“Sebenarnya aku bukan asli sini, Lex. Aku tinggal di kos sendiri,” jawab Aca.
“Oh begitu. Ya sudah, ayo Ca, aku antar ke kosmu.”
Aku pun mengantarkan Aca pulang. Setelah sampai di tempat tinggalnya, Aca turun dari motorku dengan hati-hati.
“Terima kasih, Lex, sudah mengantarkan aku,” ucap Aca.
“Sama-sama, Ca. Ya sudah, aku langsung pulang ya,” kataku.
Aca mengangguk. “Hati-hati ya, Lex.”
Aku langsung menancapkan gas untuk pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, aku mandi lalu memberi kabar kepada Aca bahwa aku sudah sampai. Aku mulai mengantuk. Saat hendak tidur, terdengar suara notifikasi di ponselku. Ternyata ada pesan dari seseorang yang misterius.
“Lex, bagaimana? Sudah tahu lokasi Aca tinggal?”
Aku menjawab pesan tersebut, “Sudah, Bos. Rencana selanjutnya bagaimana?”
“Tugasmu sudah selesai. Cepat bagikan lokasi tempat tinggal Aca,” ucap orang misterius tersebut.
Aku pun membagikannya.
Menunjukkan waktu sudah tengah malam, Aca terbangun karena merasa lapar.
“Aduh, lapar. Jam segini ada makanan apa ya? Coba aku cek keluar,” pikir Aca.
Ia pun keluar dari tempat tinggalnya. Saat melewati lorong yang sunyi, tanpa sadar Aca tidak melihat ada seorang pria bertubuh tinggi yang mengikutinya dari belakang.
Lalu pria tersebut menusuk Aca dari belakang.(*)