Pekalongan Tak Selalu tentang Batik

Oleh Ahmadinejad Sofiaji Majiid

Sebagai seseorang yang lahir dan besar di Pekalongan, sering saya merasa bosan bila seseorang lagi-lagi menyahut tentang batik saat saya menyebut bahwa saya berasal dari Pekalongan. Terlebih lagi, saya lahir dan besar di Kabupaten Pekalongan, yang bisa dibilang berbeda dengan Kota Pekalongan. Saya yakin tak hanya saya yang merasa demikian.

Jika Kota Pekalongan memang sudah harum namanya karena batik, Kabupaten Pekalongan memiliki julukan sebagai Kota Santri saking banyaknya pesantren di dalamnya. Meski namanya tak terlalu tersohor seperti Kota Pekalongan dengan batiknya, Kabupaten Pekalongan memiliki banyak daya tariknya tersendiri.

Dalam tulisan ini, akan saya bawa Anda sekalian mengikuti beberapa pengalaman saya di tanah kelahiran saya yang menurut saya memiliki jejak arti tersendiri dalam hati saya. Walau agaknya saya adalah anak rumahan—dalam arti saya jarang pergi menjelajah, bahkan hanya untuk keluar rumah saja—tetapi setidaknya saya memiliki beberapa pengalaman untuk dibagikan. 

Cerita ini akan saya mulai dengan makanan. Sebagaimana kita memulai hari dengan makanan, elok pulalah jika saya memulai cerita ini dengan makanan. Selepas berolahraga di pagi hari, masyarakat Pekalongan—baik masyarakat kota maupun kabupaten—sudah tak asing lagi dengan menyantap hidangan yang bernama sego megono.

Hampir setiap pagi, saya selalu menyantap hidangan ini sebagai bahan bakar tubuh untuk memulai hari. Sampai-sampai, hampir bosan saya jika berhadapan dengan hidangan ini—dalam artian saya masih bisa dan mau untuk menyantapnya, walau jika terdapat hidangan lain, maka akan saya santap hidangan lain itu. Inilah yang membuat sego megono membekas di benak saya, hingga saya yang sekarang singgah di kota lain ini terkadang merasa rindu hati untuk menyantapnya. Sego megono  adalah  sebuah makanan ciri khas Pekalongan berupa nasi yang dicampur dengan megono, cacahan buah nangka muda yang dimasak dengan kecap dan bumbu-bumbu lain. Sego megono ini amatlah terkemuka. Bahkan bila berkesempatan, Anda sekalian akan menemukan warung sego megono di kota lain. Di Pekalongan sendiri, mungkin tak terhitung lagi jumlah warung yang menjual sego megono. Bahkan di Alun-alun Kajen, berdampingan dengan warung-warung tersebut menjual barang yang sama, sego megono. Selain untuk sarapan, sego megono ini kerap disantap sebagai makan malam. Anda sekalian akan menemukan banyak pula warung-warung sego megono di gelapnya malam. 

 Beralih pembicaraan, saya akan membahas pula Alun-alun Kajen yang telah saya sebut sebelumnya. Kompleks Alun-alun Kajen, ialah sebuah kompleks yang merupakan pusat pemerintahan Kabupaten Pekalongan, yang di dalamnya terdapat tempat-tempat penting diselenggarakannya pemerintahan kabupaten. Jaraknya hanyalah sekitar 2-3 km dari kediaman saya, sehingga saya dapat menuju ke sana dengan mudah, bahkan hanya dengan berjalan kaki sekitar 15 menit saja. Teringat saat masa kecil saya berjalan kaki menuju alun-alun pada hari Minggu bersama rekan-rekan untuk sekadar berkeliling dan menjajal kudapan yang banyak dijual.

Hal paling menonjol di kompleks ini adalah Lapangan Alun-alun yang teramat luas. Kalau mendengar kata orang-orang, mungkin lapangan tersebut adalah alun-alun terluas di Jawa Tengah, walau sepertinya kabar ini tak benar karena mungkin masih banyak alun-alun yang lebih luas lagi. Sekarang, di lapangan terdapat sebuah taman dengan tugu Alquran raksasa di tengah taman itu. 

Jikalau saya mengunjungi alun-alun ini, saya biasanya hanya akan berputar-puter menaiki sepeda motor saya. Saya akan duduk santai menunggu matahari terbenam pula, sembari berangan-angan. Saya juga akan sesekali membeli kudapan yang dijajakan di sekitar kompleks. Sering pula saya bersepeda santai bersama teman saya. Mungkin bagi anak rumahan seperti saya, tak banyak yang dapat dilakukan di tempat seperti ini.

Di sebelah barat alun-alun, terdapat Masjid Agung Almuhtaram. Masjid ini terlihat megah dengan arsitektur Jawa di luar dan Timur Tengah di dalam. Para pengunjung Kompleks Alun-alun Kajen biasanya memarkirkan kendaraan mereka di tempat parkir masjid. Di jalan depan masjid, atau bisa dibilang seluruh ruas Jalan Alun-alun Barat, para penjual kudapan menjajakan dagangan mereka. Di sinilah sebenarnya tujuan utama pengunjung. Mereka dapat menghabiskan uang mereka untuk berbagai kudapan lezat yang beragam.

Di sebelah utara masjid, terdapat Perpustakaan Daerah Kajen. Inilah tempat yang saya tuju dan tempat saya menghabiskan masa luang saya. Koleksi buku-buku di sana, saya pikir, sudah cukup lengkap untuk seukuran perpustakaan daerah di kabupaten. Perpustakaan ini memiliki dua gedung utama. Gedung lama untuk tempat para staf bekerja dan tempat koleksi klasik atau bersejarah, sedangkan gedung baru untuk koleksi buku-buku, majalah, serta tempat komputer untuk kita gunakan.

Beralih pembicaraan lagi, kali ini kita beralih beberapa kilometer, menuju Tugu Duren di arah timur. Tugu Duren, tepatnya Tugu Duren Karanganyar—karena terdapat dua Tugu Duren di Kabupaten Pekalongan—adalah sebuah tugu berbentuk kedua belah tangan menjunjung sebuah durian yang terbuka. Tugu ini berada tepat di tengah perempatan, arah timur menuju Kecamatan Doro—yang memiliki Tugu Duren-nya pula sendiri, arah utara menuju Kecamatan Wonopringgo dan Kedungwuni yang mengarah ke Kota Pekalongan, arah barat menuju pusat Kecamatan Kajen, dan arah selatan menuju Kecamatan Lebakbarang dan Petungkriyono. Kecamatan Karanganyar ialah penghasil durian, bersama dengan Kecamatan Doro. Teringat saya akan perjalanan menuju rumah simbah saya di Kecamatan Doro saat musim durian. Sepanjang jalan Karanganyar-Doro terbentang—tepatnya dari Tugu Duren Karanganyar sampai Tugu Duren Doro—berjejer tenda-tenda menjajakan durian pilihan. Saat musim durian, ruas jalan itu akan terkadang tersumbat akibat banyak orang berhenti saja untuk membeli durian dan menikmatinya di pinggir jalan.

Walau amatlah dekat bila dilihat dari segi jaraknya, memang agaknya jarang saya berkunjung ke rumah simbah saya. Saya mungkin hanya berkunjung saat hari-hari besar tertentu saja, atau saat ayah dan ibu saya luang untuk pergi bersama ke sana. Karena jarangnya saya berkunjung, setiap kunjungannya berarti bagi saya.

Rumah simbah saya terletak di sebuah desa kecil asri bernama Kalimojosari, yang hanya berjarak beberapa kilometer dari Kecamatan Kedungwuni. Di sekeliling rumah terhampar persawahan luas, tempat saya dahulu sering bermain dan berkeliling di sana. Berjalan sedikit, terdapat aliran sungai yang besar, yang merupakan pula tempat saya dahulu sering bermain. Sayang, semenjak sungai tersebut diakuisisi oleh sebuah perusahaan tambang batu dan pasir, sungai tersebut sudah tak asri dan tak layak lagi untuk dijadikan tempat bermain. Memanglah ulah manusia yang merasa mempunyai keseluruhan dunia inilah yang membuat mereka sendiri merasa dirugi.

Beralih beberapa kilometer, tepatnya di Kecamatan Karanganyar, terdapat sebuah jembatan yang tersohor namanya bagi warga Pekalongan. Jembatan itu ialah Jembatan Lolong yang, sesuai namanya, berada di Desa Lolong. Jembatan ini ialah jembatan berbentuk lengkung seperti setengah lingkaran, yang hanya selebar dua sepeda motor. Jembatan ini telah berdiri sejak zaman kolonial Belanda.

Beberapa kali saya melewati jembatan itu bersama teman-teman saya. Di bawah jembatan itu, terdapat tempat wisata untuk arung jeram dan ada pula tempat untuk sekadar bersantai. Salah satu ekstrakurikuler yang saya ikuti saat SMA pernah pula mengadakan acara di sini. Karena asri dan keindahannya, jembatan ini dijadikan inspirasi dari sebuah lagu karya Ebiet G. Ade. Selain kisah indahnya, terdapat sebuah kisah yang dapat dibilang agak horor. Dahulu kala saat perang kemerdekaan, kepala desa setempat memimpin perlawanan terhadap datangnya pasukan Belanda. Namun, ia akhirnya ditangkap dan dibunuh oleh pasukan Belanda. Setelah itu, mayatnya tidaklah disemayamkan, melainkan dibuang begitu saja dari jembatan agar menciptakan rasa takut yang tertanam dalam benak warga desa.

Terakhir, akan saya ceritakan pengalaman saya yang saya pikir paling berarti. Saya ingat betul tanggalnya, yaitu 2 Agustus 2025. Beberapa hari sebelum saya pergi merantau ke Semarang untuk menimba ilmu, ayah saya mengajak saya untuk bersepeda. Memang saat saya tinggal di rumah dahulu, saya dan ayah saya sering bersepeda di akhir pekan—terkadang pada hari Sabtu dan kadang pula pada hari Minggu. Saya tak tahu persis niatan ayah saya untuk mengajak saya bersepeda pada waktu yang seharusnya saya gunakan untuk menyiapkan barang-barang yang akan saya bawa pergi merantau, tetapi mungkin saya menduga bahwa ayah saya mengajak saya bersepeda sebagai bentuk perpisahan. Pagi itu, kami pun mulai bersepeda. Kami melewati rute yang memang kami biasa lalui, yaitu ke arah barat. Tujuan utama kami adalah Bendungan Kaliwadas di Kecamatan Kesesi, yang menjadi batas dengan Kabupaten Pemalang.

Kami bersepeda dengan santai, karena memang kami berdua tak dapat melaju dengan kencang—stamina saya yang cukup sedikit dan juga ayah saya yang sudah berada di usia setengah abad lebih. Bendungan tersebut berjarak sekitar 13 km dari rumah kami, sehingga memang memakan waktu yang cukup lama bagi kami untuk sampai ke sana. Sesampainya di sana, kami hanya berfoto dan istirahat sejenak, lalu kami langsung melanjutkan bersepeda pulang. Sebelum pulang, kami sempatkan untuk sarapan semangkuk bubur ayam di dekat Pasar Kesesi. Setelah sampai di rumah, saya tertidur lelap karena merasa terlalu lelah sehingga persiapan barang-barang untuk merantau harus saya tunda sampai keesokan harinya.

Cukuplah sekian agaknya seluruh pengalaman yang dapat saya bawakan dalam tulisan ini. Pengalaman-pengalaman ini ialah sesuatu yang saya pikir harus selalu kita ingat karena ia adalah pengingat akan memori-memori yang juga tentunya terdapat orang-orang yang kita sayangi atau cintai di dalamnya. Setiap tempat, orang, dan apa pun akan memiliki momen mereka tersendiri dalam memori, walau beberapa mungkin telah berganti, meninggal, ataupun hilang.(*)